4.11.2009

Saat Pemilih Tunanetra Ikut Nyontreng Pemilu 2009





Tak Ada Kertas Braille, Bingung di TPS, Pilih Pulang

Pemilu 2009 ini rupanya juga mengundang antusias pemilih tunanetra di Mojokerto ikut berpartisipasi. Banyak kendala yang dialami para penyandang tunanetra ini saat memilih calon wakil rakyat.


AIRLANGGA, Mojokerto



SEJAK pagi, Heru sudah bersiap di ruang tamu menunggu orang tuanya yang masih bersiap diri. Dengan raut muka yang datar, Heru tampak tenang duduk di sudut sofa. Hari itu, merupakan kali pertama pemuda berusia 22 tahun ini mengikuti pemilihan umum (pemilu) sepanjang hidupnya.
Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya Heru mulai beranjak setelah dituntun oleh Suyono, 49, Heru mulai melangkahkan kakinya melewati gang sempit. Sepanjang satu kilometer, Heru dan ayahnya berjalan menuju TPS 4 yang ada di Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Mojosari.
Selama perjalanan, Heru terlihat sudah hafal dengan jalan yang dilaluinya meski ia berjalan tidak lebih cepat dari orang kebanyakan.
Setelah kurang lebih sepuluh menit berjalan, sampailah Heri di sebuah tanah lapang yanga da di sebelah rumah warga. Di sana, tenda berwarna biru terpasang dengan papan bertuliskan TPS 4 berdiri di depannya.
Heru dan ayahnya langsung disambut petugas Linmas yang berpakaian lengkap serbahijau. Layaknya penerima tamu, petugas Linmas berusia sekitar 50 tahun tersebut meminta surat undangan yang dibawa Heru.
Setelah diberikan, Heru pun dituntun menuju kursi lipat yang ada di sebelah timur. Di sana, ia disuruh menunggu namanya disebut oleh panitia yang sudah menerima surat undangan dari Heru.
Dengan sabar sambil duduk dikursi, Heru mulai mendengarkan satu persatu nama warga yang dipanggil. Ia masih menunggu namanya dipanggil oleh panitia.
Tidak beberapa lama kemudian, tibalah nama Heru dipanggil melalui pengeras suara. Saat Heru mulai beranjak dari kursinya, tampak panitia terlihat kebingungan bagaimana cara Heru memilih sesuai prosedur.
Terdengar suara diskusi antara panitia disebelah kanan meja panitia. Namun diskusi tersbeut tidaklah berlangsung lama. Kesepakatan antara panitia dan saksi-saksi pun sudah dibuat.
Akhirnya, dengan didampingi seorang panitia yang ditunjuk, Heru masuk ke dalam bilik suara. Di sana, ia mulai mencontreng calon legislatif yang dipilihnya menggunakan tinta merah.
’’Saya memang sudah mempunyai calon yang saya pilih sebelumnya,’’ ujar pemuda yang menyandang tunanetra sejak berumur empat bulan ini. Pemuda yang mencoba memulai usaha memijat di rumahnya ini pun menceritakan, meski ia tidak bisa melihat, tapi ia bisa mengetahui calon-calon mana saja yang menurutnya pantas dipilih.
’’Sekarang ini banyak media yang bisa digunakan untuk mengenal calon wakil rakyat, seperti televisi atau pun radio,’’ ujarnya. ’’Saya memilih calon yang terkenal dan menurut saya bisa mengubah bangsa,’’ katanya.
Banyak hambatan bagi Heru saat mengikuti proses pemilu. Ia mengeluhkan, tidak disediakannya surat suara dengan huruf braille yang bisa dibaca oleh penderita tunanetra. Namun ia juga berterima kasih kepada panitia yang mengantar ia menuju bilik suara.
Heru adalah salah satu diantara sekian penderita tuna netra yang memberikan hak pilihnya.
Penderita tunanetra lainnya, Muhammad Muslich, 20, mungkin sedikit beruntung. Dia terbantu karena di TPS Dusun Pandansari, Desa Sumberagung, Kecamatan Mojosari tempat ia memilih, panitia sudah menyediakan surat suara bertuliskan huruf braille sehingga Muslich bisa membaca nama calon yang dipilihnya.
’’Tapi yang ada huruf braille hanya kartu DPD, sedangkan kartu DPR dan DPRD kartu biasa,’’ ujarnya. Berbeda dengan Heru yang harus didampingi panitia saat memilih, Muslich mengaku dirinya tidak didampingi karena ia merasa bisa melakukan sendiri.
Pemuda yang mahir bermain organ ini mengaku, banyaknya partai dan anggota calon legislatif sempat membuatnya bingung dalam memilih. Tapi ia sebenarnya sudah memiliki calon yang akan dipilihnya. ’’Ya tidak mungkin saya beritahu, karena kan rahasia,’’ ujarnya.
Hal senada juga dialami oleh Agung Prasetyo, 19. Pemuda penyandang tunanetra ini juga mengaku, tidak mendapatkan huruf braille saat memilih. Tapi, ia didampingi salah satu panitia. ’’Untungnya ada panitia yang membantu mencontrengkan caleg yang saya minta,’’ katanya.
Berbeda lagi dengan Eko Prasetyo, 18. Pemuda yang berasal dari Desa Penompo, Jetis ini secara terang-terangan mengaku tidak memilih karena merasa bingung akibat banyaknya pilihan di kartu suara. Padahal, ia sendiri sudah hadir dan masuk di bilik suara. ’’Karena bingung, akhirnya saya pulang saja,’’ katanya sambil sedikit tersenyum. Saat dibilik suara, ia sendiri tidak mendapatkan surat suara dengan huruf braille, tapi ia mengaku didampingi oleh panitia.
Eko juga mengaku sebelumnya tidak pernah mengikuti sosialisasi pemilu sehingga ia sendiri kebingungan saat memilih di bilik suara
Sementara itu, Ketua PPK Mojosari, Musafir mengatakan, bagi pemilih penyandang tunanetra yang didampingi panitia pemilih sudah sesuai prosedur. ‘’Sebenarnya di tiap PPS disediakan surat suara bertuliskan huruf braille, tapi surat suara tersebut hanya untuk memilih DPD saja, sedangkan DPR RI dan DPRD surat suara biasa,’’ terangnya.
Dijelaskannya, seharusnya Ketua RT atau perangkat desa setempat melakukan pendataan pemilih yang memiliki penyandang tunanetra. ’’Setelah itu dilaporkan ke PPS setempat untuk meminta surat suara huruf braille,’’ ujarnya.

