Bangga, Ortu Tak Segan Belikan Alat Musik Sendiri
Keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk kreatif. Contohnya para murid SDLB Negeri Mojosari Kabupaten Mojokerto yang mahir bermain musik meskipun personelnya cacat fisik.
AIRLANGGA,Mojokerto
SELASA (17/2) sekitar pukul 08.00, suasana halaman sekolah SDLB Seduri lain dari biasanya. Dari pintu masuk, sayup-sayup suara alunan musik terdengar dari kejauhan. Suara drum dan gitar terdengar saling bersahut-sahutan membentuk irama lagu yang menembus dinding sekolah yang memiliki corak berwarna-warni.
Beberapa anak sekolah berseragam putih merah tampak bergerombol di depan kelas. Sesekali mereka tertawa girang sambil menggerak-gerakkan tangannya mengikuti irama lagu yang dimainkan tujuh orang dari dalam kelas.
Keenam laki-laki serta satu orang perempuan tersebut tampak serius memainkan alat musik dan bernyanyi. Sebuah lagu berjudul Satu Jam Saja dari grup musik ST 12 dimainkan ketujuh pemain musik asuhan SDLB Seduri ini saat berlatih.
Jika mendengar band bernama Oke Band ini akan menyangka kalau mereka adalah pemain band profesional. Namun, jika melihat penampilan mereka, setiap orang pasti akan takjub dan simpati karena keseluruhan personel Oke Band ini memiliki penyandang cacat fisik.
Januar Eko Prasetyo, 18 yang memainkan drum, Muhammad Muslik yang memainkan keyboard; Heru, 20, pemain bass; Agung Tri Utomo sebagai pemain melodi; Agus Yuliawati pemain tamborine serta penyanyi perempuan bernama Urnia Wardani, 16 adalah seorang tunanetra sedangkan penyanyi pria bernama Suyadi, 30, adalah seorang tunadaksa.
Tidak ada perasaan canggung bagi ketujuh anak band cacat ini. Mereka selalu membuktikan bahwa penyandang cacat bisa melakukan sesuatu dan berkarya layaknya orang lain.
Salah seorang orang tua siswa, Iva Silvia, 40, mengatakan, dirinya sagat bangga jika menyaksikan anaknya, Januar Eko bermain musik. ’’Ya jelas senang, karena dia terlihat percaya diri, saya selalu datang kalau Januar tampil,’’ terang warga Dusun Celangat, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini.
’’Dulu anak saya memang senang bermusik, selalu mengiringi penyanyi-penyanyi saat manggung,’’ tambahnya. Untuk mendukung latihan anaknya, Iva pun bersedia merogohkan kocek untuk membeli sendiri alat musik. ’’Harganya tidak terlalu mahal, yang penting bakat anak saya bisa tersalurkan,’’ katanya.
Hal senada juga disampaikan Lilik Azah, 40, ibu dari Urnia Wardani atau yang selalu dipanggil Lia. ’’Setiap kali latihan ke sini selalu saya yang antar, saya senang melihat anak saya menyanyi, suaranya juga lumayan,’’ terang warga Ngoro, Jombang ini.
Lia adalah satu-satunya perempuan di band ini. Ia sendiri baru dua kali mengikuti latihan di SDLB Seduri ditengah-tengah kesibukannya menjadi siswi di MTs Pulorejo, Ngoro, Jombang.
Lia sendiri bukanlah penyandang tunanetra sejak lahir. Ia menjadi tunanetra sejak berumur 9 tahun akibat penyakit yang dideritanya. ’’Sebelumnya ia sakit tumor otak hingga akhirnya mengalami kerusakan pada matanya,’’ ujar Lilik sambil memegang sebuah ponsel yang digunakannya merekam suara merdu putri kedua dari tiga bersaudara ini. Namun meski begitu, Lia tampak menghayati lagu yang dinyanyikannya.
Meski menyandang tunanetra, anggota personel Oke Band juga selalu menunjukkan prestasinya. Sang keyboardis, Muslik misalnya, ia tercatat pernah menjuarai mata pelajaran Matematika tingkat Jatim, juara mata pelajaran IPS tingkat Jatim, juara catur tunanetra tingkat Jatim, serta juara harapan catur tingkat nasional.
Oke Band sendiri bukanlah hanya sebuah nama. Melainkan memiliki filosofi tersendiri bagi anggotanya. Oke band adalah akronim dari ’’Ora Ketok Band’’ dari bahasa jawa yang kalau diartikan menjadi bahasa Indonesia menjadi tidak melihat.
