4.04.2009

Kiat Kreatif Akuwat Siasati Kelangkaan Minyak Tanah





Rakit Kompor Berbahan Bakar Kayu dari Kaleng Bekas

Kelangkaan minyak tanah (mitan) masih menjadi masalah serius masyarakat. Ini yang membuat Akuwat, warga Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto merakit alat alternatif menggunakan kayu bakar.

AIRLANGGA, Mojokerto

HAWA dingin menyelimuti sebuah rumah di Jl Raya Desa Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Meski demikian, si pemilik rumah, Akuwat, masih terlihat sibuk mengamati kaleng-kaleng bekas yang ada di depan sebuah kios menjahit miliknya.
’’Kaleng-kaleng bekas inilah yang nantinya akan saya buat menjadi kompor berbahan bakar kayu,’’ ujar bapak empat anak ini. Pria berumur lima puluh tahun ini memang selalu menghabiskan waktunya membuat kompor berbahan bakar kayu disamping kegiatan lainnya yakni menjahit dan membuka kios minuman di depan rumahnya.
Kios minuman dan usaha menjahitnya memang selalu tampak ramai karena letaknya yang strategis dekat dengan kawasan mahasiswa. Tidak ada yang menyangka jika diantara kiosnya juga disediakan kompor buatan Akuwat. Kompor yang diklaimnya bisa menjadi alat pembakar alternatif berbahan bakar kayu.
Di depan kios miliknya, hanya terdapat tulisan ’’jual kompor kayu’’ dengan spidol hitam di atas kain putih. Kain berukuran 60 x 30 sentimeter inilah satu-satunya penunjuk bahwa Akuwat menjual kompor buatannya.
Sekilas, tak ada yang istimewa dengan kompor kayu buatan Akuwat ini. Banyak yang bilang, jika kompor yang terbuat dari semen dan abu sekam itu hanya beton biasa. Bentuknya yang mirip beton penyangga tiang, tak menampakkan jika alat ini mampu membuat dua bilah kayu kecil menjadi bahan bakar yang tahan lama.
’’Kalau ingin memasak cukup memasukan kayu bakar dua batang saja ke dalam lubang yang ada di bawah kompor, maka api bisa menyala. Tapi sebelumnya diberi kertas untuk memancing apinya, bisa juga diberi sedikit minyak tanah,’’ jelasnya.
Akuwat mengatakan, dengan dimensi 25x25 sentimeter dan tinggi 35 sentimeter, kompor ini ternyata memiliki kekuatan untuk melipat gandakan api hasil pembakaran kayu. Bahkan, dengan hanya bermodal Rp 6 ribu saja untuk membeli kayu bakar, kompor ini bisa mencukupi kebutuhan memasak skala rumah tangga selama seminggu.
’’Teman saya sudah mencoba menggunakan kompor ini, dan terbukti bisa irit dan tahan lama, hasil pembakarannya juga tidak kalah dengan kompor minyak yang banyak dijual,’’ ujarnya.
Cara penggunaannya pun cukup mudah. Untuk memulai memasak, kita hanya butuh dua bilah kayu berukuran tebal 2 sentimeter dengan panjang 75 sentimeter. Mulailah melakukan pembakaran dengan menggunakan kayu ini melalui lubang kompor yang berdiameter sekitar 9,5 sentimeter itu.
Sekitar dua menit setelah api menyala, panas kompor akan merambat ke seluruh bagian beton yang terbuat dari abu sekam dan semen. ’’Hanya dengan dua kayu kecil ini, kita bisa memasak nasi dan sayur serta menggoreng,’’ terang Akuwat, satu-satunya perajin kompor kayu asal Desa Gayaman.
