
.JPG)
Tiga Tahun Api Tak Padam Musnahkan Sampah, Abunya untuk Pupuk
Masalah sampah mungkin merupakan masalah yang sangat kompleks bagi sebagian warga khususnya warga kota. Namun bagi warga Dusun Kademangan, Desa/Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, sampah tidak lagi menjadi beban. Dua warganya ciptakan alat pembakar sampah tanpa bahan bakar yang berhasil atasi problem sampah.
AIRLANGGA, Mojokerto
BAU sampah sangat terasa di pinggir lapangan Dusun Kademangan, Desa/Kecamatan Dlanggu pagi kemarin. Maklim saja, di pinggir lapangan yang selalu dijadikan tempat berolahraga warga setempat ini dijadikan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah milik warga.
Namun tidak seperti kebanyakan TPA yang terdapat penumpukan sampah, di TPA dusun ini hanya sedikit sampah yang menumpuk. Padahal, jika dilihat dari sumber sampah yang masuk ke TPA ini, sampah tidak hanya berasal dari warga sekitar, melainkan dari pasar yang berjarak satu kilometer.
Lalu kemana sampah-sampah yang menumpuk itu? Jawabannya ternyata berada di sebuah alat sederhana yang diciptakan dua warga sekitar. Alat ini memiliki fungsi membakar segala macam sampah, baik sampah basah ataupun sampah yang berukuran besar. Hebatnya lagi, saat membakar, alat ini tidak memerlukan bahan bakar apa pun.
Adalah Kurdi, 50, dan Saliku, 52, pembuat alat pembakar sampah yang didesainnya secara sederhana namun memiliki manfaat luar biasa.
Dikatakan keduanya, alat yang diciptakan mereka hanyalah menggunakan sistem udara, sehingga api tidak mati dan dapat membakar tumpukan sampah. Alat tersebut hanya terbuat dari besi cor setinggi 120 cm. Bagian bawah di-las sedemikian rupa hingga membentuk segitiga dengan lima garis besi di tengahnya.
’’Dari sini udara nantinya keluar dan memompa api sehingga terus menyala,’’ terang Saliku sambil menunjuk jarinya ke arah bawah.
Sekitar lima sentimeter dari bagian dasar, terdapat delapan besi memanjang secara horizontal sepanjang lima sentimeter. Diatasnya lagi, delapan besi dengan ukuran lebih panjang yakni tujuh sentimeter. Alat ini diletakkan dalam sebuah bangunan seluas 100 cm persegi yang juga digunakan untuk menempatkan sampah-sampah yang nantinya akan dibakar.
’’Alat ini sudah digunakan sejak bulan Januari 2006 lalu, jadi sudah tiga tahun alat ini membakar tanpa henti,’’ ungkap Saliku. Dijelaskan pria yang juga bekerja di bagian telematika Polres Mojokerto ini, saat tahun 2006 lalu, awalnya ia memasukkan alat yang diciptakannya ke dalam bangunan pembakar sampah dan meletakkan sampah-sampah yang akan dibakar.
’’Sampah-sampah yang dibakar awalnya sedikit, lalu di bagian bawah alat ini saya bakar tanpa menggunakan bahan bakar, setelah api membara, sampah lainnya saya masukkan,’’ katanya.
’’Begitu sampah mulai habis, sampah-sampah kembali dimasukkan sehingga api terus menyala hingga tiga tahun lamanya,’’ sambut Kurdi. Sampah-sampah yang dibakar tadi akhirnya menjadi abu yang dapat diambil melalui lubang berukuran 60 cm x 20 cm untuk dibuang.
Tidak jarang sebagian warga memanfaatkan abu hasil pembakaran sampah untuk pupuk tanamannya. ’’Mereka percaya abu ini bisa digunakan untuk pupuk, saya juga tidak melarang mereka mengambil,’’ terang Saliku.
Hasil penemuan yang dilakukan Kurdi dan Saliku akhirnya direspons positif oleh masyarakat sekitar. Tanggapan serupa juga muncul dari pengurus dinas pasar setempat. Kini, sampah-sampah yang ada di pasar hampir seluruhnya dibakar di TPS ini.
