
Dana Urunan, Tiap Pemilihan Selalu Berbeda Tema
Banyak cara untuk mengajak warga menggunakan hak pilihnya pada Pilpres 2009 kali ini. Salah satunya mendesain tempat pemungutan suara (TPS) semenarik mungkin. Seperti yang dilakukan warga Lingkungan Kedung Kwali, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon.
AIRLANGGA, Mojokerto
JAM sudah menunjukkan pukul 07.00. Udara pagi itu cukup
terasa dan terlihat mendukung momentum besar Pilpres 2009. Beberapa warga di Lingkungan Kedungkwali Gang IX Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto tampak berjalan kaki menuju lokasi TPS 6. Tetapi ada juga diantara mereka yang menggunakan motor.
Tidak sulit menemukan lokasi TPS itu. Hanya butuh waktu dengan berjalan kaki sekira 5 menit dari depan gang. Begitu memasuki Lingkungan Kedungkwali Gang IX Kelurahan Miji, pandangan mata akan tertuju pada TPS 6, di pekarangan warga setempat.
Betapa tidak, TPS dihias dengan unik. Berbagai sayuran dan kerupuk ada di sana. Sebuah tenda tampak berdiri kokoh dengan tanaman hias gantung
yang memanfaatkan media pot, yang terbuat dari botol plastik di sekitarnya.
Di bawah tenda, berjejer kerupuk berukuran besar yang digantung dengan menggunakan tali. Kerupuk-kerupuk dengan ukuran diameter sekitar 30 sentimeter tersebut terbungkus plastik transparan.
Di bagian tepi tenda, berbagai macam sayuran seperti terong, ubi jalar dan aneka sayuran lainnya tampak terpajang di tenda berwarna hijau. Di kanan, dua jeriken minyak tanah dan tiga tabung elpiji ukuran lima kilogram juga ikut dipasang.
’’Selamat datang bagi para pemilih yang sudah hadir, silakan daftar terlebih dahulu dan mengambil kertas suaranya, ingat suara kita menentukan masa depan bangsa lima tahun mendatang,’’ ujar Ketua KPPS setempat, Ahmad Syafi’i menyerukan kepada warga.
Mendengar instruksi dari Ketua KPPS, warga pun langsung mengambil surat suara dan menuju empat bilik masing-masing berukuran 1x1 meter. Proses pencontrengan ini tidak sampai memakan waktu lebih dari lima menit.
Ada yang mengatakan,’’Wah, seperti suasana kampung ya, apalagi banyak kerupuk, mungkin setelah memilih kerupuknya akan dibagikan. Jadi ingat
suasana pedesaan,’’ celetuk salah satu calon pemilih. Mendengar itu, para
petugas pun membalas dengan senyum ramah.
Sebagian warga mengungkapkan, mereka sangat senang dengan ide kreatif seperti ini. ’’Dengan menggunakan tema seperti ini, akan menjadikan pemilih semakin semangat ke TPS, sehingga angka golput berkurang,’’ ujar Rianto, salah seorang warga yang ikut memilih.
Memang, untuk mendekorasi TPS, butuh waktu seharian. Semua dikerjakan secara gotong-royong oleh warga setempat. Ada yang membantu pagi, siang atau malam. Dengan antusias, warga bekerja nyaris tanpa perintah. Ide dan gagasan pun mengalir begitu saja, dengan asas musyawarah untuk mufakat. ’’Saya hanya mengoordinasi usul teman-teman,’’ kata Achmad Syafi’i, ketua KPPS.
Selain ide dan gagasan, warga juga turut membantu untuk masalah pembiayaan. ’’Mereka sukarela membantu semata-mata ingin menyukseskan Pilpres,’’ ujarnya. Sejak awal, KPPS memang melibatkan warga dalam melakukan desain TPS yang akan mereka gunakan.
Pemilihan itu pun ada dasar filosofinya. Dipasang berbagai aneka sembako dengan alasan apakah pemerintah mampu mengendalikan harga sembako. ’’Presiden yang terpilih nanti apa juga harus bisa membuktikan apakah mampu membuat nelayan mencari ikan dengan mudah, pendidikan gratis, petani makmur sehingga seluruh masyarakat sejahtera. Itu pesan yang ingin kami sampaikan,’’ ujar Syafi’i.
Digunakan tiga elpiji serta dua jeriken yang dipinjam dari warga sekitar menurutnya adalah harapan warga agar program pemerintah yang melakukan konversi tidak membuat warga kesulitan.