’’Ini karena hampir seluruh pemainnya penyandang tunanetra, nama ini bisa menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkarya dan menunjukkan potensi yang kami miliki,’’ terang Muslik.
Kepala Sekolah SDLB Seduri sekaligus pelatih grup band ini, Purnomo, mengatakan, dirinya sangat bangga jika bisa melihat anak didiknya mahir memainkan alat musik dan bernyanyi. ’’Awalnya mereka memang sudah memiliki bakat dan kemauan yang keras, saya hanya memolesnya saja,’’ terangnya.
Ia sendiri sangat serius saat melatih anak didiknya. Tak jarang ia menghentikan permainan anak didiknya saat terdapat kekeliruan nada atau ada irama yang kurang pas.
Purnomo mengatakan, dirinya berusaha melatih sebaik mungkin anak didiknya hingga mahir memainkan alat musik dan tampil kompak. ’’Latihannya sebulan dua kali mulai pukul 8 pagi sampai 12 siang,’’ terangnya.
Materi latihannya pun sangat variatif dari lagu dangdut, pop hingga campursari. ’’Setiap pemain sudah memiliki bahan lagu yang akan dimainkan, jadi saat berlatih tidak canggung lagi,’’ terangnya.
Meski demikian, hambatan juga harus dihadapi oleh SDLB yang mendidik Oke Band. ’’Kendalanya yakni peralatannya, sebagian peralatan ini kami dapatkan sendiri dengan cara menyicil satu demi satu, untungnya kami juga mendapat bantuan dari dinas sosial berupa drum, melodi, gitar dan bass,’’ terang Purnomo yang juga mahir bermain keyboard.
Purnomo juga berharap bisa menambah lagi peralatan untuk bisa menunjang latihan anak didiknya. Salah satunya adalah sound system yang dirasa kurang. ’’Sound system di sini hanya ada dua, kalau mau lebih baik ya ada empat,’’terangnya.
Ia juga berharap ada pihak lain yang mengundang band ini mempertunjukkan kebolehannya bermain musik. ’’Kami akan coba koordinasi dengan pihak desa-desa atau pun kecamatan, kalau ada acara mungkin bisa mengundang anak didik kami,’’ ujar Purnomo.
Selengkapnya...
2.20.2009
Oke Band, Grup Musik yang Digawangi Personel Tunanetra
2.10.2009
Melongok Pengaturan Debit Air Sungai Brantas di Musim Penghujan
.JPG)
.JPG)
Setiap Jam Periksa Debit Air, 24 Jam Selalu Siaga
Hujan deras yang turun beberapa hari belakangan ini memang membuat pihak Jasa Tirta I bekerja lebih ekstra mengatur air di Sungai Brantas. Seperti apakah kerja serta peran Jasa Tirta I. Bagaimanakah cara kerja Jasa Tirta I mengatur arus air di Sungai Brantas agar tidak terjadi banjir di Mojokerto?
AIRLANGGA, Mojokerto
RUANGAN lantai dua kantor Perum Jasa Tirta I yang berada di Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kecamatan Mojokerto terasa sepi. Di ruangan berukuran 8x10 meter ini, hanya ada dua penjaga yang selalu mengawasi Sungai Brantas.
Jika dilihat dari ruangan ini, pintu air sungai brantas yang menjadi salah satu objek vital di Mojokerto terlihat jelas. Maklum saja, di ruangan ini memang berfungsi sebagai pemantau dan ruang kontrol pintu arus air Sungai Brantas.
Dua petugas masing-masing bernama Susilo dan Soleh terlihat sangat serius mengamati alat panel kontrol yang berada di sebelah kiri pintu masuk ruan kontrol. Alat berukuran 5x3 meter ini merupakan alat utama yang berfungsi untuk pengaturan arus air, buka tutup pintu air dan mengetahui kletinggian elevasi maupun debit air.
’’Debit air sungai saat ini normal, sekitar 470 kubik per detik, angka ini merupakan angka yang menunjukkan kalau debit air normal, berbeda dengan tiga hari lalu,’’ ujar Susilo yang ditemui sekitar pukul 14.00. Susilo memang bisa sedikit bernafas lega jika dibandingkan dengan tiga hari lalu yakni pada tanggal 2 Februari 2009. saat itu, Debit air menunjukkan angka 1072 kubik per detik. Angka yang menjadikan status Sungai Brantas menjadi siaga merah atau siaga banjir. ’’Tapi setelah itu angka terus menurun dan sudah tidak lagi menjadi status siaga,’’ tambah Susilo.