’’Kalau kompor ini diletakkan di tempat yang bersih, bagian bawahnya diberi alas sebagai tempat abu, sisa pembakaran kayu tadi,’’ tambahnya.
Dia lantas menuturkan alasan kenapa kompor buatannya itu bisa menghemat kayu. Alasannya, panas di dalam kompor tak akan keluar dan membakar beton hasil campuran abu sekam dan semen itu.
Jika sudah menyala kata dia, beton ini akan menghasilkan panas yang terus menerus. ”Kayu ini sebagai pemicu panasnya. Sementara beton, berfungsi untuk mempertahankan panasnya,’’ terangnya.
Dia juga sempat berbagi bagaimana cara membuat penghasil energi alternatif ini. Dengan menggunakan kaleng lem berukuran 25x25x35 sentimeter, dibuatlah lubang dengan diameter 9,5 sentimeter di salah satu sisi kaleng yang berbentuk kotak.
Setelah itu, dibuat adonan semen dan abu dan buatlah lubang di bagian tengah, tembus dengan lubang yang dibuat sebelumnya. ’’Takaran yang tepat, butuh semen 2 kilogram. Sisanya abu sekam. Jika tak tepat takarannya, maka alat ini tak akan berfungsi dengan baik,’’ ujarnya membagi pengalaman.
Akuwat tidak takut jika nanti banyak orang yang menirukan kompor alternatif buatannya. ’’Saya orangnya terbuka, tidak ada yang dirahasiakan jadi tidak masalah kalau banyak yang meniru,’’ ujarnya.
Ia menjelaskan awal mula Akuwat menciptakan kompor buatannya. Bermula saat istrinya mulai kesulitan membeli minyak tanah akibat langka. ’’Kalau pun ada, harganya pasti mahal dan jumlahnya terbatas,’’ ujarnya.
Oleh karena itu, Akuwat pun mulai memeras otak memikirkan bagaimana cara memasak tanpa tergantung dengan minyak tanah.
’’Karena itu, saya mencoba untuk membuat energi alternatif lain. Saat ini, warga sekitar sudah banyak yang menggunakan kompor ini,’’ katanya. Ia mulai membeli kaleng bekas lem kepada kenalannya seharga Rp 10 ribu.
Hanya dengan bermodalkan kaleng tersebut, Akuwat mulai melakukan eksperimennya. ’’Awalnya saya berpikir bagaimana kayu bakar kembali digunakan sebagai bahan bakar, jadi saya buat kompor dari kaleng dan bagian tengahnya saya lubangi sebagai tempat meletakkan kayu bakar,’’ katanya.
Dia menjamin, hanya dengan modal membeli kayu bakar Rp 6 ribu saja, kompor ini bisa memenuhi kebutuhan memasak skala rumah tangga hingga seminggu lebih. Lantaran itu, dia mengaku jika kompor yang dibuat sejak tiga bulan lalu itu, ini mulai diburu warga. ’’Saya menjualnya dengan harga antara Rp 25 ribu sampai Rp 35 ribu,’’ tukasnya. Selain banyak diburu, kini banyak juga warga sekitar yang mulai ikut-ikutan membuat kompor kayu bakar.
Salah satunya adalah kerabat Akuwat sendiri yakni Mujahidin, 37. Di rumahnya yang terletak di Desa Ngarjo, Kecamatan Mojoanyar, Mujahidin juga membuat kompor seperti milik Akuwat. ’’Saya memang belajar dari Akuwat sendiri,’’ terangnya.
Mujahidin juga mengaku jika banyak tetangganya yang juga ikut-ikutan membuat kompor. Bahkan, diantaranya sudah ada yang dilakukan modifikasi. ’’Bagi saya juga tidak ada masalah jika banyak yang mulai meniru, ini juga kan berguna untuk orang banyak,’’ katanya.