Keduanya mengaku tidak mematok harga kepada siapa pun yang ingin menggunakan alat ini. Namun mereka hanya memerlukan dana untuk pemeliharaan saja. Keduanya juga mengaku mendapat uang pemeliharaan dan perawatan dari pengelola pasar sebesar Rp 250 ribu.
’’Ya cukup untuk biaya minum dan rokok,’’ terang Saliku. ’’Saya tidak memiliki maksud dan niat apa-apa saat menciptakan alat ini, semuanya hanya keinginan untuk mengatasi masalah sampah,’’ ujar Kurdi.
Dalam sehari, alat ini bisa membakar 3 sampai lima ton sampah yang berasal dari warga dan pasar. Selain dikelola oleh mereka berdua, pengelolaan sampah juga dibantu oleh Bambang Suharto, yang tak lain adalah adik ipar Saliku. ’’Bambang bertugas membawa sampah-sampah dari pasar untuk dibakar di sini,’’ kata Saliku.
Baik Saliku maupun Kurdi menceritakan awal penemuan alat ini. ’’Tiga tahun lalu saya melihat tayangan televisi yang membahas persoalan sampah, dari situ saya tercetus ide membuat alat yang bisa membakar sampah, akhirnya saya dan Pak Kurdi langsung membuat desain alatnya,’’ terang Saliku.
Hanya berbekal keyakinan dan sedikit modal, keduanya membuat alat yang diyakininya bisa mengatasi persoalan sampah. ’’Setelah beberapa lama, alatnya jadi dan langsung di-ujicoba-kan, hasilnya tidak mengecewakan,’’ ungkap Kurdi yang mengaku pernah bekerja sebagai pemborong.
Kini, keduanya telah membuat satu lagi alat sebagai pengganti alat lama. ’’Yang lama memang perlu diganti, sudah tiga tahun terbakar,’’ ungkapnya.
Bangunan yang digunakan untuk membakar sampah rencananya juga akan diperbaharui dengan menambah alat cerobong asap sehingga asap yang keluar tidak mengganggu warga lainnya.
Selengkapnya...
1.30.2009
Saat Warga Kademangan Atasi Beban Sampah dengan Alat Rakitan Sendiri
1.22.2009
Berkah Penemuan Sumur Tiban Di Desa Nglele Kecamatan Peterongan
Dianggap Bisa Menyembuhkan Penyakit, Dimanfaatkan Warga Membangun Masjid
Penemuan Sumur Tua di Desa Nglele Kecamaatn Peterongan Kabupaten Jombang rupany membawa berkah tersendiri bagi para warga. Dengan mengandalkan uang sukarela dari pengunjung, para warga berharap bisa membangun masjid.
AIRLANGGA-Jombang.
Suasana disebuah jalan yang terletak di Dusun/Desa Nglele Kabupaten Jombang kini yang biasanya sepi kini mendadak menjadi ramai. Para warga yang biasanya beraktifitas menjalani kesehariannya ke tengah sawah atau membuat bata, kini sebagian memiliki kegiatan lain, yaitu menjaga sumur tiban yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.
Warga sendiri menamakan sumur tersebut bernama Tiban dengan alasan,sumur tersebut dianggap membawa rejeki bagi masyarakat sekitar. Sehingga seolah-olah, warga ketiban rejeki dengan ditemukannya sumur berdiameter 120 cm yang terbuat dari tanah liat
Saat memasuki gerbang desa, para warga sudah bisa menebak orang-orang yang datang ke desanya. ‘’Pasti ingin ke sumur tiban ya mas,langsung terus lurus lalu belok kiri,’’ ujar salah seorang warga yang berjualan bensin di pinggir jalan.
Siang itu, sekitar lima pemuda warga setempat tampak sibuk mengatur lalu lintas jalan yang selalu kedatangan motor pengunjung. Beberapa diantara mereka memberikan karcis parkir yang diberi tarif Rp.2000 setiap motornya.