Selengkapnya...

4.09.2009

Perajin Kuda-Kudaan Kayu Bersaing Mainan Modern




Pesanan Meningkat, Masih Jadi Langganan Pelajar TK

Jenis permainan digital seperti playstation, nintendo ataupun game ternyata tak menggerus permainan tradisional. Permainan kuda-kudaan dari kayu misalnya, masih bertahan. Bagaimanakah perajinnya eksis bersaing?


AIRLANGGA, Mojokerto



SEORANG pria tampak serius memahat bongkahan kayu randu menggunakan palu dan alat pemahat. Sesekali kedua matanya mengamati bongkahan kayu yang hampir menyerupai bentuk kepala kuda, hanya saja tidak ada bentuk mata dan kuping.
Kedua tangannya terus memegang kayu tersebut untuk melihat apakah kayu yang dipahatnya sudah serasi antara bagian kanan dan kiri.
Di sekelilingya, puluhan kayu berbentuk kuda-kudaan yang setengah jadi terpajang. Sekitar dua meter dari situ, sepuluh kuda-kudaan beraneka warna yang sudah jadi dipasang untuk menarik pembeli.
Suman Wibowo, itulah nama lengkap perajin mainan kuda-kudaan yang terbuat dari kayu ini. Pria yang lahir 57 tahun lalu ini mengaku sudah 19 tahun menjadi perajin kuda-kudaan. ’’Saya memulai membuat kuda-kudaan ini pada tahun 1990 lalu,’’ ujar bapak satu anak dan dua cucu ini.
Sambil menyelesaikan kuda-kudaannya, Suman, panggilan akrabnya mulai menceritakan ia memulai menjadi pengrajin mainan anak ini. ’’Dulu, pada awal tahun 1990, di depan rumah ada pasar malam kebetulan pesertanya membawa mainan kuda-kudaan yang banyak, akhirnya saya membeli sebagian untuk dijual,’’ ujarnya.
Suman yang awalnya hanya ingin menjual kuda-kudaan yang dibelinya akhirnya seolah-olah mendapat inspirasi. ’’Kalau kita bisa membuat kenapa tidak dicoba,’’ ujarnya. Hanya dengan bermodalkan nekat dan keinginan yang kuat, ia pun membeli bahan mentah beruap kayu randu dari Malang. Dari situ, ia mulai melakukan eksperimen membuat mainan seperti kuda-kudaan yang dibelinya dari pasar malam.
Setelah beberapa kali melakukan percobaan, ia berhasil menciptakan mainan kuda-kudaan dengan bentuk yang sempurna.
Saat itulah ia memutuskan secara total menekuni dunia kerajinan mainan anak-anak. Merasa ada peluang yang lebih baik, Suman pun secara perlahan meninggalkan pekerjaannya sebagai petani. ’’Saya bosan menjadi petani, kalau menjadi perajin mainan seperti ini sepertinya prospeknya lebih bagus,’’ katanya.
Awalnya, barang yang ia produksi tidak banyak karena Suman mengaku masih belum berani memproduksi kuda-kudaan dalam jumlah banyak dengan alasan masih perlu perkenalan ke pasar.
Barang yang diproduksinya pun ia jajakan dengan berkeliling ke setiap TK (Taman Kanak-Kanak) di seluruh Kabupaten Mojokerto.