Peranan Jasa Tirta memang bisa dibilang vital dalam pengaturan air sungai. Maklum saja, air sungai banyak dibutuhkan oleh seluruh masyarakat. Baik itu untuk industri, irigasi, PDAM, PLTA dan pemeliharaan lingkungan. Bahkan, hampir 80 persen pengairan Sungai Brantas digunakan untuk sistem irigasi oleh petani.
Kepala Sub Divisi Air dan Sumber Air Perum Jasa Tirta I, Zainal Alim mengungkapkan, air sungai perlu dilakukan pengaturan agar bisa menguntungkan semua pihak. ’’Air perlu dikelola secara bijak, harus diperhatikan baik kualitas maupun kuantitasnya, kalau air terlalu banyak bisa merugikan dan kalau air sedikit juga sangat merugikan,’’ ujar Zainal.
Baik musim hujan maupun kemarau, Jasa Tirta memang selalu selalu bekerja ekstra keras. Zainal Alim mengatakan, ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengaturan air, yakni suplai atau ketersediaan air atau kebutuhan air.
Jika musim kemarau, Jasa Tirta harus pintar-pintar melakukan pengaturan air agar bisa dimanfaatkan oleh semua pihak. Ia mencontohkan, jika musim kemarau, air bisa sangat berkurang. ’’Meski kemarau, air tetap dibutuhkan oleh masyarakat, untuk itu dibutuhkan manajemen pengaturan air agar kebutuhan air bisa tercukupi,’’ ungkapnya.
Untuk itu, ia selalu berusaha melakukan koordinasi dengan berbagai instansi dengan melakukan rapat pengaturan tata pengaturan air. ’’Tujuannya agar masyarakat pengguna air bisa paham berapa air yang tersedia dan berapa kebutuhan yang harus dicukupi,’’ katanya.
Sama halnya dengan musim kemarau, disaat musim hujan, limpahan air di Sungai Brantas pun harus diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi luapan dan banjir. Pengaturan tersebut dilakukan dengan membuka tutup pintu air yang ada di beberapa tempat. Yakni di pintu air Sungai Brantas Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, pintu air Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto dan beberapa pintu air lainnya.
Dengan adanya pola alokasi air atau manajemen pengaturan arus Sungai Brantas, warga Mojokerto tidak perlu merasa resah terjadinya banjir yang diakibatkan hulu sungai. ’’Semua sudah diatur setiap saat dengan mengalihkan arus sungai di pintu air Desa Mlirip,’’ katanya.
Pihak Jasa Tirta juga selalu melakukan pemeriksaan ketinggian debit air setiap jamnya. ’’Debit air perlu dilakukan pengecekan agar bisa diketahui apa status sungai, sehingga dengan diketahui statusnya, ada antisipasi dini terjadinya sesuatu,’’ ungkap Zainal. Untuk menegtahui jumlah debit air, ada alat di ruangan panel kontrol yang langsung mencatat ketinggian air.
Di alat ini, terdapat tiga lampu yakni merah, kuning dan hijau yang menunjukkan status sungai. ’’Kalau statusnya merah, lampu merah akan menyala, begitu juga seterusnya,’’ ungkapnya.
Dijelaskannya, ada tiga kriteria penetapan status siaga di Sungai Brantas. Yakni siaga hijau jika ketinggian debit air mencapai 750 meter kubik per detik, siaga kuning jika ketinggian debit air mencapai 850 meter kubik per detik dan siaga merah jika debit air lebih dari 950 meter kubik per detik.
Alat tersebut juga terdapat tombol pembuka dan menutup air. Secara total, dipintu air Brantas terdapat delapan pintu yang berfungsi untuk mengatur arus air. ’’Makanya pintu air ini bisa dibilang alat vital, karena disinilah kunci yang bisa mencegah Kota Mojokerto dan sekitarnya dari banjir, kalau musim hujan tidak dibuka, maka banjir besar pasti datang,’’ katanya.
Dalam melakukan sistem pengaturan air, pihak Jasa Tirta sendiri juga dibantu masyarakat dengan menerapkan sistem early warning system yakni sistem peringatan dini berbasis masyarakat.