Untuk menuju tempat sumur tiban yang dianggap keramat, para pengunjung memang diharuskan berjalan sepanjang 200 meter melewati jalan setapak slebar 2 meter di tengah sawah. Jalan tersebut baru saja dibuat sejak ditemukannya sumur lima hari lalu.
Di lokasi sumur, sejumlah warga yang menamakan mereka panitia sumur tiban menyiapkan sebuah tenda yang terbuat dari besi. Tenda tersebut bekas penutup kereta kelinci milik salah seorang warga.
Dibawah tenda, disiapkan tiga ember yang berisi air ari sumur tiban. Panitia memang sudah menyediakan ember agarpara pengunjung tidak saling berebut mengambil air.
Selain tenda yang berisi lima ember, di sekitar sumur juga diberi tenda. Disekitar tenda terapat satu orang yang brtugas mengambil air sumur.
Dia adalah Hanik,38,warga sekitar. Hanik mengaku, sejak ditemukan sumur tersebut, ia bertugas mengambil air didalam sumur untuk diberikan kepada para pengunjung.
‘’Saya jaga dari pagi sampai malam, kalau capek gantian dengan teman saya,’’katanya.
Selama ini, menurutnya, warga yang datang ke sumur untuk meminta air memang sangat banyak. Terutama kalau menjelang sore ataupun maghrib.
Menurut Hanik, saat ini warga Desa Nglele yang menjadi paniti sumur tiban sebanyak 20 orang yang berjaga dari tmpat parkir hingga tempat sumur.
Empat diantaranya brtugas jaga malam agar tidak ada orang-orang yang iseng memasukkan sesuatu kdalam sumur.
Seiap harinya, lokasi sumur tiban slalu buka mulai pukul 06.00 hingga pukul 22.00.
‘’kalau ada pengunjung dari luar kota yang datang malam hari, tetap dilayani,’’ kata Hanik.
Menurut ketua panitia sumur tiban, Zainuri,46, ia dan para warga memang tidak mengumumkan kalau air yang ada di sumur tersebut bisa menyembuhkan penyakit. ‘’Justru yang percaya itu warga,’’ kata adik pemilik tanah tempat ditemukannya sumur tersebut.
Sepanjang jalan menuju lokasi sumur, banyak pengunjung membawa jerigen dan beberapa botol sebagai tempat air. Mereka memang percaya kalau air jernih dari sumur tersbeut bisa menyembuhkan penyakit.
‘’Saya memang agak tidak percaya, tapi namanya mencoba ya saya datang,’’ kata Nurochmah,31, warga Magersari Kota Mojokerto.
Sejak merebaknya kabar penemuan sumur tiban yang dianggap keramat didesa Nglele, setiap harinya banyak pengunjung yang mendatangi lokasi tersebut. Tidak jarang diantara pengunjung ada yang membasahi seluruh badannya menggunakan air. Salah satunya adalah Ainur,53 yang memiliki penyakit rematik.
‘’Saya sengaja menyiram badan saya pakai air sumur biar rematik saya cepat sembuh,’’ katanya.
Meski belum terbukti secara pasti kalau air didalam sumur bisa menyembuhkan penyakit, nmaun faktanya, masyarakat sudah terlanjur percaya. Bahkan, kabar tentang sumur ini beredar luas hingga ke luar kota.
Selain dari Jombang,para pengunjung yang datang juga berasal dari luar kota seperti Mojokerto,Pasuruan,Sidoarjo dan Surabaya.
Akibat seringnya kedatangan pengunjung, tentu saja dapat memberikan berkah tersendiri bagi warga Dusun/Desa Nglele Kecamatan Peterongan.
Dalam tiap harinya, menurut Zainuri, uang sukarela yang dibrikan pngunjung bisa mencapai Rp.350 ribu hingga Rp.50 ribu.
‘’ kami tidak memasang tarif karna tidak menjual air dari sumur, uang yang diberikan dari pengunjung semuanya sukarela,’’ katanya.