Rupanya tawaran produk yang dikenalkan pria asli Mojokerto ini disambut baik oleh seluruh TK di Kabupaten Mojokerto. ’’Setelah itu banyak yang datang ke rumah saya memesan kuda-kudaan,’’ ujarnya dengan sumringah. Pesanan pun setiap harinya selalu meningkat dari tiap bulannya.
Dengan dibantu menantunya, Agus Rianta, Suman mengerjakan kuda-kudaan mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.00. Suami dari Rubiah, 51, ini mengaku, setiap harinya ia bisa memproduksi tiga hingga lima buah kuda-kudaan. ’’Satu buah kuda-kudaan memakan waktu produksi hingga tiga hari karena saya hanya dibantu oleh menantu saya,’’ ujarnya.
Untuk proses pengerjaannya pun tidak lah terlalu sulit, namun hanya butuh keterampilan dan keuletan saja terutama dalam membuat bentuk kuda-kudaan. ’’Yang pertama-tama dilakukan yakni membentuk kayu randu dan kemiri menjadi bentuk kuda-kudaan, tahap awal yang dikerjakan bagian kepala dulu karena lebih rumit, caranya tentu saja dipotong mengikuti pola’’ ujarnya.
Setelah itu, kayu dengan bentuk setengah jadi dihaluskan terlebih dahulu dan didempul. ’’Setelah itu dicat, untuk pengecatan dilakukan dua kali,’’ terangnya. Setelah diberikan pewarnaan tahap awal, kuda-kudaan tersebut dijemur selama satu hari dan kemudian kembali dicat tahap akhir.
Setelah jadi, produk Suman ini setiap hari dipajang di show room kecilnya yang lokasinya sangat strategis di Jalan Raya Bangsal tepatnya di depan Pasar Sawahan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto yang juga jalur utama Mojokerto-Pasuruan.
Harga produk Suman ini sangat kompetitif, untuk kuda-kudaan yang kecil dibandrol harga Rp 110 ribu, untuk yang ukuran sedang mulai harga Rp 125 ribu sampai Rp 140 ribu dan untuk ukuran kuda-kudaan yang besar berbandrol Rp 250 ribu.
Setiap produk yang dihasilkannya, Suman mengaku mendapatkan keuntungan mencapai Rp 75 ribu. Jika dihitung, selama satu bulan, Suman mengaku bisa mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp 2,5 juta perbulannya. ’’Biaya produksi untuk satu unit kuda-kudaan mencapai Rp 85 ribu,’’ ujarnya.
Selain di Mojokerto, ia juga memasarkan produknya hingga ke Sidoarjo. ’’TK-TK di sana tertarik untuk membeli kuda-kudaan produksi saya,’’ ujarnya. Ia juga mengatakan, saat musim ajaran tahun baru, pesanan kuda-kudaan kepadanya bisa meningkat sepuluh kali lipat. ’’Saya terpaksa lembur dengan menantu saya,’’ katanya.
Suman mengaku, produksinya tidak terpengaruh dengan maraknya mainan modern yang kini digandrungi anak-anak. ’’Alhamdulillah, produksi saya tidak pernah menurun,’’ ujarnya.
Meski demikian, ia mengaku mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah untuk memajukan usaha kecilnya. ’’Kalau bisa ada tambahan modal karena saya ingin menambah pasar hingga ke luar kota seperti Lamongan, Madiun dan Jombang,’’ katanya.
Selengkapnya...