Selengkapnya...

3.17.2009

Belajar Beternak Kelinci dari Rahmat Basuki




Berawal dari Hobi, Untung Rp 5 Juta Per Bulan

Beternak kelinci ternyata prospektif jika ditekuni serius. Setidaknya itulah yang dirasakan Rahmat Basuki. Di rumah pria berusia 38 tahun ini, berbagai macam jenis ras kelinci ditangkarkan untuk dikembangbiakkan.

AIRLANGGA, Bangsal

RUMAH bercat kuning yang berada di tepi Jl Raya Bangsal No 20 Kabupaten Mojokerto itu terlihat sepi. Dari luar, rumah bergaya bangunan zaman Belanda ini tampak seperti rumah kebanyakan. Di depan gerbang rumah setinggi dua meter itu, sebuah patung berbentuk induk kelinci bersama lima anak kelinci berdiri dengan sebuah tulisan Martin Pet Farm.
Hanya patung inilah yang menandakan jika rumah milik Rahmat Basuki ini adalah peternakan kelinci. Tidak ada tulisan lain seperti papan nama ataupun papan petunjuk yang menandakan kalau di rumahnya terdapat penangkaran hewan berlambang playboy ini.
Sebuah halaman luas terbentang di belakang rumah. Di tepi halaman tersebut, tiga bangunan masing-masing berukuran 3x5 meter berdiri. Di tempat inilah puluhan kandang yang berisi puluhan kelinci berada. ’’Total kelinci yang ada di sini semuanya 100 ekor induk, itu belum dengan anaknya,’’ ujar lelaki yang telah dikaruniai tiga anak ini.
Rahmat mengaku, tahun 2006 merupakan awal segalanya dia memulai bisnis beternak kelinci. Ia mengatakan, bisnis ternak kelinci ini hanya dilakukannya tanpa sengaja. ’’Dulu saya memang hobi memelihara kelinci, lalu saya berpikir, kenapa tidak dikembangbiakkan saja,’’ ujarnya.
Sejak saat itulah secara perlahan ia mulai mengembangbiakkan kelinci. Karena tidak memiliki background ternak, ia pun mulai belajar dari buku-buku dan bertanya kepada peternak kelinci lainnya. Semakin lama ia pun semakin cinta dengan kelinci. Ia pun terus belajar menggali informasi dari berbagai macam buku, seminar, hingga browsing ke internet.
Kini, ia pun mengembangbiakkan berbagai macam ras kelinci. ’’Hampir seluruh jenis kelinci ada disini, mulai yang terkecil berukuran 7 ons hingga yang besar seperti ukuran kucing,’’ ujarnya. Ras-ras yang ia ternakan antara lain jenis paling mahal dan langka yakni jenis flame, lalu dutch yang berasal dari Belanda, satin, english lob, fuji lob, Himalaya bahkan sampai jenis berbulu seperti karpet yakni jenis rax dan marmut Belgia.
Selain melakukan pengembangbiakan, ia pun terkadang melakukan eksperimen dengan melakukan persilangan antarras kelinci. Hasilnya, berbagai jenis ras unggulan pun berhasil dia silangkan dan menghasilkan kelinci dengan ras baru, seperti rax satin dari persilangan antara kelinci jenis rax dan satin.
Berkat usahanya, ia pun mulai berani memberikan nama usaha ternaknya. ’’Peternakan ini saya beri nama Martin Pet Farm, Martin diambil dari nama jenis kelinci yang sudah langka,’’ ujarnya.
Di peternakan yang merangkap sebagai rumah tinggal seluas setengah hektare ini, sedikitnya 15 ras kelinci hias dan sejumlah ras kelinci lokal untuk konsumsi dikembangbiakkan.
Selain itu juga terdapat beberapa ras lain, yang juga merupakan kelinci ras unggulan. Perawatan kelinci mudah dan murah. Setiap hari kelinci diberi makan dua kali, pada pagi hari dan menjelang malam. Makanannya rumput dan sayuran, wortel dan ubi jalar.