Disebutkan Syafi’i, saat ini di TPS 6 ada 603 pemilih. ’’Alhamdulillah semuanya melakukan hak pilihnya di TPS ini, berarti semua peduli dengan masa depan bangsa,’’ ujarnya.
Tidak itu saja, setiap perhelatan demokrasi lima tahun, TPS 6 lalu menjadi jujugan para wartawan. Baik media cetak maupun elektronik. Hal ini dikarenakan, setiap pemilihan baik pemilihan wali kota, pemilihan Gubernur, pemilihan legislatif hingga pilpres, di TPS ini selalu mendesain agar berbeda dengan TPS lainnya.
Tema yang mereka angkat pun berbeda-beda. Pada pemilihan wali kota lalu misalnya, di TPS ini menggunakan tema Gus-Yuk, sedangkan untuk tema gubernur dipilih tema pertanian. ’’Untuk pemilihan legislatif lalu dipilih caleg stres karena pasti banyak caleg yang gagal,’’ ujar Hani, 22, salah seorang petugas KPPS.
Selengkapnya...
7.09.2009
Kiat Rangsang Warga Nyontreng dengan TPS Unik
7.03.2009
Saat Sekolah Favorit Masih Jadi Incaran Siswa Baru
Orang Tua pun Rela Keluarkan Dana untuk ’’Bangku Kosong’’
Sekolah unggulan masih menjadi target calon siswa peserta penerimaan peserta didik baru (PPDB) di Mojokerto yang berlangsung mulai Kamis (2/7) kemarin. Namun, tidaklah mudah mendapatkan kursi di sekolah favorit tersebut.
AIRLANGGA, Mojokerto
PAGI kemarin, ratusan siswa berseragam SMP dari segala penjuru SMP di wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto mulai memadati pagar SMAN Puri. Dengan membawa map berwarna biru yang berisi ijazah, para calon siswa SMA ini mulai bertanya-tanya tentang alur pendaftaran sekolah SMA mereka.
Banyak sebagian calon siswa yang masih kurang mengerti tentang alur pendaftaran di salah satu sekolah favorit tersebut. Meski panitia sudah memasang tulisan alur pendaftaran, namun karena banyaknya calon siswa yang memadati sekolah, tulisan tersebut makin sulit terbaca.
Saling berebut, berdesakan dan sebagian sabar mengantre adalah suatu hal yang mewarnai pendaftaran di SMAN Puri kemarin. Panitia pun tidak pernah bosan-bosannya mengatur para calon siswa yang tidak sabar mengambil formulir.
Salah seorang siswa, Anis, 14, mengatakan dirinya memang ingin sekali masuk ke SMAN Puri. Selain dekat dengan rumahnya di Desa Banjar Agung, SMAN Puri selama ini dikenal sebagai sekolah favorit.
Ia pun rela berdesak-desakan untuk mengambil formulir. Tidak hanya calon siswa, desak-desakan juga diikuti oleh orang tua calon siswa. Demi mencapai target ini, orang tua sering tidak memedulikan besaran dana yang diperlukan supaya anak mereka bisa merebut kursi sekolah unggulan.
Di tengah era yang mencoba untuk serba transparansi ini, tetap saja ada sejumlah orang tua yang beranggapan bahwa dengan uang anaknya dijamin bisa masuk sekolah unggulan. ’’Biaya tidak menjadi persoalan karena saya ingin anak saya mendapat yang terbaik. Kalau tidak lolos di penerimaan awal ini, pasti masih ada kesempatan saat pengumuman bangku kosong. Pasti ada cara,’’ kata Pandu, 43, orang tua yang mengantarkan anaknya.
Menurut ayah tiga putra yang menetap di Kecamatan Bangsal itu, sudah menjadi kewajiban orang tua menyekolahkan anaknya ke tempat terbaik. Ini dilakukan agar si anak bisa mendapat jaminan, meskipun diakui tidak seratus persen benar, untuk diterima di universitas favorit.
Namun, tentu saja, harapannya agar masa depan si anak cemerlang.
Kalau anaknya nanti tidak lolos masuk SMA pilihannya, Pandu telah menyiapkan dana sebagai dukungan pembangunan bagi sekolah yang dipilih agar bisa masuk di SMA favorit tersebut.
Yuliani, 42, warga Kecamatan Mojosari pun ngotot anaknya harus masuk sebuah SMA negeri. ’’Anak saya sendiri yang memilihnya, sebagai orang tua saya ngikut saja,’’ tuturnya.