Yakni dengan meletakkan alat yang bisa memantau status perairan sungai. Alat tersbeut dipasang di beberapa anak Sungai Brantas yakni Sungai Sadar, Sungai Marmoyo,Sungai Kambing,Sungai Brangkal dan Sungai Porong. ’’Di sungai Porong ada tujh unit alat karena ditempat ini merupakan tempat pembuangan banjir,’’ katanya.
Alat-alat ini dirawat sendiri oleh masyarakat sekitar. Sehingga sistem ini memang berbasis masyarakat. ’’Masyarakat diberikan fasilitas seperti ponsel dan pulsa agar bisa memberikan informasi secepatnya kepada kita, setelah itu akan dilakukan koordinasi dan petugas juga akan mendatangi lokasi jika ada sesuatu,’’ kata Zainal Alim.
Selengkapnya...
1.30.2009
Saat Warga Kademangan Atasi Beban Sampah dengan Alat Rakitan Sendiri

.JPG)
Tiga Tahun Api Tak Padam Musnahkan Sampah, Abunya untuk Pupuk
Masalah sampah mungkin merupakan masalah yang sangat kompleks bagi sebagian warga khususnya warga kota. Namun bagi warga Dusun Kademangan, Desa/Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, sampah tidak lagi menjadi beban. Dua warganya ciptakan alat pembakar sampah tanpa bahan bakar yang berhasil atasi problem sampah.
AIRLANGGA, Mojokerto
BAU sampah sangat terasa di pinggir lapangan Dusun Kademangan, Desa/Kecamatan Dlanggu pagi kemarin. Maklim saja, di pinggir lapangan yang selalu dijadikan tempat berolahraga warga setempat ini dijadikan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah milik warga.
Namun tidak seperti kebanyakan TPA yang terdapat penumpukan sampah, di TPA dusun ini hanya sedikit sampah yang menumpuk. Padahal, jika dilihat dari sumber sampah yang masuk ke TPA ini, sampah tidak hanya berasal dari warga sekitar, melainkan dari pasar yang berjarak satu kilometer.
Lalu kemana sampah-sampah yang menumpuk itu? Jawabannya ternyata berada di sebuah alat sederhana yang diciptakan dua warga sekitar. Alat ini memiliki fungsi membakar segala macam sampah, baik sampah basah ataupun sampah yang berukuran besar. Hebatnya lagi, saat membakar, alat ini tidak memerlukan bahan bakar apa pun.
Adalah Kurdi, 50, dan Saliku, 52, pembuat alat pembakar sampah yang didesainnya secara sederhana namun memiliki manfaat luar biasa.
Dikatakan keduanya, alat yang diciptakan mereka hanyalah menggunakan sistem udara, sehingga api tidak mati dan dapat membakar tumpukan sampah. Alat tersebut hanya terbuat dari besi cor setinggi 120 cm. Bagian bawah di-las sedemikian rupa hingga membentuk segitiga dengan lima garis besi di tengahnya.
’’Dari sini udara nantinya keluar dan memompa api sehingga terus menyala,’’ terang Saliku sambil menunjuk jarinya ke arah bawah.
Sekitar lima sentimeter dari bagian dasar, terdapat delapan besi memanjang secara horizontal sepanjang lima sentimeter. Diatasnya lagi, delapan besi dengan ukuran lebih panjang yakni tujuh sentimeter. Alat ini diletakkan dalam sebuah bangunan seluas 100 cm persegi yang juga digunakan untuk menempatkan sampah-sampah yang nantinya akan dibakar.
’’Alat ini sudah digunakan sejak bulan Januari 2006 lalu, jadi sudah tiga tahun alat ini membakar tanpa henti,’’ ungkap Saliku. Dijelaskan pria yang juga bekerja di bagian telematika Polres Mojokerto ini, saat tahun 2006 lalu, awalnya ia memasukkan alat yang diciptakannya ke dalam bangunan pembakar sampah dan meletakkan sampah-sampah yang akan dibakar.
’’Sampah-sampah yang dibakar awalnya sedikit, lalu di bagian bawah alat ini saya bakar tanpa menggunakan bahan bakar, setelah api membara, sampah lainnya saya masukkan,’’ katanya.