Selain itu ada juga makanan siap saji, berupa pelet makanan kelinci. Jumlahnya minimal satu per lima dari berat badan kelinci. Selain itu, kelinci juga memerlukan banyak minum agar tidak mengalami dehidrasi.
Untuk urusan pakan, kata dia, tak perlu repot. Cukup menyediakan konsentrat (bekatul) atau ampas tahu saja. ’’Ternak kelinci bisa di-sambi. Namun tidak bisa ditinggal lama. Jadi harus dijaga,’’ katanya.
Dia mengatakan, untuk pakan, bisa dilakukan sebanyak dua kali yakni pagi dengan memberikan makanan berupa bekatul dan siang dengan memberikan makan berupa rumput. ’’Untuk kelinci yang melahirkan atau hamil bisa ditambah pada malam hari dengan memberi makan rumput,’’ ujarnya.
Pengembangbiakan kelinci di tempat ini dilakukan secara sederhana. Kelinci diletakkan dalam kandang permanen. Setiap kandang terdiri dari satu pasang. Setelah induk kelinci hamil, dipindahkan ke kandang khusus sampai melahirkan.
Daur mulai dari birahi, hamil dan menyusui hingga siap jual mencapai waktu sekitar empat bulan. Dalam satu periode, kelinci dapat melahirkan anak minimal lima ekor.
Prospek usaha peternakan kelinci cukup menjanjikan. Di pasaran lokal, harga kelinci hias berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu. ’’Paling mahal jenis kelinci flame, harganya berkisar Rp 250 ribu per pasang,’’ ujar Rahmat yang mengaku menjalankan usaha ternak bersama sang istri, Wasiko, 32.
Menurutnya masalah pengetahuan memang masih menjadi problem di dunia perkelincian. Tidak saja dalam hal kelinci, dalam ternak lain pun kebiasaan masyarakat mendapat pengetahuan lebih banyak didapat dari ilmu empiris, turun temurun.
Mungkin saja dalam ternak sapi atau domba masyarakat lebih mudah melakukan karena mereka bisa belajar dari banyak orang. Tetapi menurut Rahmat, untuk kelinci agak berbeda. Hal ini disebabkan tidak banyak yang beternak kelinci secara serius.
Dari situlah Rahmat merekomendasikan agar calon peternak atau pemelihara belajar sungguh-sungguh. Sementara menyangkut masalah keyakinan Rahmat melihat karena kebanyakan orang belum tahu betul seluk-beluk perkelincian. ’’Dulu saya pun tidak banyak tahu. Tetapi setelah telaten dan bertahan beberapa tahun saya tahu di balik potensinya,” ujarnya
Rahmat mengatakan bahwa dalam hal usaha kita harus yakin usaha yang dijalankan seseorang akan berhasil. ’’Kalau baru usaha sebentar gagal lalu tidak melanjutkan, ya pasti saja gagal,” katanya.
Dari beternak kelinci, Rahmat mengaku bisa mengantongi untung per bulan sebesar Rp 5 juta ’’Itu keuntungan kotor, belum dikurangi untuk membiayai pegawai dan pakan ternak,’’ ujar pria yang telah memiliki dua pegawai ini.
Untuk pemasaran ia pun tidak terlalu bingung, sebab setiap harinya, ia selalu kedatangan pelanggan yang membeli kelinci. ’’Sebenarnya saya kewalahan melayani pesanan kelinci. Karena itu terpaksa banyak order yang saya tolak,’’ ujarnya.
Kini, berkat usaha beternak kelinci, ia pun mulai mengembangkan usaha ternaknya dengan beternak burung jenis cucakrawa dan murrai. ’’Kalau ternak burung baru satu tahun berjalan,’’ terangnya.