Uang hasil pemberian pengunjung tersbeut,menurut Zainuri, renvcananya akan digunakan mebangun masjid di Desa Nglele.
‘’Sebagian akan diberikan kepada warga yang membantu menjadi panitia sumur tiban,’’ katanya.
Zainuri dan para warga berharap, pemerintah mau mmberikan perhatian atas itemukannya sumur tua di desanya.
‘’Ya mungkin bisa dilakukan pnelitian atau pmrintah juga bisa memberikan bantuan, kalau bisa dijadikan obyek wisata agar warga sini bisa terjamin,’’ katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, hari Minggu (24/8) lalu, seorang warga Desa Nglele bernama Imam tanpa sengaja menemukan sebuah sumur tua yang terbuat dari tanah liat sat ia akan memacul tanah mencari bahan baku membuat batu bata. Saat ditemukan, sumur berdiameter 120 cm tersebut dalam keadaan tertutup seperti sebuah gentong besar.
Begitu dibuka, ia kaget dari dari lubang mengeluarkan air. Setelah air berhenti, barulah ia sadar jika yang ditemukannya adalah sebuah sumur.
Hingga kini, asal usul serta umur sumur yang diberi nnama warga sekitar sumur tiban ini masih belum diketahui dengan jelas. (ang)
Selengkapnya...
1.19.2009
Melihat Kesenian Ujung Yang Mulai Terlupakan
.JPG)
Tiap Pemain Hanya di Bayar Rp 10 Ribu, Saling Memukul Tanpa Dendam
Kabupaten Mojokerto banyak menyimpan sejarah dan kesenian. Kesenian tersebut kebanyakan peninggalan masa Kerajaan Majapahit. Salah satunya adalah kesenian tarung yang bernama Seni Ujung. Di masa sekarang, Seni Ujung sudah mulai terlupakan.
AIRLANGGA-Mojokerto
Suasana ramai dan meriah sangan terasa di sepanjang jalan desa yang terletak di Desa Salen Kecamatan Bangsal Kabupaten Mojokerto. Di sisi kanan dan kiri jalan desa yang selebar 5 meter di penuhi berbagai penjual makanan. Di ujung jalan, terlihat banyak orang berkerumun sambil berteriak.
Suara gendhing karawitan terdengar kencang saat mendekati sebuah rumah yang saat itu sedang melakukan hajatan sunat.
Ratusan warga berkumpul mengelilingi sebuah panggung berukuran 5x5 meter. ’’Ayo gepuk, ojo loyo (ayo pukul, jangan lemas,Red.),’’ teriak seorang bapak yang mengenakan peci hitam dari bawah panggung berteriak menyemangati dua orang yang bertarung di atas panggung.
Dari atas panggung tampak dua lelaki bertubuh kekar saling berhadapan.dengan tatapan tajam, keduanya seakan siap bertarung.
Setelah seorang berpakaian hitam mengangkat tangan, keduanya saling melangkahkan kaki kedepan sambil mengangkat tangan yang memegang kayu rotan. Saat melangkah kedepan, keduanya berjoget mengikuti irama musik karawitan yang mengalun.
Salah seorang pemain pun memukul tepat mengenai punggung hingga mengeluarkan darah. Namun tidak terllihat rasa sakit. Kedau pemain saling tersenyum, bahkan sesekali tertawa sembari berjoget.
Setelah memukul, kini pemain tadi harus bersiap menangkis pukulan lawannya. Atraksi pukul memukul dilakukan secara bergantian.
Kedua orang tersebut bukanlah akan bertinju, apalagi sedang melakukan atraksi pencak silat. Namun, keduanya sedang melakukan pertunjukkan seni Ujung.
Dengan menggunakan kayu rotan, kedua lelaki tersebut saling memukul secara bergantian. Setelah terpukul ataupun memukul, kedua lelaki tersebut berjoget mengikuti irama lagu karawitan.