4.04.2009

Kiat Kreatif Akuwat Siasati Kelangkaan Minyak Tanah





Rakit Kompor Berbahan Bakar Kayu dari Kaleng Bekas

Kelangkaan minyak tanah (mitan) masih menjadi masalah serius masyarakat. Ini yang membuat Akuwat, warga Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto merakit alat alternatif menggunakan kayu bakar.

AIRLANGGA, Mojokerto

HAWA dingin menyelimuti sebuah rumah di Jl Raya Desa Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Meski demikian, si pemilik rumah, Akuwat, masih terlihat sibuk mengamati kaleng-kaleng bekas yang ada di depan sebuah kios menjahit miliknya.
’’Kaleng-kaleng bekas inilah yang nantinya akan saya buat menjadi kompor berbahan bakar kayu,’’ ujar bapak empat anak ini. Pria berumur lima puluh tahun ini memang selalu menghabiskan waktunya membuat kompor berbahan bakar kayu disamping kegiatan lainnya yakni menjahit dan membuka kios minuman di depan rumahnya.
Kios minuman dan usaha menjahitnya memang selalu tampak ramai karena letaknya yang strategis dekat dengan kawasan mahasiswa. Tidak ada yang menyangka jika diantara kiosnya juga disediakan kompor buatan Akuwat. Kompor yang diklaimnya bisa menjadi alat pembakar alternatif berbahan bakar kayu.
Di depan kios miliknya, hanya terdapat tulisan ’’jual kompor kayu’’ dengan spidol hitam di atas kain putih. Kain berukuran 60 x 30 sentimeter inilah satu-satunya penunjuk bahwa Akuwat menjual kompor buatannya.
Sekilas, tak ada yang istimewa dengan kompor kayu buatan Akuwat ini. Banyak yang bilang, jika kompor yang terbuat dari semen dan abu sekam itu hanya beton biasa. Bentuknya yang mirip beton penyangga tiang, tak menampakkan jika alat ini mampu membuat dua bilah kayu kecil menjadi bahan bakar yang tahan lama.
’’Kalau ingin memasak cukup memasukan kayu bakar dua batang saja ke dalam lubang yang ada di bawah kompor, maka api bisa menyala. Tapi sebelumnya diberi kertas untuk memancing apinya, bisa juga diberi sedikit minyak tanah,’’ jelasnya.
Akuwat mengatakan, dengan dimensi 25x25 sentimeter dan tinggi 35 sentimeter, kompor ini ternyata memiliki kekuatan untuk melipat gandakan api hasil pembakaran kayu. Bahkan, dengan hanya bermodal Rp 6 ribu saja untuk membeli kayu bakar, kompor ini bisa mencukupi kebutuhan memasak skala rumah tangga selama seminggu.
’’Teman saya sudah mencoba menggunakan kompor ini, dan terbukti bisa irit dan tahan lama, hasil pembakarannya juga tidak kalah dengan kompor minyak yang banyak dijual,’’ ujarnya.
Cara penggunaannya pun cukup mudah. Untuk memulai memasak, kita hanya butuh dua bilah kayu berukuran tebal 2 sentimeter dengan panjang 75 sentimeter. Mulailah melakukan pembakaran dengan menggunakan kayu ini melalui lubang kompor yang berdiameter sekitar 9,5 sentimeter itu.
Sekitar dua menit setelah api menyala, panas kompor akan merambat ke seluruh bagian beton yang terbuat dari abu sekam dan semen. ’’Hanya dengan dua kayu kecil ini, kita bisa memasak nasi dan sayur serta menggoreng,’’ terang Akuwat, satu-satunya perajin kompor kayu asal Desa Gayaman.
’’Kalau kompor ini diletakkan di tempat yang bersih, bagian bawahnya diberi alas sebagai tempat abu, sisa pembakaran kayu tadi,’’ tambahnya.