Anaknya, Oki Daniar Khairunnisa asal SMPN Ngoro memiliki NUN 35,90. ’’Dengan NUN segitu masak sih tidak bisa masuk,’’ terangnya.
Yuli mengaku, sebelum mendaftar ke SMAN Puri, anaknya sempat mendaftar ke SMAN Mojosari yang merupakan sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Namun, meski mengaku sudah membeli formulir sebesar Rp 100 ribu, anaknya tidak masuk.
Andi Wijaya, salah seorang warga Sooko mengungkapkan, ia berharap anaknya bisa sekolah di SMA Sooko. ’’Anak saya tidak mendaftar ke sekolah swasta. Berarti saya dan istri harus ngotot cari jalan supaya dia diterima di SMA itu,’’ ujarnya.
Maka, hari-hari ini, bapak tiga anak itu mengajak semua anggota keluarga untuk datang saat mendaftarkan anaknya yang akan masuk. Bahkan, Andi siap meninggalkan kegiatan lain demi memperjuangkan si anak masuk sekolah favorit. Ia pun sudah ancang-ancang dengan dana bantuan pembangunan sekolah.
Selengkapnya...
Saat Warga Temukan Bangunan Mirip Situs Peninggalan Majapahit

Berbentuk Lesung, Dikira Batu Biasa
Wilayah Kabupaten Mojokerto rupanya masih terdapat situs yang diduga peninggalan Kerajaan Majapahit. Salah satunya adalah situs yang baru ditemukan warga Dusun Lebak Geneng, Desa Lebak Jabung, Kecamatan Jatirejo. Bagaimana bentuknya?
AIRLANGGA, Jatirejo
SEMENJAK runtuhnya Majapahit yang kemudian disusul dengan masuknya agama Islam, banyak bangunan suci yang berkaitan dengan agama Hindu/Budha begitu saja ditinggalkan oleh masyarakat penganutnya.
Lama-lama bangunan-bangunan suci yang tidak lagi dipergunakan itu dilupakan orang-orang karena masyarakat sebagian besar telah berganti kepercayaan. Akibatnya bangunan tersebut menjadi telantar tidak ada lagi yang mengurusnya, pada akhirnya tertimbun longsoran tanah dan semak-semak belukar. Yang nampak adalah puing-puing berserakan di sana-sini.
Kondisi inilah yang terjadi di sebuah bangunan berbentuk segi empat berukuran 3x3 meter yang berada ditengah-tengah hutan jati Dusun Lebak Geneng, Desa Lebak Jabung, Kecamatan Jatirejo.
Untuk mencari keberadaan situs ini memang tidaklah mudah. Perjalanan menuju lokasi diperlukan waktu sekitar dua jam dari Kota Mojokerto melewati jalan yang berliku-liku.
Kabar ditemukannya situs Kerajaan Majapahit ini memang masih belum diketahui warga sekitar. Hal inilah yang dirasakan koran ini saat menelusuri jalan menuju lokasi. Tidak ada satu pun warga yang mendengar kabar penemuan bangunan bersejarah.
Sebagian besar bukanlah tidak mengetahui keberadaan bangunan bersejarah di desanya. Namun, mereka tidak mengetahui sama sekali bangunan apa yang ditemukan di lahan hutan jati tersebut. ’’Sebagian warga di sini memang tidak tahu bagaimana bentuk bangunan bersejarah itu, mereka pikir bangunan ini hanyalah bangunan biasa,’’ terang Lamijo, warga sekitar.
Berbeda dengan penemuan bangunan peninggalan kerajaan Majapahit sebelumnya yang selalu dikerumuni warga, penemuan candi di desa ini nampaknya tidak terlalu menarik perhatian warga sekitar. Berbagai cerita mistis juga pun sempat mewarnai lokasi penemuan candi tersebut.
’’Warga sini pernah ada yang sempat melihat patung duduk di atas tanah sekitar lokasi, tapi beberapa saat kemudian patung itu hilang. Patungnya berwarna hitam dengan ukuran seperti ini,’’ ujar Lamijo sambil memegang lututnya.
Selain itu, cerita-cerita lain tentang mistik juga kerapkali terdengar oleh warga sekitar. Namun warga tidak pernah menyangka kalau bangunan yang ditemukannya adalah bangunan bersejarah.