Selain kedua ’’petarung’’, diatas panggung juga terdpat tiga lelaki berpakaian serba hitam. Ketiga lelaki ini biasa disebut sebagai kemlandang atau juri. Salah satu dari kemlandang membawa bakul (tempat nasi,Red) yang didalamnya berisi beras kuning.
Sedangka dua lainnya melihat apakah terjadi pelanggaran atau tidak.
’’Ayo beri semangat, tepuk tangannya,’’ ujar kemlandang kepada para penonton agar terus menyemangati para pemain sementara keduanya berjoget setelah saling memukul.
Kedau pria yang bertarung salung memukul lawannya secara bergantian. Tak jarang, dari mereka mengeluarkan darah. Namun hal tersbeut tidak mengurangi rasa bahagia ataupun menimbulkan rasa takut bagi pemainnya.
Setelah hampir tiga menit saling memukul, keduanya dipisahkan dan saling bersalaman tanpa adanya dendam. Saat dibawah panggung, tampak beberapa orang memberikan kulit pisang yang ditempelkan ke luka akibat terkena sabetan rotan. ’’Ini gunanya untuk mempercepat sembuh luka,’’ ujar Akhmad,34, salah seorang pemain.
’’Pertama kena ya rasanya panas dan perih, tapi namanya juga kesenian, ya begini ini,’’tambah Akhmad.
Setelah kedua pemain turun dari panggung, kedua pria lainnya kembali naik panggung. Kebanyakan para pemain adalah penonton pria. Bahkan diantara mereka ada pria yang sudah lanjut usia ataupun anak-anak. Tentu saja lawan mereka disesuaikan dengan umur.
’’Kesenian ini bukanlah pertandingan, jadi tidak ada yang menang ataupun yang kalah,’’ ujar Sri Waluyo Widodo,55, pemimpin Paguyuban Seni Ujung Moyang Mulia.
Menurutnya, kesenian adalah peninggalan jaman dahulu kala. Awalnya, kesenian peninggalan Majapahit ini merupakan suatu ritual yang bertujuan untuk meminta hujan pada Tuhan ayng Maha Esa. ’’Tetapi karena perkembangan jaman, maka seni ujung dijadikan suatu kesenian yang perlu dilestarikan,’’ ujarnya sambil tersenyum.
Lebih lanjut, menurut Sri Waluyo Widodo, di dalam Seni Ujung tidak ada unsur permusuhan ataupun unsur balas dendam. ’’ Seni Ujung juga tidak ada yang kalah atau menang, ini hanya seni,’’ tambahnya.
Meski saling memukul, kesenian ini juga memiliki peraturan. ’’Daerah badan yang boleh di bonggol (dipukul,Red) hanyalah bagian badan saja, sedangkan bagian kepala,leher dan bagian di bawah badan tidak boleh dipukul,’’ ujarnya.
Kedau pemain juga mendapatkan upah yang diberikan setelah permainan. Satu kali permainan biasanya tiap pemain akan diberikan honor sebesar Rp.10.000. ’’ honor tersebut akan ditambah hingga Rp.25 ribu hingga Rp.50. ribu jika keduanya sama baiknya,’’ jelasnya.
Sebelum melakukan kesenian ini, biasanya dilakukan ritual yang bertujuan untuk keselamatan. ’’sebelum dilakukan acara Ujung, selalu diadakan bancaan (sukuran,Red.). proses ini biasanya seperti semacam tumpengan tapi ada sandingannya yaitu makanan yang diletakkan di sisi tumpeng seperti pisng, kelapa dan beras’’ jelasnya.
Sandingan yang dimaksud memiliki arti di setiap makanan yang disajikan. ’’Gedhang (pisang,Red) berarti Ndhang-ndhang, maksudnya agar keinginan yang diharapkan segera tercapai. Beras berarti Wos , maksudnya adalah menghilangkan rasa was-was atau rasa takut. Sedangkan kelapa atau klopo artinya tidak terjadi apa-apa atau agar tidak ada sesuatu yang tidak diinginkan,’’ jelasnya.