’’Begitu sampah mulai habis, sampah-sampah kembali dimasukkan sehingga api terus menyala hingga tiga tahun lamanya,’’ sambut Kurdi. Sampah-sampah yang dibakar tadi akhirnya menjadi abu yang dapat diambil melalui lubang berukuran 60 cm x 20 cm untuk dibuang.
Tidak jarang sebagian warga memanfaatkan abu hasil pembakaran sampah untuk pupuk tanamannya. ’’Mereka percaya abu ini bisa digunakan untuk pupuk, saya juga tidak melarang mereka mengambil,’’ terang Saliku.
Hasil penemuan yang dilakukan Kurdi dan Saliku akhirnya direspons positif oleh masyarakat sekitar. Tanggapan serupa juga muncul dari pengurus dinas pasar setempat. Kini, sampah-sampah yang ada di pasar hampir seluruhnya dibakar di TPS ini.
Keduanya mengaku tidak mematok harga kepada siapa pun yang ingin menggunakan alat ini. Namun mereka hanya memerlukan dana untuk pemeliharaan saja. Keduanya juga mengaku mendapat uang pemeliharaan dan perawatan dari pengelola pasar sebesar Rp 250 ribu.
’’Ya cukup untuk biaya minum dan rokok,’’ terang Saliku. ’’Saya tidak memiliki maksud dan niat apa-apa saat menciptakan alat ini, semuanya hanya keinginan untuk mengatasi masalah sampah,’’ ujar Kurdi.
Dalam sehari, alat ini bisa membakar 3 sampai lima ton sampah yang berasal dari warga dan pasar. Selain dikelola oleh mereka berdua, pengelolaan sampah juga dibantu oleh Bambang Suharto, yang tak lain adalah adik ipar Saliku. ’’Bambang bertugas membawa sampah-sampah dari pasar untuk dibakar di sini,’’ kata Saliku.
Baik Saliku maupun Kurdi menceritakan awal penemuan alat ini. ’’Tiga tahun lalu saya melihat tayangan televisi yang membahas persoalan sampah, dari situ saya tercetus ide membuat alat yang bisa membakar sampah, akhirnya saya dan Pak Kurdi langsung membuat desain alatnya,’’ terang Saliku.
Hanya berbekal keyakinan dan sedikit modal, keduanya membuat alat yang diyakininya bisa mengatasi persoalan sampah. ’’Setelah beberapa lama, alatnya jadi dan langsung di-ujicoba-kan, hasilnya tidak mengecewakan,’’ ungkap Kurdi yang mengaku pernah bekerja sebagai pemborong.
Kini, keduanya telah membuat satu lagi alat sebagai pengganti alat lama. ’’Yang lama memang perlu diganti, sudah tiga tahun terbakar,’’ ungkapnya.
Bangunan yang digunakan untuk membakar sampah rencananya juga akan diperbaharui dengan menambah alat cerobong asap sehingga asap yang keluar tidak mengganggu warga lainnya.
Selengkapnya...
1.22.2009
Berkah Penemuan Sumur Tiban Di Desa Nglele Kecamatan Peterongan
Dianggap Bisa Menyembuhkan Penyakit, Dimanfaatkan Warga Membangun Masjid
Penemuan Sumur Tua di Desa Nglele Kecamaatn Peterongan Kabupaten Jombang rupany membawa berkah tersendiri bagi para warga. Dengan mengandalkan uang sukarela dari pengunjung, para warga berharap bisa membangun masjid.
AIRLANGGA-Jombang.
Suasana disebuah jalan yang terletak di Dusun/Desa Nglele Kabupaten Jombang kini yang biasanya sepi kini mendadak menjadi ramai. Para warga yang biasanya beraktifitas menjalani kesehariannya ke tengah sawah atau membuat bata, kini sebagian memiliki kegiatan lain, yaitu menjaga sumur tiban yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit.
Warga sendiri menamakan sumur tersebut bernama Tiban dengan alasan,sumur tersebut dianggap membawa rejeki bagi masyarakat sekitar. Sehingga seolah-olah, warga ketiban rejeki dengan ditemukannya sumur berdiameter 120 cm yang terbuat dari tanah liat
Saat memasuki gerbang desa, para warga sudah bisa menebak orang-orang yang datang ke desanya. ‘’Pasti ingin ke sumur tiban ya mas,langsung terus lurus lalu belok kiri,’’ ujar salah seorang warga yang berjualan bensin di pinggir jalan.