Dia lantas menuturkan alasan kenapa kompor buatannya itu bisa menghemat kayu. Alasannya, panas di dalam kompor tak akan keluar dan membakar beton hasil campuran abu sekam dan semen itu.
Jika sudah menyala kata dia, beton ini akan menghasilkan panas yang terus menerus. ”Kayu ini sebagai pemicu panasnya. Sementara beton, berfungsi untuk mempertahankan panasnya,’’ terangnya.
Dia juga sempat berbagi bagaimana cara membuat penghasil energi alternatif ini. Dengan menggunakan kaleng lem berukuran 25x25x35 sentimeter, dibuatlah lubang dengan diameter 9,5 sentimeter di salah satu sisi kaleng yang berbentuk kotak.
Setelah itu, dibuat adonan semen dan abu dan buatlah lubang di bagian tengah, tembus dengan lubang yang dibuat sebelumnya. ’’Takaran yang tepat, butuh semen 2 kilogram. Sisanya abu sekam. Jika tak tepat takarannya, maka alat ini tak akan berfungsi dengan baik,’’ ujarnya membagi pengalaman.
Akuwat tidak takut jika nanti banyak orang yang menirukan kompor alternatif buatannya. ’’Saya orangnya terbuka, tidak ada yang dirahasiakan jadi tidak masalah kalau banyak yang meniru,’’ ujarnya.
Ia menjelaskan awal mula Akuwat menciptakan kompor buatannya. Bermula saat istrinya mulai kesulitan membeli minyak tanah akibat langka. ’’Kalau pun ada, harganya pasti mahal dan jumlahnya terbatas,’’ ujarnya.
Oleh karena itu, Akuwat pun mulai memeras otak memikirkan bagaimana cara memasak tanpa tergantung dengan minyak tanah.
’’Karena itu, saya mencoba untuk membuat energi alternatif lain. Saat ini, warga sekitar sudah banyak yang menggunakan kompor ini,’’ katanya. Ia mulai membeli kaleng bekas lem kepada kenalannya seharga Rp 10 ribu.
Hanya dengan bermodalkan kaleng tersebut, Akuwat mulai melakukan eksperimennya. ’’Awalnya saya berpikir bagaimana kayu bakar kembali digunakan sebagai bahan bakar, jadi saya buat kompor dari kaleng dan bagian tengahnya saya lubangi sebagai tempat meletakkan kayu bakar,’’ katanya.
Dia menjamin, hanya dengan modal membeli kayu bakar Rp 6 ribu saja, kompor ini bisa memenuhi kebutuhan memasak skala rumah tangga hingga seminggu lebih. Lantaran itu, dia mengaku jika kompor yang dibuat sejak tiga bulan lalu itu, ini mulai diburu warga. ’’Saya menjualnya dengan harga antara Rp 25 ribu sampai Rp 35 ribu,’’ tukasnya. Selain banyak diburu, kini banyak juga warga sekitar yang mulai ikut-ikutan membuat kompor kayu bakar.
Salah satunya adalah kerabat Akuwat sendiri yakni Mujahidin, 37. Di rumahnya yang terletak di Desa Ngarjo, Kecamatan Mojoanyar, Mujahidin juga membuat kompor seperti milik Akuwat. ’’Saya memang belajar dari Akuwat sendiri,’’ terangnya.
Mujahidin juga mengaku jika banyak tetangganya yang juga ikut-ikutan membuat kompor. Bahkan, diantaranya sudah ada yang dilakukan modifikasi. ’’Bagi saya juga tidak ada masalah jika banyak yang mulai meniru, ini juga kan berguna untuk orang banyak,’’ katanya.







Selengkapnya...

3.17.2009

Belajar Beternak Kelinci dari Rahmat Basuki




Berawal dari Hobi, Untung Rp 5 Juta Per Bulan

Beternak kelinci ternyata prospektif jika ditekuni serius. Setidaknya itulah yang dirasakan Rahmat Basuki. Di rumah pria berusia 38 tahun ini, berbagai macam jenis ras kelinci ditangkarkan untuk dikembangbiakkan.