Menurutnya, kesenian ujung saat ini memang terlupakan oleh generasi muda saat ini. ’’Saat ini memang terlupakan, setahu saya hanya di Desa Salen yang ada paguyuban kesenian Ujung,’’ katanya.
Paguyuban kesenian Ujung yang dipimpinnya memang jarang melakukan pertunjukkan. ’’Dalam setahun paling hanya lima kali, itu juga kalau ada yang nanggap, (menyewa,Red.)’’ katanya.
Paguyuban yang dipimpin oleh sri Waluyo Widodo memang paguyuban yang bertujuan untuk melestarikan kesenian Ujung. Paguyuban bernama Moyang Wijaya ini sudah lama berdiri. ’’Saya meneruskan tradisi ayah saya, sebelumnya yang mengurus paguyuban memang ayah saya,’’ katanya.
Kini, meski tanggapan sepi, tetapi paguyubannya memiliki anggota berjumlah 60 orang. ’’Mereka selalu latihan di paguyuban secara rutin, latihannya seperti cara menangkis, membonggol (memukul,Red,) yang benar,’’ katanya.
Selengkapnya...
Derita Sripah Yang Menderita Penyakit Aneh
Terbaring Di Ranjang Selama Delapan Tahun, Hanya Bisa Pasrah.
Tidak ada seorang pun menginginkan menderita penyakit . Apalagi jika sakit yang diderita dalam waktu lama. Termasuk juga Sripah,48,yang harus terbaring lemas di ranjang kamarnya hampir selama delapan tahun. Meski sudah diperiksa oleh tim medis, jenis penyakitnya masih belum diketahui.
AIRLANGGA-Pacet
Pagi itu sekitar pukul 10.00 kemarin (2/11), awan mendung menyelimuti sebuah Dusun bernama Mojoroto yang terletak di Desa Petak Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto. suasana sepi pun terasa di sekeliling desa yang berada di dataran tinggi
Sebuah rumah kecil yang berdindingkan batu bata tanpa dilapisi dengan cat serta beralaskan tanah berdiri di antara rumah-rumah dusun tersebut. Di rumah dengan kesan belum jadi,terbaring seorang perempuan setengah baya yang tergolek lemas tidak berdaya.
Sripah, begitu seluruh tetangganya memanggil sebutan namanya. Sudah delapan tahun ini, Sripah tidak pernah bercengkrama dengan para ibu-ibu disekitar rumahnya. Aktifitas yang selalu dilakukan oleh para kaum ibu kebanyakan.
Sripah bukanlah seorang perempuan yang angkuh, dan bukan pula seorang perempuan yang tidak ingin bersosialisasi. Namun, penderitaan yang dialaminya lah yang memaksa ia untuk tidak bisa keluar rumah. Sripah menderita suatu penyakit yang aneh. Akibat penyakitnya tersebut,perempuan berusia 48 tahun ini tidak dapat keluar rumah. Jangankan keluar rumah, untuk beranjak dari ranjangnya saja ia tidak mampu.
Di kamar berukuran sempit dan pengap, Sripah tampak sendirian ditemani beberapa bantal dan selimut yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabat sejatinya. Di tempat itu pulalah, Sripah makan, mandi dan buang air kecil layaknya seorang bayi. Tak jarang, Sripah harus memanggil salah satu anggota keluarganya untuk sekedar mendongakkan kepala karena terlalu capek.
‘’Sudah delapan tahun ia seperti ini, saya sudah pasrah begitu pula istri saya,’’ kata Subihan,suami Sripah. Dengan mata berkaca-kaca, lelaki berusia 52 tahun ini mulai bercerita awal mula istrinya terkena penyakit yang dipikirnya aneh tersebut.
Lelaki kurus dengan muka pucat tersebut menceritakan, istrinya mulai terkena penyakit sejak tahun 2001 lalu.
‘’ia mengaku merasa sakit di kepalanya, karena dipikir sakit biasa, ia hanya minum obat biasa saja,’’ katanya.