Siang itu, sekitar lima pemuda warga setempat tampak sibuk mengatur lalu lintas jalan yang selalu kedatangan motor pengunjung. Beberapa diantara mereka memberikan karcis parkir yang diberi tarif Rp.2000 setiap motornya.
Untuk menuju tempat sumur tiban yang dianggap keramat, para pengunjung memang diharuskan berjalan sepanjang 200 meter melewati jalan setapak slebar 2 meter di tengah sawah. Jalan tersebut baru saja dibuat sejak ditemukannya sumur lima hari lalu.
Di lokasi sumur, sejumlah warga yang menamakan mereka panitia sumur tiban menyiapkan sebuah tenda yang terbuat dari besi. Tenda tersebut bekas penutup kereta kelinci milik salah seorang warga.
Dibawah tenda, disiapkan tiga ember yang berisi air ari sumur tiban. Panitia memang sudah menyediakan ember agarpara pengunjung tidak saling berebut mengambil air.
Selain tenda yang berisi lima ember, di sekitar sumur juga diberi tenda. Disekitar tenda terapat satu orang yang brtugas mengambil air sumur.
Dia adalah Hanik,38,warga sekitar. Hanik mengaku, sejak ditemukan sumur tersebut, ia bertugas mengambil air didalam sumur untuk diberikan kepada para pengunjung.
‘’Saya jaga dari pagi sampai malam, kalau capek gantian dengan teman saya,’’katanya.
Selama ini, menurutnya, warga yang datang ke sumur untuk meminta air memang sangat banyak. Terutama kalau menjelang sore ataupun maghrib.
Menurut Hanik, saat ini warga Desa Nglele yang menjadi paniti sumur tiban sebanyak 20 orang yang berjaga dari tmpat parkir hingga tempat sumur.
Empat diantaranya brtugas jaga malam agar tidak ada orang-orang yang iseng memasukkan sesuatu kdalam sumur.
Seiap harinya, lokasi sumur tiban slalu buka mulai pukul 06.00 hingga pukul 22.00.
‘’kalau ada pengunjung dari luar kota yang datang malam hari, tetap dilayani,’’ kata Hanik.
Menurut ketua panitia sumur tiban, Zainuri,46, ia dan para warga memang tidak mengumumkan kalau air yang ada di sumur tersebut bisa menyembuhkan penyakit. ‘’Justru yang percaya itu warga,’’ kata adik pemilik tanah tempat ditemukannya sumur tersebut.
Sepanjang jalan menuju lokasi sumur, banyak pengunjung membawa jerigen dan beberapa botol sebagai tempat air. Mereka memang percaya kalau air jernih dari sumur tersbeut bisa menyembuhkan penyakit.
‘’Saya memang agak tidak percaya, tapi namanya mencoba ya saya datang,’’ kata Nurochmah,31, warga Magersari Kota Mojokerto.
Sejak merebaknya kabar penemuan sumur tiban yang dianggap keramat didesa Nglele, setiap harinya banyak pengunjung yang mendatangi lokasi tersebut. Tidak jarang diantara pengunjung ada yang membasahi seluruh badannya menggunakan air. Salah satunya adalah Ainur,53 yang memiliki penyakit rematik.
‘’Saya sengaja menyiram badan saya pakai air sumur biar rematik saya cepat sembuh,’’ katanya.
Meski belum terbukti secara pasti kalau air didalam sumur bisa menyembuhkan penyakit, nmaun faktanya, masyarakat sudah terlanjur percaya. Bahkan, kabar tentang sumur ini beredar luas hingga ke luar kota.
Selain dari Jombang,para pengunjung yang datang juga berasal dari luar kota seperti Mojokerto,Pasuruan,Sidoarjo dan Surabaya.
Akibat seringnya kedatangan pengunjung, tentu saja dapat memberikan berkah tersendiri bagi warga Dusun/Desa Nglele Kecamatan Peterongan.
Dalam tiap harinya, menurut Zainuri, uang sukarela yang dibrikan pngunjung bisa mencapai Rp.350 ribu hingga Rp.50 ribu.
‘’ kami tidak memasang tarif karna tidak menjual air dari sumur, uang yang diberikan dari pengunjung semuanya sukarela,’’ katanya.
Uang hasil pemberian pengunjung tersbeut,menurut Zainuri, renvcananya akan digunakan mebangun masjid di Desa Nglele.
‘’Sebagian akan diberikan kepada warga yang membantu menjadi panitia sumur tiban,’’ katanya.