Selengkapnya...

3.04.2009

Supriyanto, Pria Nekat yang Mengubur Diri Sendiri







Diduga ’’Ngelmu’’, saat Dibongkar Kondisi Tubuhnya Lemas

Cara ganjil Supriyanto, asal Dusun Damarsih, Desa Tanjung Anyar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto untuk mendapatkan ilmu agak aneh. Dia menggali kuburan dan mengubur dirinya hingga menggemparkan warga setempat. Bagaimana ceritanya?

AIRLANGGA, Mojokerto



SUPRIYANTO, 25, asal Dusun Damarsih, Desa Tanjung Anyar, Kecamatan Mojoanyar tiba-tiba menjadi perhatian orang saat di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto. Dia masuk UGD karena ulahnya sendiri yang dinilai tidak lazim. Ia nekat menguburkan dirinya di TPU yang berjarak 500 meter dari rumahnya.
Sekitar setengah jam dirawat, Supriyanto lalu dipindahkan ke ruang rawat inap. Selama dipindahkan, tubuh Supriyanto yang kurus tampak terlihat lemas, matanya sedikit terbuka. Begitu pula saat ia dibaringkan di ranjang, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Tidak ada penjelasan apapun dari dia terkait ulah nekatnya menguburkan diri.
Kapolsek Mojoanyar AKP Sukarni mengatakan hingga saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan motif yang melatarbelakangi Supriyanto melakukan aksi nyleneh-nya. ’’Saat ini ia (Supriyanto, Red) masih belum dapat dimintai keterangan, tubuhnya masih lemas dan dalam perawatan tim medis,’’ terang Sukarni.
Terungkapnya perbuatan nyleneh Supriyanto sendiri bermula saat ada warga sekitar yang curiga melihat makam misterius yang ditemukan dua hari sebelumnya bergerak. Dari dalam tanah seperti ada yang bergerak dan bersuara.
Merasa ada yang janggal, warga lalu melapor ke perangkat desa yakni kepada dusun. ’’Oleh kepada dusun setempat, warga lalu membongkar makam misterius dan menemukan Supriyanto dalam keadaan lemas,’’ terang Sukarni.
Saat ditemukan, Supriyanto mengenakan pakaian serbaputih layaknya jenazah yang dimakamkan. Namun bedanya, Supriyanto yang berkepala pelontos ini mengenakan peci berwarna putih dengan wajah yang tertutup kain putih. Adanya dugaan bahwa Supriyanto ’’ngelmu’’ semakin menguat dengan ditemukannya sebuah kitab suci Alquran di sebelah tubuhnya.
Melihat hal ini, warga akhirnya melapor ke Mapolsek Mojoanyar. Beberapa saat kemudian, petugas dan mobil ambulans yang datang segera membawa Supriyanto ke UGD agar dilakukan perawatan medis.
Supriyanto sendiri di kalangan warga sekitar dikenal sebagai sosok yang pendiam. Sehari-harinya jarang dilewatkan di dalam rumah. ’’Dia jarang ada di rumah, kalau datang paling-paling hanya malam hari saja,’’ terang Sunadi, 51, tetangga sebelah rumah Supriyanto.
Tetangganya juga sering melihat Supriyanto berangkat ke musala untuk beribadah. Supriyanto sendiri adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Ibu kandungnya sudah lama meninggal. Di rumah, Supriyanto tinggal bersama ayahnya bernama Tajib, 50 dan dua saudaranya yakni Muji dan Yuyun.
’’Selama ini ia (Supriyanto, Red) tidak bekerja, sehari-harinya hanya berkumpul dengan orang-orang tua, tapi tidak tahu siapa, kalau berkumpul dengan pemuda sini tidak pernah sama sekali, bahkan ke warung sebelah rumah pun jarang,’’ terang tetangga Supriyanto lainnya.
Hal senada juga diungkapkan Toni, 19, tetangga Supriyanto. ’’Dia memang kurang bergaul dengan anak sini, saya sendiri tidak begitu kenal dengan dia, anaknya pendiam,’’ ujar Toni. Supriyanto diperkirakan berada di dalam makam selama semalam.
Sunadi mengatakan kalau saat ditemukannya makam misterius, Supriyanto berada di dalam rumah. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih menyelidiki apakah ada yang membantu Supriyanto melakukan aksinya. ’’Tidak mungkin ia mengubur seorang diri, pasti ada yang membantu, yang jelas pihak kepolisian masih melakukan pengusutan,’’ terang kapolsek.
Makam yang menggemparkan itu ditemukan Selasa (24/2) lalu. Warga penasaran karena menurut mereka warga sekitar tidak ada yang meninggal.
Penemuan makam misterius ini kali pertama ditemukan oleh juru kunci makam bernama Karnaku. ’’Awalnya di sini tidak ada makam seperti ini, sekitar pukul 08.00 setelah saya mengantarkan cucu saya ke sekolah, saya melihat ada makam baru,’’ terangnya.
Karena penasaran, ia pun melapor ke kepala dusun setempat. Oleh perangkat desa, kasus ini kemudian dilaporkan ke Mapolsek Mojoanyar.
Kabar munculnya makam misterius ini dalam waktu singkat menyita perhatian warga sekitar. Tidak hanya itu, warga lain desa pun mendatangi lokasi karena penasaran dengan makam misterius. Menurut Karnaku, ia tidak melihat ada orang mencurigakan pada malam hari yang mendatangi makam.
Makam misterius tersebut berada sekitar seratus meter dari pintu makam. Bagian tanah masih terlihat basah seperti baru dibuat. Dibagian atas makam, terdapat kendi dan taburan bunga.
Dari nisan tertulis nama Abdul Toib yang lahir pada tanggal 11 Desember 1925 dan meninggal pada tanggal 20 Februari 2009. Tulisan yang dibuat diatas kertas tersebut dilapisi plastik bundar berdiameter 2 sentimeter berwarna hijau.

Selengkapnya...

2.20.2009

Oke Band, Grup Musik yang Digawangi Personel Tunanetra









Bangga, Ortu Tak Segan Belikan Alat Musik Sendiri

Keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk kreatif. Contohnya para murid SDLB Negeri Mojosari Kabupaten Mojokerto yang mahir bermain musik meskipun personelnya cacat fisik.