Sakit kepala yang diderita istrinya pun tidak kunjung sembuh selama tiga bulan. Karena khawatir, dengan biaya pas-pasan, Subhan mengantarkan istrinya ke Rumah Sakit Sumber Glagah Kecamatan Pacet. ‘’Hasil pemeriksaan di sana katanya sakit vertigo saja,’’ kata Subhan sembari tidak mengijinkan wartawan mengambil gambar istrinya.
Namun dua tahun kemudian, sakit yang diderita istrinya tidak juga kunjung sembuh. Ia pun memeriksakan ke Rumah Sakit Prof Dr.Soekandar Mojosari. Lagi-lagi usahanya tidak membuahkan hasil. Ia pun kembali ke rumah sakit tersebut pada tahun 2005. saat itu, istrinya sempat diopname selama satu minggu. Terhitung, sudah empat rumah sakit yang pernah dikunjungi untuk mengobati istrinya. ‘’Bahkan ada satu rumah sakit yang mendiagnosa hanya sakit migrain saja,’’ katanya. Namun tetap saja istrinya mengalami sakit kepala yang luar biasa.
Semakin hari, sakit yang diderita Sripah pun semakin parah. Tidak kenal putus asa, Subhan pun mencoba cara lain. Kali ini, ia berharap mendapat kesembuhan bagi istrinya di tangan pengobatan alternatif. Sudah beberapa ahli pengobatan didatanginya, akan tetapi, hasilnya sama saja. ‘’istri saya tidak ada perubahan, justru semakin parah,’’ katanya.
Kini, secercah harapan pun seakan-akan telah sirna bagi kedua pasangan suami istri yang telah dikaruniai dua cucu ini. Bukan hanya sakit yang diderita istrinya saja yang saat ini ia bingungkan. Lebih dari itu, saat ini Sripah sepertinya telah kehilangan tekat untuk bisa lepas dari penyakitnya. Hal ini dipicu puluhan kali usahanya berobat yang selalu menemui kegagalan. ”Istri saya sudah kapok dan putus asa, baik dengan medis maupun pengobatan alternatif. Dia sudah pasrah dan tak mau berobat,” tukasnya. Keluarga Sripah pun secara bergantian mengunjungi dirinya yang hanya bisa menyaksikan keceriaan cucunya dari atas ranjang. Kedua cucunya berharap, neneknya dapat bercanda dengan dirinya.
Kondisi demikian itu, tak pelak membuat Subihan tak bisa menjalani aktivitas lain selain menunggu istrinya itu. Bahkan untuk mencari nafkah saja, ia sudah tak punya waktu, selain alasan sulitnya mencari pekerjaan.
‘’Istri saya tidak bisa ditinggal meski semenitpun, saya harus berada disampingnya setiap saat, bahkan untuk salat Jumat saja, saya selalu memilih waktu terakhir. Karena dia sama sekali tak mau ditinggal,” ungkapnya.
Praktis dalam kondisi demikian, ia juga dirundung masalah ekonomi yang serius. ”Tak ada penghasilan untuk menghidupi istri. Untuk makan, harus seadanya, dan selama ini, kami dibantu anggota keluarga lain,” keluhnya.
Sejauh ini, Subihan mengaku belum mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Salah seorang tetangganya berharap, pihak terkait mau memberikan bantuan. Ia kini mengaku hanya bisa pasrah tentang cobaan yang dialaminya. ‘’Saya hanya ingin istri saya bisa sembuh dan kembali seperti semula,’’ katanya.
Selengkapnya...
1.17.2009
Makanan dalam Tradisi Tionghoa Bernuansa Imlek
Kue Mangkok dan Kue Keranjang Jadi Sajian Wajib
Banyak cara yang dilakukan warga Tionghoa ketika menyambut Tahun Baru Imlek. Yang paling khas adalah hidangan serba merah dan manis.