Lamijo menceritakan, sebenarnya penemuan bangunan sisa Kerajaan Majapahit itu sudah ditemukannya sejak beberapa tahun lalu. ’’Saya lupa tahunnya, mungkin sekitar tahun 2004 lalu,’’ terang bapak tiga anak ini.
Awalnya, Lamijo yang akan menanam pohon jati membabat beberapa kotoran dan tanaman alang-alang yang ada di tengah hutan jati. Setelah membersihkan, Lamijo melihat ada bangunan bata merah dengan lubang sebesar tiga puluh sentimeter ditengahnya. Karena tidak tahu apa-apa, Lamijo menganggap bangunan yang ditemukannya adalah bangunan biasa.
Tidak hanya di tempat tadi, sekitar 300 meter dari lokasi pertama, Lamijo kembali menemukan benda yang tertancap di atas tanah berupa batu dengan lubang berdiameter sepuluh sentimeter di tengahnya. ’’Sepertinya batu ini digunakan untuk menumbuk padi pada zaman Majapahit dulu,’’ terang Lamijo.
Setelah beberapa tahun, Lamijo menceritakan benda yang ditemukannya kepada tetangganya, Muhammad Zein Ansori. Zein, yang mendengar pengakuan dari Lamijo langsung memeriksa lokasi. ’’Setelah saya periksa, ternyata bangunannya memang seperti peninggalan Majapahit,’’ ujarnya.
Ternyata, tidak hanya Lamijo yang menemukan benda purbakala. Tetangganya, Badri, 68, juga menemukan benda seperti lesung terbuat batu. Bedanya, lesung ini terdapat bangunan bata khas Kerajaan Majapahit.
Zein mengaku saat ini berharap pemerintah mau memberikan perhatian kepada situs purbakala yang ditemukan warga sekitar. ’’Warga juga nampaknya tidak berharap apa-apa,’’ ujarnya.
Selengkapnya...
6.30.2009
Melihat Usaha Pembuatan Camilan Belalang di Desa Gunungan Kecamatan Dawar Blandong

.jpg)
Memiliki Gizi Serta Dipercaya Meningkatkan Vitalitas Pria
Belalang kayu adalah hama yang merugikan. Tapi oleh warga Desa/Kecamatan Dawar Blandong, belalang bisa menjadi bahan lauk pauk dan camilan yang lezat. Dan yang pasti, menu belalang kayu halal dengan nilai protein yang tinggi
AIRLANGGA, Mojokerto.
Kedua kaki Antonius berjalan pelan-pelan diantara jalan-jalan setapak di arelah persawahan dekat rumahnya yang berada di Dusun Sidorame, Desa gunungan, Kecamatan Dawar Blandong. Dengan kepala yang tertunduk kebawah, kedua sorot matanya sangat jeli memperhatikan setiap helai daun padi yang mulai menguning.
Sesekali lampu sorot yang dipegang tangan kirinya didekatkan ke sawah-sawah untuk melihat apakah ada belalang diatasnya.
Setelah kedua matanya mengamati sawah-sawah, Antonius melihat seekor belalang dengan ukuran yang lumayan besar. Tangan kanannya pun dengan pelan mendekat dari arah belakang belalang tersebut. Hap.. dalam sekejap, tangan yang diayunkannya langsung memegang belalang. Belalang tadi lalu dimasukkan kedalam keranjang yang dipikulnya. ’’Butuh kejelian untuk bisa menangkap belalang ini, karena warna tubuhnya sama dengan warna daun selain itu gelapnya malam juga terkadang mempersulit pencarian,’’ tuturnya.
Sudah ada lima belas ekor belalang yang ditangpaknya malam itu. Namun Antonius terus melawan dinginnya malam untuk mencari belalang lebih banyak lagi.
Pencarian selama semalaman itu akhirnya mendapatkan banyak belalang di keranjangnya. Antonius pun pulang. Sesampainya di rumah, ia lalu menyaipak wajan di perapiannya. Sebagian bumbu-bumbu yang sudah diaduk oleh Sami, 37, istrinya langsung dimasukkan kedalam wajan. Proses pembuatan camilan belalang sangat sederhana dan menggunakan alat yang sangat tradisional. Belalang yang
berhasil ditangkap dihilangkan pada bagian sayap, dan memotong kakinya yang berduri. setelah itu di bersihkan bagian kotoran dalam tubuh
belalang hingga bersih. Lalu di cuci dengan air hingga bersih. Setelah semua proses pembersihan selesai, kemudian mulailah proses memasak belalang dilakukan.