AIRLANGGA,Mojokerto

SELASA (17/2) sekitar pukul 08.00, suasana halaman sekolah SDLB Seduri lain dari biasanya. Dari pintu masuk, sayup-sayup suara alunan musik terdengar dari kejauhan. Suara drum dan gitar terdengar saling bersahut-sahutan membentuk irama lagu yang menembus dinding sekolah yang memiliki corak berwarna-warni.
Beberapa anak sekolah berseragam putih merah tampak bergerombol di depan kelas. Sesekali mereka tertawa girang sambil menggerak-gerakkan tangannya mengikuti irama lagu yang dimainkan tujuh orang dari dalam kelas.
Keenam laki-laki serta satu orang perempuan tersebut tampak serius memainkan alat musik dan bernyanyi. Sebuah lagu berjudul Satu Jam Saja dari grup musik ST 12 dimainkan ketujuh pemain musik asuhan SDLB Seduri ini saat berlatih.
Jika mendengar band bernama Oke Band ini akan menyangka kalau mereka adalah pemain band profesional. Namun, jika melihat penampilan mereka, setiap orang pasti akan takjub dan simpati karena keseluruhan personel Oke Band ini memiliki penyandang cacat fisik.
Januar Eko Prasetyo, 18 yang memainkan drum, Muhammad Muslik yang memainkan keyboard; Heru, 20, pemain bass; Agung Tri Utomo sebagai pemain melodi; Agus Yuliawati pemain tamborine serta penyanyi perempuan bernama Urnia Wardani, 16 adalah seorang tunanetra sedangkan penyanyi pria bernama Suyadi, 30, adalah seorang tunadaksa.
Tidak ada perasaan canggung bagi ketujuh anak band cacat ini. Mereka selalu membuktikan bahwa penyandang cacat bisa melakukan sesuatu dan berkarya layaknya orang lain.
Salah seorang orang tua siswa, Iva Silvia, 40, mengatakan, dirinya sagat bangga jika menyaksikan anaknya, Januar Eko bermain musik. ’’Ya jelas senang, karena dia terlihat percaya diri, saya selalu datang kalau Januar tampil,’’ terang warga Dusun Celangat, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini.
’’Dulu anak saya memang senang bermusik, selalu mengiringi penyanyi-penyanyi saat manggung,’’ tambahnya. Untuk mendukung latihan anaknya, Iva pun bersedia merogohkan kocek untuk membeli sendiri alat musik. ’’Harganya tidak terlalu mahal, yang penting bakat anak saya bisa tersalurkan,’’ katanya.
Hal senada juga disampaikan Lilik Azah, 40, ibu dari Urnia Wardani atau yang selalu dipanggil Lia. ’’Setiap kali latihan ke sini selalu saya yang antar, saya senang melihat anak saya menyanyi, suaranya juga lumayan,’’ terang warga Ngoro, Jombang ini.
Lia adalah satu-satunya perempuan di band ini. Ia sendiri baru dua kali mengikuti latihan di SDLB Seduri ditengah-tengah kesibukannya menjadi siswi di MTs Pulorejo, Ngoro, Jombang.
Lia sendiri bukanlah penyandang tunanetra sejak lahir. Ia menjadi tunanetra sejak berumur 9 tahun akibat penyakit yang dideritanya. ’’Sebelumnya ia sakit tumor otak hingga akhirnya mengalami kerusakan pada matanya,’’ ujar Lilik sambil memegang sebuah ponsel yang digunakannya merekam suara merdu putri kedua dari tiga bersaudara ini. Namun meski begitu, Lia tampak menghayati lagu yang dinyanyikannya.
Meski menyandang tunanetra, anggota personel Oke Band juga selalu menunjukkan prestasinya. Sang keyboardis, Muslik misalnya, ia tercatat pernah menjuarai mata pelajaran Matematika tingkat Jatim, juara mata pelajaran IPS tingkat Jatim, juara catur tunanetra tingkat Jatim, serta juara harapan catur tingkat nasional.
Oke Band sendiri bukanlah hanya sebuah nama. Melainkan memiliki filosofi tersendiri bagi anggotanya. Oke band adalah akronim dari ’’Ora Ketok Band’’ dari bahasa jawa yang kalau diartikan menjadi bahasa Indonesia menjadi tidak melihat.
’’Ini karena hampir seluruh pemainnya penyandang tunanetra, nama ini bisa menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkarya dan menunjukkan potensi yang kami miliki,’’ terang Muslik.
Kepala Sekolah SDLB Seduri sekaligus pelatih grup band ini, Purnomo, mengatakan, dirinya sangat bangga jika bisa melihat anak didiknya mahir memainkan alat musik dan bernyanyi. ’’Awalnya mereka memang sudah memiliki bakat dan kemauan yang keras, saya hanya memolesnya saja,’’ terangnya.
Ia sendiri sangat serius saat melatih anak didiknya. Tak jarang ia menghentikan permainan anak didiknya saat terdapat kekeliruan nada atau ada irama yang kurang pas.
Purnomo mengatakan, dirinya berusaha melatih sebaik mungkin anak didiknya hingga mahir memainkan alat musik dan tampil kompak. ’’Latihannya sebulan dua kali mulai pukul 8 pagi sampai 12 siang,’’ terangnya.
Materi latihannya pun sangat variatif dari lagu dangdut, pop hingga campursari. ’’Setiap pemain sudah memiliki bahan lagu yang akan dimainkan, jadi saat berlatih tidak canggung lagi,’’ terangnya.
Meski demikian, hambatan juga harus dihadapi oleh SDLB yang mendidik Oke Band. ’’Kendalanya yakni peralatannya, sebagian peralatan ini kami dapatkan sendiri dengan cara menyicil satu demi satu, untungnya kami juga mendapat bantuan dari dinas sosial berupa drum, melodi, gitar dan bass,’’ terang Purnomo yang juga mahir bermain keyboard.
Purnomo juga berharap bisa menambah lagi peralatan untuk bisa menunjang latihan anak didiknya. Salah satunya adalah sound system yang dirasa kurang. ’’Sound system di sini hanya ada dua, kalau mau lebih baik ya ada empat,’’terangnya.
Ia juga berharap ada pihak lain yang mengundang band ini mempertunjukkan kebolehannya bermain musik. ’’Kami akan coba koordinasi dengan pihak desa-desa atau pun kecamatan, kalau ada acara mungkin bisa mengundang anak didik kami,’’ ujar Purnomo.