AIRLANGGA, Bangsal

RUMAH bercat kuning yang berada di tepi Jl Raya Bangsal No 20 Kabupaten Mojokerto itu terlihat sepi. Dari luar, rumah bergaya bangunan zaman Belanda ini tampak seperti rumah kebanyakan. Di depan gerbang rumah setinggi dua meter itu, sebuah patung berbentuk induk kelinci bersama lima anak kelinci berdiri dengan sebuah tulisan Martin Pet Farm.
Hanya patung inilah yang menandakan jika rumah milik Rahmat Basuki ini adalah peternakan kelinci. Tidak ada tulisan lain seperti papan nama ataupun papan petunjuk yang menandakan kalau di rumahnya terdapat penangkaran hewan berlambang playboy ini.
Sebuah halaman luas terbentang di belakang rumah. Di tepi halaman tersebut, tiga bangunan masing-masing berukuran 3x5 meter berdiri. Di tempat inilah puluhan kandang yang berisi puluhan kelinci berada. ’’Total kelinci yang ada di sini semuanya 100 ekor induk, itu belum dengan anaknya,’’ ujar lelaki yang telah dikaruniai tiga anak ini.
Rahmat mengaku, tahun 2006 merupakan awal segalanya dia memulai bisnis beternak kelinci. Ia mengatakan, bisnis ternak kelinci ini hanya dilakukannya tanpa sengaja. ’’Dulu saya memang hobi memelihara kelinci, lalu saya berpikir, kenapa tidak dikembangbiakkan saja,’’ ujarnya.
Sejak saat itulah secara perlahan ia mulai mengembangbiakkan kelinci. Karena tidak memiliki background ternak, ia pun mulai belajar dari buku-buku dan bertanya kepada peternak kelinci lainnya. Semakin lama ia pun semakin cinta dengan kelinci. Ia pun terus belajar menggali informasi dari berbagai macam buku, seminar, hingga browsing ke internet.
Kini, ia pun mengembangbiakkan berbagai macam ras kelinci. ’’Hampir seluruh jenis kelinci ada disini, mulai yang terkecil berukuran 7 ons hingga yang besar seperti ukuran kucing,’’ ujarnya. Ras-ras yang ia ternakan antara lain jenis paling mahal dan langka yakni jenis flame, lalu dutch yang berasal dari Belanda, satin, english lob, fuji lob, Himalaya bahkan sampai jenis berbulu seperti karpet yakni jenis rax dan marmut Belgia.
Selain melakukan pengembangbiakan, ia pun terkadang melakukan eksperimen dengan melakukan persilangan antarras kelinci. Hasilnya, berbagai jenis ras unggulan pun berhasil dia silangkan dan menghasilkan kelinci dengan ras baru, seperti rax satin dari persilangan antara kelinci jenis rax dan satin.
Berkat usahanya, ia pun mulai berani memberikan nama usaha ternaknya. ’’Peternakan ini saya beri nama Martin Pet Farm, Martin diambil dari nama jenis kelinci yang sudah langka,’’ ujarnya.
Di peternakan yang merangkap sebagai rumah tinggal seluas setengah hektare ini, sedikitnya 15 ras kelinci hias dan sejumlah ras kelinci lokal untuk konsumsi dikembangbiakkan.
Selain itu juga terdapat beberapa ras lain, yang juga merupakan kelinci ras unggulan. Perawatan kelinci mudah dan murah. Setiap hari kelinci diberi makan dua kali, pada pagi hari dan menjelang malam. Makanannya rumput dan sayuran, wortel dan ubi jalar.