untuk memasaknya berbagai bumbu masakan diperlukan
agar rasanya gurih dan lezat seperti cabe, bawang merah,bawang putih, kemiri dan sedikit bumbu penyedap. Proses masak melalui dua tahap, yakni tahap pertama
penggorengan tanpa bumbu hingga membutuhkan waktu lima hingga
sepuluh menit, sampai belalang mengeras dan kering. Sesudah belalang kering, kemudian digoreng dan dicampur dengan bumbu yang sudah disiapkan dengan pengapian yang
tidak terlalu besar agar tidak gosong. Proses ini membutuhkan waktu tiga hingga enam menit, setelah tercampur semua, diangkat dan siap di bungkus, dan dipasarkan.
Antonius mengakui, pekerjaan menjual belalang itu hanya sambilan. Karena, tidak setiap saat belalang bisa didapat. Biasanya, setiap tahun hanya ada satu musim. ’’Belalang itu keluar hanya sekali dalam setahun, ya seperti bulan kayak gini ini,’’ jelasnya.
Selain dibeli para tetangga, biasanya antonius menjualnya ke warung-warung dengan harga perbungkus delapan ratus rupiah. Camilan belalang selain dipasarkan di sekitarnya
juga beberapa kota di Jawa Timur seperti Gresik, Surabaya dan Mojokerto sendiri.
Ditanya hasil penjualan belalang, bapak dua anak itu mengakui tidak tentu. Semuanya tergantung dari hasil belalang yang dibawa. Bila belalang yang dijual banyak, hasilnya juga banyak. “Yang mencari belalang, saya . Kalau istri kebagian tugas menjual saja,” ujarnya.
Berapa harga belalang yang ditawarkan jika dijual hingga luar kota? Dengan malu-malu Sami mengungkapkan, setiap rentengnya dijual seharga Rp 10 ribu. Setiap reteng berisi 200 ekor belalang. ’’Setiap harinya, kita bisa dapat minimal Rp 50 ribu’’ ungkapnya.
Antonius menceritakan, ide awal pembuatan camilan belalang bermula saat antonius dan istrinya berjalan-jalan di sekitar desa mereka yang merupakan arela persawahan yang ditanami jagung dan padi. Tanpa sengaja bapak dua anak ini menangkapi belalang yang sedang banyak hinggap di padi dan jagung, lalu membawanya pulang dan memasaknya. Karena kelebihan, akhirnya ia menitipkan camilan belalang ke warung-warung tetangganya. Hasilnya warga sekitar desa banyak yang menyukianya. Antonius memulai usahanya sejak sepuluh tahun lalu tahun 1999 dengan modal awal pinjaman dari para tetangga sebesar lima puluh ribu rupiah.
Selengkapnya...
Derita Ahmad Amanda yang Tidak Memiliki Langit-Langit Rahang Atas

Sulit Bicara, Tidak Bisa mengunyah Dengan Sempurna
Tidak ada yang meninginkan lahir dengan ketidak sempurnaan. Termasuk Ahmad Amanda yang sejak lahir menderita Palatosisis atau tidak memiliki langit-langit pada rahang mulutnya. Meski demikian, ia tidak merasa minder.
AIRLANGGA, Mojokerto.
Rumah yang tanpa pagar bercat putih yang berada di Desa Sumengko, Kecamatan Jatirejo siang itu terlihat sepi. Pintu depan yang terbuat dari kayu dengan cat hijau dibiarkan terbuka lebar. Di depan rumah, beraneka alat untuk menambal ban tertata rapi. Sekitar satu meter dari alat penambal ban, puluhan botol berisi bensin tertata rapi diatas rak yang terbuat dari kayu dengan tulisan jual bensin.
Pemilik rumah rupanya membiarkan pintu rumah terbuka agar sewaktu-waktu ada pembeli bensin atau seseorang yang ingin menambal ban yang memanggil dapat terdengar.
Setelah pintu depan diketuk beberapa kali, Ahmad Amanda pun keluar dari dalam rumah sambil menyambut ramah koran ini. ’’Silahkan masuk, maaf berantakan,’’ ujarnya sambil menyambut. Saat bicara, suara Amanda memang tidak terdengar jelas. Hal ini dapat dimaklumi karena siswa SMK Negeri Jatirejo ini tidak memiliki bentuk mulut yang sempurna seperti teman-teman yang lain.