Zainuri dan para warga berharap, pemerintah mau mmberikan perhatian atas itemukannya sumur tua di desanya.
‘’Ya mungkin bisa dilakukan pnelitian atau pmrintah juga bisa memberikan bantuan, kalau bisa dijadikan obyek wisata agar warga sini bisa terjamin,’’ katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, hari Minggu (24/8) lalu, seorang warga Desa Nglele bernama Imam tanpa sengaja menemukan sebuah sumur tua yang terbuat dari tanah liat sat ia akan memacul tanah mencari bahan baku membuat batu bata. Saat ditemukan, sumur berdiameter 120 cm tersebut dalam keadaan tertutup seperti sebuah gentong besar.
Begitu dibuka, ia kaget dari dari lubang mengeluarkan air. Setelah air berhenti, barulah ia sadar jika yang ditemukannya adalah sebuah sumur.
Hingga kini, asal usul serta umur sumur yang diberi nnama warga sekitar sumur tiban ini masih belum diketahui dengan jelas. (ang)
Selengkapnya...
1.19.2009
Melihat Kesenian Ujung Yang Mulai Terlupakan
.JPG)
Tiap Pemain Hanya di Bayar Rp 10 Ribu, Saling Memukul Tanpa Dendam
Kabupaten Mojokerto banyak menyimpan sejarah dan kesenian. Kesenian tersebut kebanyakan peninggalan masa Kerajaan Majapahit. Salah satunya adalah kesenian tarung yang bernama Seni Ujung. Di masa sekarang, Seni Ujung sudah mulai terlupakan.
AIRLANGGA-Mojokerto
Suasana ramai dan meriah sangan terasa di sepanjang jalan desa yang terletak di Desa Salen Kecamatan Bangsal Kabupaten Mojokerto. Di sisi kanan dan kiri jalan desa yang selebar 5 meter di penuhi berbagai penjual makanan. Di ujung jalan, terlihat banyak orang berkerumun sambil berteriak.
Suara gendhing karawitan terdengar kencang saat mendekati sebuah rumah yang saat itu sedang melakukan hajatan sunat.
Ratusan warga berkumpul mengelilingi sebuah panggung berukuran 5x5 meter. ’’Ayo gepuk, ojo loyo (ayo pukul, jangan lemas,Red.),’’ teriak seorang bapak yang mengenakan peci hitam dari bawah panggung berteriak menyemangati dua orang yang bertarung di atas panggung.
Dari atas panggung tampak dua lelaki bertubuh kekar saling berhadapan.dengan tatapan tajam, keduanya seakan siap bertarung.
Setelah seorang berpakaian hitam mengangkat tangan, keduanya saling melangkahkan kaki kedepan sambil mengangkat tangan yang memegang kayu rotan. Saat melangkah kedepan, keduanya berjoget mengikuti irama musik karawitan yang mengalun.
Salah seorang pemain pun memukul tepat mengenai punggung hingga mengeluarkan darah. Namun tidak terllihat rasa sakit. Kedau pemain saling tersenyum, bahkan sesekali tertawa sembari berjoget.
Setelah memukul, kini pemain tadi harus bersiap menangkis pukulan lawannya. Atraksi pukul memukul dilakukan secara bergantian.
Kedua orang tersebut bukanlah akan bertinju, apalagi sedang melakukan atraksi pencak silat. Namun, keduanya sedang melakukan pertunjukkan seni Ujung.
Dengan menggunakan kayu rotan, kedua lelaki tersebut saling memukul secara bergantian. Setelah terpukul ataupun memukul, kedua lelaki tersebut berjoget mengikuti irama lagu karawitan.
Selain kedua ’’petarung’’, diatas panggung juga terdpat tiga lelaki berpakaian serba hitam. Ketiga lelaki ini biasa disebut sebagai kemlandang atau juri. Salah satu dari kemlandang membawa bakul (tempat nasi,Red) yang didalamnya berisi beras kuning.
Sedangka dua lainnya melihat apakah terjadi pelanggaran atau tidak.
’’Ayo beri semangat, tepuk tangannya,’’ ujar kemlandang kepada para penonton agar terus menyemangati para pemain sementara keduanya berjoget setelah saling memukul.
Kedau pria yang bertarung salung memukul lawannya secara bergantian. Tak jarang, dari mereka mengeluarkan darah. Namun hal tersbeut tidak mengurangi rasa bahagia ataupun menimbulkan rasa takut bagi pemainnya.