Selengkapnya...

2.10.2009

Melongok Pengaturan Debit Air Sungai Brantas di Musim Penghujan








Setiap Jam Periksa Debit Air, 24 Jam Selalu Siaga

Hujan deras yang turun beberapa hari belakangan ini memang membuat pihak Jasa Tirta I bekerja lebih ekstra mengatur air di Sungai Brantas. Seperti apakah kerja serta peran Jasa Tirta I. Bagaimanakah cara kerja Jasa Tirta I mengatur arus air di Sungai Brantas agar tidak terjadi banjir di Mojokerto?


AIRLANGGA, Mojokerto


RUANGAN lantai dua kantor Perum Jasa Tirta I yang berada di Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kecamatan Mojokerto terasa sepi. Di ruangan berukuran 8x10 meter ini, hanya ada dua penjaga yang selalu mengawasi Sungai Brantas.
Jika dilihat dari ruangan ini, pintu air sungai brantas yang menjadi salah satu objek vital di Mojokerto terlihat jelas. Maklum saja, di ruangan ini memang berfungsi sebagai pemantau dan ruang kontrol pintu arus air Sungai Brantas.
Dua petugas masing-masing bernama Susilo dan Soleh terlihat sangat serius mengamati alat panel kontrol yang berada di sebelah kiri pintu masuk ruan kontrol. Alat berukuran 5x3 meter ini merupakan alat utama yang berfungsi untuk pengaturan arus air, buka tutup pintu air dan mengetahui kletinggian elevasi maupun debit air.
’’Debit air sungai saat ini normal, sekitar 470 kubik per detik, angka ini merupakan angka yang menunjukkan kalau debit air normal, berbeda dengan tiga hari lalu,’’ ujar Susilo yang ditemui sekitar pukul 14.00. Susilo memang bisa sedikit bernafas lega jika dibandingkan dengan tiga hari lalu yakni pada tanggal 2 Februari 2009. saat itu, Debit air menunjukkan angka 1072 kubik per detik. Angka yang menjadikan status Sungai Brantas menjadi siaga merah atau siaga banjir. ’’Tapi setelah itu angka terus menurun dan sudah tidak lagi menjadi status siaga,’’ tambah Susilo.
Peranan Jasa Tirta memang bisa dibilang vital dalam pengaturan air sungai. Maklum saja, air sungai banyak dibutuhkan oleh seluruh masyarakat. Baik itu untuk industri, irigasi, PDAM, PLTA dan pemeliharaan lingkungan. Bahkan, hampir 80 persen pengairan Sungai Brantas digunakan untuk sistem irigasi oleh petani.
Kepala Sub Divisi Air dan Sumber Air Perum Jasa Tirta I, Zainal Alim mengungkapkan, air sungai perlu dilakukan pengaturan agar bisa menguntungkan semua pihak. ’’Air perlu dikelola secara bijak, harus diperhatikan baik kualitas maupun kuantitasnya, kalau air terlalu banyak bisa merugikan dan kalau air sedikit juga sangat merugikan,’’ ujar Zainal.
Baik musim hujan maupun kemarau, Jasa Tirta memang selalu selalu bekerja ekstra keras. Zainal Alim mengatakan, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengaturan air, yakni suplai atau ketersediaan air atau kebutuhan air.
Jika musim kemarau, Jasa Tirta harus pintar-pintar melakukan pengaturan air agar bisa dimanfaatkan oleh semua pihak. Ia mencontohkan, jika musim kemarau, air bisa sangat berkurang. ’’Meski kemarau, air tetap dibutuhkan oleh masyarakat, untuk itu dibutuhkan manajemen pengaturan air agar kebutuhan air bisa tercukupi,’’ ungkapnya.