Amanda menceritakan, dia memang sudah memiliki kelainan pada mulutnya sejak lahir. ’’Saya tidak tahu sejak kapan, tapi kata ibu saya sejak lahir memang seperti ini,’’ terangnya. Saat berusia dua bulan, Amanda sempat dioperasi oleh ibunya karena tidak memiliki rahang atas. Saat itu, kondisi Amanda memang sangat memprihatinkan. Bagian mulut atasnya mengalami cleft lip atau bibir sumbing.
Meski dengan kondisi serba kekurangan, sang ibu, Yayuk berusaha mengoperasi anak pertamanya tersebut. Hasil perjuangan dan kerja kerasnya pun membuahkan hasil. Pada usia dua bulan, Ahmad Amanda akhirnya dioperasi. Meski sudah dilakukan oeprasis ebanyak satu kali, tapi menginjak remaja, Ahmad tidak dapat bicara dengan sempurna. Ahmad kerap kali kesulitan melafalkan kata-kata tertentu terutama dengan kata yang memiliki huruf ’’R’’.
’’Meski saya memiliki kekurangan seperti ini, tapi saya tidak merasa minder dengan kekurangan saya,’’ ujarnya. Karena sudah mengalami sumbing sejak kecil, teman-temannya tidak ada yang mengejek Ahmad Amanda. ’’Saya tidak pernah dikucilkan edngan teman-teman saya, mereka mau menerima saya apa adanya,’’ ujar nya.
Selama ini, Ahmad Amanda dikenal sebagai sosok remaja yang pekerja keras. Amanda tidak pernah menyusahkan orang tuanya. Bahkan, sejak ditinggal ayahnya karena meninggal pada usia 10 tahun, Amanda selalu berusaha mencari kerja sambil menyelesaikan sekolahnya.
Saat ini, disamping bersekolah di Jurusan Teknik Industri SMK Negeri Jatirejo, Ahmad membantu kakak sepupunya bekerja sebagai penambal ban didepan rumahnya. Selain itu, ia juga menjaga kios bensin. ’’Hasilnya lumayan untuk kehidupan sehari-hari,’’ terangnya.
Ahmad Amanda hanya berharap, suatu saat ada dermawan yang membantunya untuk operasi agar rahang mulut tasnya bisa sembuh. ’’Saya juga ingin bisa bicara lancar seperti teman-teman saya,’’ terangnya.
Drg. H.R.Anto Bagus, Sp.Pros, mengatakan, terdapat beberapa hal penyebab penderita bibir sumbing dan palatosisis (langit-langit) yakni berupa faktor genetik (bawaan) yang bisa akibat pernikahan dekat satu darah, disusul faktor gizi dibawah standar. ’’Kelainan yang merupakan bawaan sejak lahir yang sangat meresahkan orangtua adalah bibir sumbing. Selain mengenai bibir juga bisa mengenai langit-langit. Kelainan sumbing langit-langit lebih berefek kepada fungsi mulut seperti menelan, makan, minum, dan bicara. Bibir sumbing (cleft lip atau labioschizis) adalah suatu kelainan bawaan yang ditandai dengan adanya celah pada bibir, gusi, dan langit-langit yang dapat timbul sendiri atau bersamaan,’’ ujarnya.
Bagus, sapaan akrabnya mengatakan, dalam kasus yang dialami Ahmad Amanda memang tergolong cukup parah. ’’Pada usia diatas 17 tahun seperti Amanda, sudah sulit untuk dioperasi lagi,’’ terangnya.
Namun, teknologi dunia medis bisa membantu dnegan memasangkan alat bernama obturator atau alat-alat rahang atas buatan. ’’Pemasangan obturator yang terbuat dari bahan akrilik yang elastis, semacam dinding atas tiruan, tapi lebih lunak, Jadi pembuatannya khusus dan memerlukan pencetakan di mulut Amanda.’’ Terangnya.
Saat alat dipasang, Amanda bisa dapat bicara dengan lancar dengan catatan sering dilatih dengan rehabilitasi bicara.
Namun tidaklah mudah untuk mendapatkan alat ini mengingat kondisi keuangan keluarga Amanda yang serba kekurangan. ’’Alatnya bisa seharga Rp 500 juta, tapi untuk pemasangannya kami bisa bantu,’’ terang Bagus. Amanda hanya bisa berharap saat ini ada pihak dermawan yang bisa membantunya agar bisa seperti teman-temannya.
Selengkapnya...