Setelah hampir tiga menit saling memukul, keduanya dipisahkan dan saling bersalaman tanpa adanya dendam. Saat dibawah panggung, tampak beberapa orang memberikan kulit pisang yang ditempelkan ke luka akibat terkena sabetan rotan. ’’Ini gunanya untuk mempercepat sembuh luka,’’ ujar Akhmad,34, salah seorang pemain.
’’Pertama kena ya rasanya panas dan perih, tapi namanya juga kesenian, ya begini ini,’’tambah Akhmad.
Setelah kedua pemain turun dari panggung, kedua pria lainnya kembali naik panggung. Kebanyakan para pemain adalah penonton pria. Bahkan diantara mereka ada pria yang sudah lanjut usia ataupun anak-anak. Tentu saja lawan mereka disesuaikan dengan umur.
’’Kesenian ini bukanlah pertandingan, jadi tidak ada yang menang ataupun yang kalah,’’ ujar Sri Waluyo Widodo,55, pemimpin Paguyuban Seni Ujung Moyang Mulia.
Menurutnya, kesenian adalah peninggalan jaman dahulu kala. Awalnya, kesenian peninggalan Majapahit ini merupakan suatu ritual yang bertujuan untuk meminta hujan pada Tuhan ayng Maha Esa. ’’Tetapi karena perkembangan jaman, maka seni ujung dijadikan suatu kesenian yang perlu dilestarikan,’’ ujarnya sambil tersenyum.
Lebih lanjut, menurut Sri Waluyo Widodo, di dalam Seni Ujung tidak ada unsur permusuhan ataupun unsur balas dendam. ’’ Seni Ujung juga tidak ada yang kalah atau menang, ini hanya seni,’’ tambahnya.
Meski saling memukul, kesenian ini juga memiliki peraturan. ’’Daerah badan yang boleh di bonggol (dipukul,Red) hanyalah bagian badan saja, sedangkan bagian kepala,leher dan bagian di bawah badan tidak boleh dipukul,’’ ujarnya.
Kedau pemain juga mendapatkan upah yang diberikan setelah permainan. Satu kali permainan biasanya tiap pemain akan diberikan honor sebesar Rp.10.000. ’’ honor tersebut akan ditambah hingga Rp.25 ribu hingga Rp.50. ribu jika keduanya sama baiknya,’’ jelasnya.
Sebelum melakukan kesenian ini, biasanya dilakukan ritual yang bertujuan untuk keselamatan. ’’sebelum dilakukan acara Ujung, selalu diadakan bancaan (sukuran,Red.). proses ini biasanya seperti semacam tumpengan tapi ada sandingannya yaitu makanan yang diletakkan di sisi tumpeng seperti pisng, kelapa dan beras’’ jelasnya.
Sandingan yang dimaksud memiliki arti di setiap makanan yang disajikan. ’’Gedhang (pisang,Red) berarti Ndhang-ndhang, maksudnya agar keinginan yang diharapkan segera tercapai. Beras berarti Wos , maksudnya adalah menghilangkan rasa was-was atau rasa takut. Sedangkan kelapa atau klopo artinya tidak terjadi apa-apa atau agar tidak ada sesuatu yang tidak diinginkan,’’ jelasnya.
Menurutnya, kesenian ujung saat ini memang terlupakan oleh generasi muda saat ini. ’’Saat ini memang terlupakan, setahu saya hanya di Desa Salen yang ada paguyuban kesenian Ujung,’’ katanya.
Paguyuban kesenian Ujung yang dipimpinnya memang jarang melakukan pertunjukkan. ’’Dalam setahun paling hanya lima kali, itu juga kalau ada yang nanggap, (menyewa,Red.)’’ katanya.
Paguyuban yang dipimpin oleh sri Waluyo Widodo memang paguyuban yang bertujuan untuk melestarikan kesenian Ujung. Paguyuban bernama Moyang Wijaya ini sudah lama berdiri. ’’Saya meneruskan tradisi ayah saya, sebelumnya yang mengurus paguyuban memang ayah saya,’’ katanya.
Kini, meski tanggapan sepi, tetapi paguyubannya memiliki anggota berjumlah 60 orang. ’’Mereka selalu latihan di paguyuban secara rutin, latihannya seperti cara menangkis, membonggol (memukul,Red,) yang benar,’’ katanya.
Selengkapnya...