Selain itu ada juga makanan siap saji, berupa pelet makanan kelinci. Jumlahnya minimal satu per lima dari berat badan kelinci. Selain itu, kelinci juga memerlukan banyak minum agar tidak mengalami dehidrasi.
Untuk urusan pakan, kata dia, tak perlu repot. Cukup menyediakan konsentrat (bekatul) atau ampas tahu saja. ’’Ternak kelinci bisa di-sambi. Namun tidak bisa ditinggal lama. Jadi harus dijaga,’’ katanya.
Dia mengatakan, untuk pakan, bisa dilakukan sebanyak dua kali yakni pagi dengan memberikan makanan berupa bekatul dan siang dengan memberikan makan berupa rumput. ’’Untuk kelinci yang melahirkan atau hamil bisa ditambah pada malam hari dengan memberi makan rumput,’’ ujarnya.
Pengembangbiakan kelinci di tempat ini dilakukan secara sederhana. Kelinci diletakkan dalam kandang permanen. Setiap kandang terdiri dari satu pasang. Setelah induk kelinci hamil, dipindahkan ke kandang khusus sampai melahirkan.
Daur mulai dari birahi, hamil dan menyusui hingga siap jual mencapai waktu sekitar empat bulan. Dalam satu periode, kelinci dapat melahirkan anak minimal lima ekor.
Prospek usaha peternakan kelinci cukup menjanjikan. Di pasaran lokal, harga kelinci hias berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu. ’’Paling mahal jenis kelinci flame, harganya berkisar Rp 250 ribu per pasang,’’ ujar Rahmat yang mengaku menjalankan usaha ternak bersama sang istri, Wasiko, 32.
Menurutnya masalah pengetahuan memang masih menjadi problem di dunia perkelincian. Tidak saja dalam hal kelinci, dalam ternak lain pun kebiasaan masyarakat mendapat pengetahuan lebih banyak didapat dari ilmu empiris, turun temurun.
Mungkin saja dalam ternak sapi atau domba masyarakat lebih mudah melakukan karena mereka bisa belajar dari banyak orang. Tetapi menurut Rahmat, untuk kelinci agak berbeda. Hal ini disebabkan tidak banyak yang beternak kelinci secara serius.
Dari situlah Rahmat merekomendasikan agar calon peternak atau pemelihara belajar sungguh-sungguh. Sementara menyangkut masalah keyakinan Rahmat melihat karena kebanyakan orang belum tahu betul seluk-beluk perkelincian. ’’Dulu saya pun tidak banyak tahu. Tetapi setelah telaten dan bertahan beberapa tahun saya tahu di balik potensinya,” ujarnya
Rahmat mengatakan bahwa dalam hal usaha kita harus yakin usaha yang dijalankan seseorang akan berhasil. ’’Kalau baru usaha sebentar gagal lalu tidak melanjutkan, ya pasti saja gagal,” katanya.
Dari beternak kelinci, Rahmat mengaku bisa mengantongi untung per bulan sebesar Rp 5 juta ’’Itu keuntungan kotor, belum dikurangi untuk membiayai pegawai dan pakan ternak,’’ ujar pria yang telah memiliki dua pegawai ini.
Untuk pemasaran ia pun tidak terlalu bingung, sebab setiap harinya, ia selalu kedatangan pelanggan yang membeli kelinci. ’’Sebenarnya saya kewalahan melayani pesanan kelinci. Karena itu terpaksa banyak order yang saya tolak,’’ ujarnya.
Kini, berkat usaha beternak kelinci, ia pun mulai mengembangkan usaha ternaknya dengan beternak burung jenis cucakrawa dan murrai. ’’Kalau ternak burung baru satu tahun berjalan,’’ terangnya.