Untuk itu, ia selalu berusaha melakukan koordinasi dengan berbagai instansi dengan melakukan rapat pengaturan tata pengaturan air. ’’Tujuannya agar masyarakat pengguna air bisa paham berapa air yang tersedia dan berapa kebutuhan yang harus dicukupi,’’ katanya.
Sama halnya dengan musim kemarau, disaat musim hujan, limpahan air di Sungai Brantas pun harus diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi luapan dan banjir. Pengaturan tersebut dilakukan dengan membuka tutup pintu air yang ada di beberapa tempat. Yakni di pintu air Sungai Brantas Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, pintu air Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto dan beberapa pintu air lainnya.
Dengan adanya pola alokasi air atau manajemen pengaturan arus Sungai Brantas, warga Mojokerto tidak perlu merasa resah terjadinya banjir yang diakibatkan hulu sungai. ’’Semua sudah diatur setiap saat dengan mengalihkan arus sungai di pintu air Desa Mlirip,’’ katanya.
Pihak Jasa Tirta juga selalu melakukan pemeriksaan ketinggian debit air setiap jamnya. ’’Debit air perlu dilakukan pengecekan agar bisa diketahui apa status sungai, sehingga dengan diketahui statusnya, ada antisipasi dini terjadinya sesuatu,’’ ungkap Zainal. Untuk menegtahui jumlah debit air, ada alat di ruangan panel kontrol yang langsung mencatat ketinggian air.
Di alat ini, terdapat tiga lampu yakni merah, kuning dan hijau yang menunjukkan status sungai. ’’Kalau statusnya merah, lampu merah akan menyala, begitu juga seterusnya,’’ ungkapnya.
Dijelaskannya, ada tiga kriteria penetapan status siaga di Sungai Brantas. Yakni siaga hijau jika ketinggian debit air mencapai 750 meter kubik per detik, siaga kuning jika ketinggian debit air mencapai 850 meter kubik per detik dan siaga merah jika debit air lebih dari 950 meter kubik per detik.
Alat tersebut juga terdapat tombol pembuka dan menutup air. Secara total, dipintu air Brantas terdapat delapan pintu yang berfungsi untuk mengatur arus air. ’’Makanya pintu air ini bisa dibilang alat vital, karena disinilah kunci yang bisa mencegah Kota Mojokerto dan sekitarnya dari banjir, kalau musim hujan tidak dibuka, maka banjir besar pasti datang,’’ katanya.
Dalam melakukan sistem pengaturan air, pihak Jasa Tirta sendiri juga dibantu masyarakat dengan menerapkan sistem early warning system yakni sistem peringatan dini berbasis masyarakat.
Yakni dengan meletakkan alat yang bisa memantau status perairan sungai. Alat tersbeut dipasang di beberapa anak Sungai Brantas yakni Sungai Sadar, Sungai Marmoyo,Sungai Kambing,Sungai Brangkal dan Sungai Porong. ’’Di sungai Porong ada tujh unit alat karena ditempat ini merupakan tempat pembuangan banjir,’’ katanya.
Alat-alat ini dirawat sendiri oleh masyarakat sekitar. Sehingga sistem ini memang berbasis masyarakat. ’’Masyarakat diberikan fasilitas seperti ponsel dan pulsa agar bisa memberikan informasi secepatnya kepada kita, setelah itu akan dilakukan koordinasi dan petugas juga akan mendatangi lokasi jika ada sesuatu,’’ kata Zainal Alim.


Selengkapnya...