AIRLANGGA, Mojokerto
Makanan-makanan tersebut meliputi kue lapis legit, kue mangkok dan kue keranjang. Makanan khas ini memang sangat berarti buat mereka yang merayakan Tahun Baru Imlek. Tidak hanya untuk menjamu leluhur dan sebagai wujud syukur agar di tahun depan mendapat rezeki yang melimpah. Tetapi, aneka panganan tersebut adalah sarana berinteraksi dengan kerabat dan tetangga
Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk persembahannya adalah berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Di China, hidangan yang wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak.
Di Indonesia, sajian yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti kemakmuran, panjang umur, keselamatan, atau kebahagiaan dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur. Kue-kue yang dihidangkan biasanya lebih manis daripada biasanya. Ini merupakan pertanda filosofi pengharapan. Agar kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih ’’manis’’. Selain itu, dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rezeki yang berlapis-lapis. Kue mangkok dan kue keranjang juga merupakan makanan yang wajib dihidangkan pada waktu persembahyangan menyambut datangnya tahun baru Imlek. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.
’’Setiap kue memiliki arti dan filosofi tertentu, jadi tidak sembarang kue,’’ ujar Amelia, 50, salah pengurus TITD Hok Sian Kiong Kota Mojokerto.
Amel menceritakan, kue yang dihidangkan biasanya kue keranjang dan kue mangkok. ’’Kue mangkok dan kue keranjang juga merupakan makanan yang wajib dihidangkan pada waktu persembahyangan menyambut datangnya tahun baru Imlek,’’ tambahnya.
Biasanya, lanjut Amelia, kue keranjang disusun secara vertikal dengan kue mangkok berwarna merah di bagian puncaknya. ’’Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok,’’ katanya.
Pada waktu Imlek, makanan yang tidak boleh dilupakan adalah lapis legit, kue nastar, kue semprit, kue mawar, serta manisan kolang-kaling. Ini agar pikiran menjadi jernih, disediakan agar-agar yang dicetak seperti bintang sebagai simbol kehidupan yang terang.
Salah seorang warga yang merayakan Imlek, Gede Sidharta,45,warga Jl. Majapahit Kota Mojokerto mengatakan, perayaan Imlek berasal dari kebudayaan para petani, segala sesuatu bentuk persembahan berupa berbagai jenis makanan. ’’Imlek memang tidak lengkap jika tidak ada makanan yang manis-manis,’’ ujarnya.
Ia menambahkan Imlek bukan sekadar ritual tahunan biasa dan budaya melulu. Melainkan perpaduan antara budaya dengan kepercayaan. ’’Lumrahnya, hari raya apa pun biasanya dilengkapi dengan suatu hidangan khusus, seperti kue keranjang,’’ tambahnya.
Aneka panganan ini banyak dijumpai di beberapa toko di Kota Mojokerto. salah satu pertokoan yang menjual makanan khas Imlek adalah Toko Sanrio yang di Jl. Bhayangkara.
’’Kami menyediakan beragam panganan yang selalu dibutuhkan oleh mereka yang merayakan Imlek," kata Utami, Manajer Operasional Toko Sanrio.
Utami juga menambahkan, di stannya juga menyediakan kue lapis, yang kira-kira artinya sebagai perlambang rezeki yang berlapis-lapis. ’’Sudah tiga hari ini di Toko Sanrio menyediakan makanan khas Imlek, penjualannya lumayan laris,’’ ujarnya.
Utami menjelaskan, makanan yang dijual di tokonya, didatangkan langsung dari Malaysia. Namun, harga dijualnya cukup terjangkau. Kue keranjang dijual dengan harga Rp 21 ribu/tiap bungkus. Tiap bungkus berisi empat kue.
Utami memperkirakan, penjualan kue khas Imlek akan terus meningkat mendekati hari raya Imlek. Tahun ini Imlek tanggal 26 Januari 2009. ’’Usai Imlek sepertinya juga akan tetap laris, karena masih ada perayaan lagi yakni perayaan Cap Go Meh,’’ katanya. Perayaan Cap Go Meh adalah perayaan hari ke 15 dan perayaan terakhir etnis Tionghoa.
Selengkapnya...