Selengkapnya...

3.04.2009

Supriyanto, Pria Nekat yang Mengubur Diri Sendiri







Diduga ’’Ngelmu’’, saat Dibongkar Kondisi Tubuhnya Lemas

Cara ganjil Supriyanto, asal Dusun Damarsih, Desa Tanjung Anyar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto untuk mendapatkan ilmu agak aneh. Dia menggali kuburan dan mengubur dirinya hingga menggemparkan warga setempat. Bagaimana ceritanya?

AIRLANGGA, Mojokerto



SUPRIYANTO, 25, asal Dusun Damarsih, Desa Tanjung Anyar, Kecamatan Mojoanyar tiba-tiba menjadi perhatian orang saat di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto. Dia masuk UGD karena ulahnya sendiri yang dinilai tidak lazim. Ia nekat menguburkan dirinya di TPU yang berjarak 500 meter dari rumahnya.
Sekitar setengah jam dirawat, Supriyanto lalu dipindahkan ke ruang rawat inap. Selama dipindahkan, tubuh Supriyanto yang kurus tampak terlihat lemas, matanya sedikit terbuka. Begitu pula saat ia dibaringkan di ranjang, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Tidak ada penjelasan apapun dari dia terkait ulah nekatnya menguburkan diri.
Kapolsek Mojoanyar AKP Sukarni mengatakan hingga saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan motif yang melatarbelakangi Supriyanto melakukan aksi nyleneh-nya. ’’Saat ini ia (Supriyanto, Red) masih belum dapat dimintai keterangan, tubuhnya masih lemas dan dalam perawatan tim medis,’’ terang Sukarni.
Terungkapnya perbuatan nyleneh Supriyanto sendiri bermula saat ada warga sekitar yang curiga melihat makam misterius yang ditemukan dua hari sebelumnya bergerak. Dari dalam tanah seperti ada yang bergerak dan bersuara.
Merasa ada yang janggal, warga lalu melapor ke perangkat desa yakni kepada dusun. ’’Oleh kepada dusun setempat, warga lalu membongkar makam misterius dan menemukan Supriyanto dalam keadaan lemas,’’ terang Sukarni.
Saat ditemukan, Supriyanto mengenakan pakaian serbaputih layaknya jenazah yang dimakamkan. Namun bedanya, Supriyanto yang berkepala pelontos ini mengenakan peci berwarna putih dengan wajah yang tertutup kain putih. Adanya dugaan bahwa Supriyanto ’’ngelmu’’ semakin menguat dengan ditemukannya sebuah kitab suci Alquran di sebelah tubuhnya.
Melihat hal ini, warga akhirnya melapor ke Mapolsek Mojoanyar. Beberapa saat kemudian, petugas dan mobil ambulans yang datang segera membawa Supriyanto ke UGD agar dilakukan perawatan medis.
Supriyanto sendiri di kalangan warga sekitar dikenal sebagai sosok yang pendiam. Sehari-harinya jarang dilewatkan di dalam rumah. ’’Dia jarang ada di rumah, kalau datang paling-paling hanya malam hari saja,’’ terang Sunadi, 51, tetangga sebelah rumah Supriyanto.
Tetangganya juga sering melihat Supriyanto berangkat ke musala untuk beribadah. Supriyanto sendiri adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Ibu kandungnya sudah lama meninggal. Di rumah, Supriyanto tinggal bersama ayahnya bernama Tajib, 50 dan dua saudaranya yakni Muji dan Yuyun.
’’Selama ini ia (Supriyanto, Red) tidak bekerja, sehari-harinya hanya berkumpul dengan orang-orang tua, tapi tidak tahu siapa, kalau berkumpul dengan pemuda sini tidak pernah sama sekali, bahkan ke warung sebelah rumah pun jarang,’’ terang tetangga Supriyanto lainnya.
Hal senada juga diungkapkan Toni, 19, tetangga Supriyanto. ’’Dia memang kurang bergaul dengan anak sini, saya sendiri tidak begitu kenal dengan dia, anaknya pendiam,’’ ujar Toni. Supriyanto diperkirakan berada di dalam makam selama semalam.
Sunadi mengatakan kalau saat ditemukannya makam misterius, Supriyanto berada di dalam rumah. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih menyelidiki apakah ada yang membantu Supriyanto melakukan aksinya. ’’Tidak mungkin ia mengubur seorang diri, pasti ada yang membantu, yang jelas pihak kepolisian masih melakukan pengusutan,’’ terang kapolsek.
Makam yang menggemparkan itu ditemukan Selasa (24/2) lalu. Warga penasaran karena menurut mereka warga sekitar tidak ada yang meninggal.
Penemuan makam misterius ini kali pertama ditemukan oleh juru kunci makam bernama Karnaku. ’’Awalnya di sini tidak ada makam seperti ini, sekitar pukul 08.00 setelah saya mengantarkan cucu saya ke sekolah, saya melihat ada makam baru,’’ terangnya.
Karena penasaran, ia pun melapor ke kepala dusun setempat. Oleh perangkat desa, kasus ini kemudian dilaporkan ke Mapolsek Mojoanyar.
Kabar munculnya makam misterius ini dalam waktu singkat menyita perhatian warga sekitar. Tidak hanya itu, warga lain desa pun mendatangi lokasi karena penasaran dengan makam misterius. Menurut Karnaku, ia tidak melihat ada orang mencurigakan pada malam hari yang mendatangi makam.
Makam misterius tersebut berada sekitar seratus meter dari pintu makam. Bagian tanah masih terlihat basah seperti baru dibuat. Dibagian atas makam, terdapat kendi dan taburan bunga.
Dari nisan tertulis nama Abdul Toib yang lahir pada tanggal 11 Desember 1925 dan meninggal pada tanggal 20 Februari 2009. Tulisan yang dibuat diatas kertas tersebut dilapisi plastik bundar berdiameter 2 sentimeter berwarna hijau.

Selengkapnya...