Tampilkan postingan dengan label tanaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tanaman. Tampilkan semua postingan

10.26.2009

Keluh Kesah Petani Menghadapi Kemarau Panjang




KERING: Musim kemarau yang panjang mengganggu kehidupan bercocok tanam petani Mojokerto.



Gagal Panen, Terpaksa Timbun Gabah untuk Tutupi Kerugian

Musim kemarau panjang secara tak langsung menyentuh kebutuhan dapur para petani atau buruh tani. Selain dibayang-bayangi gagal panen, mereka terpaksa mencari alternatif sumber penghasilan lain untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya.

AIRLANGGA, Mojokerto

GERIMIS yang terjadi sore kemarin seakan-akan menjadi berkah tersendiri bagi Sutris, 57. Maklum saja, sudah hampir 10 bulan ini petani yang tinggal di Desa Sawo, Kecamatan Jetis berharap-harap cemas. Kekhawatiran akan gagal panen selalu melanda pikirannya karena musim kemarau berkepanjangan.
Karena hujan yang tidak kunjung selama hampir 10 bulan ini, satu hektare lahan padi miliknya terancam gagal panen akibat kekurangan air. ’’Selama ini saya mengandalkan air irigasi saja, tapi itu belum cukup karena air sungai di sini tidak terlalu banyak. Sumur juga tidak ada airnya kalau musim kemarau. Kebanyakan petani di sini adalah petani sawah tadah hujan,’’ ujarnya.
Sutris mengatakan, kemarau yang datang sejak bulan Januari lalu membuat dirinya dan petani lainnya resah. ’’Bagaimana tidak resah kalau tanah menjadi kering seperti ini,’’ ungkapnya.
Untuk menyiasati, Sutris berusaha mengganti tanaman padi dengan menanam jagung. ’’Kalau menanam jagung di musim kemarau memang lebih untung, tapi karena tanah di sini tidak biasa ditanami jagung jadinya hasilnya tidak sebagus di daerah penghasil jagung,’’ ujarnya.
Selain Sutris, petani lainnya, Syafii juga mengeluhkan musim kemarau berkepanjangan. ’’Mau bagaimana lagi memang sudah kemauan yang diatas seperti ini,’’ ujar petani asal Desa Awang-awang, Kecamatan Mojosari ini pasrah.
Sinar matahari yang menyengat tak mengurungkan niat Syafii menapaki pematang sawah di belakang rumahnya. Tangan terampilnya mulai mengaduk tanah dan mencampurnya dengan air, kemudian dicetak menjadi bata. Itulah aktivitas lelaki 57 tahun ini akhir-akhir ini.
Selama musim kemarau, di tempat tinggalnya bapak dua anak ini beralih pekerjaan menjadi pembuat bata. Kesibukan musiman ini sedikit bisa menjadi penyambung hidup. Syafii menuturkan, seribu batu-bata dihargai Rp 350 ribu.
Ia bersyukur masih ada pemborong yang membeli bata buatannya. Tidak sedikit tetangga yang gigit jari karena bata bikinan mereka tidak laku. ’’Membuat batu-bata memang unik. Selain memerlukan kecekatan, memerlukan juga ketelitian, agar bata tidak mudah pecah,’’ ujarnya.
Sebagai petani tulen, Syafii sangat menggantungkan hidup dari bercocok tanam. Namun, setiap musim kemarau, sawahnya tidak bisa ditanami karena irigasinya sangat tergantung pada air hujan. Kondisi wilayah yang gersang membuat asupan air tidak mudah tersimpan tanah.
Setiap musim hujan Syafii hanya bisa menanami sawahnya dengan padi, jagung, dan ketela pohon. Jika beruntung, terkadang dia mencoba menanam tembakau serta sayuran seperti bayam, cabai, dan mentimun. Memasuki musim kemarau dia tak bisa lagi menanami sawahnya yang kering kerontang.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Syafii menyiasati dengan menimbun gabah yang dipanen. Jika uang dapur tak cukup, Syafii menjual gabah seharga Rp 3.000 per kilogram. Jika masih kurang, tak jarang dia menjual jagung dan ketela pohon yang harganya Rp 750 hingga Rp 2.500 per kilogram.
Syafii mengaku pendapatan turun drastis, terlebih pada musim kemarau ini. Meski tidak menghitung secara pasti, dia memperkirakan pendapatannya tidak seberapa banyak, karena masih harus dikurangi biaya tanam dan panen.
Tahun ini kondisi ekonomi keluarga Syafii memburuk karena sempat mengalami gagal panen. Padi di dua petak sawahnya gagal panen, karena kekurangan air. Dia pun menanggung rugi sekitar Rp 500 ribu.
Pohon-pohon mangga Syafii juga terancam gagal panen, karena musim semakin tidak menentu. ’’Mestinya pohon mangga sudah mengembang. Kalau telat, keburu musim hujan datang lagi. Kalau sudah begitu, ya harus ikhlas merugi lagi,’’ ujarnya.
Nasib yang jauh lebih buruk dialami Mulyono, tetangga Syafii. Pria yang memiliki empat anak ini harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Terlebih dia hanya buruh tani. Dalam keseharian, Mulyadi yang sederhana ini berusaha mencari tambahan rezeki dengan menawarkan diri kepada siapa saja yang memerlukan tenaganya.
Bagi Mulyadi, musim kemarau tak ubah panas neraka yang sangat menyiksa. Sebagai buruh tani di daerah yang kering, dia harus beralih pekerjaan sebagai buruh lainnya. Bahkan tidak jarang dia merantau ke luar kota atau bahkan luar pulau untuk mencari pekerjaan sampingan.
’’Bagi orang seperti saya, kerjaan apa saja ndak masalah. Apalagi saya hanya tamatan SD,’’ buruh tani yang mengaku berasal dari Lamongan ini.
Pekerjaan yang dijalani Mulyadi pun beraneka ragam. Mulai dari tukang tebon (penebang tebu), tukang angkut kayu, pembuat bata, hingga kuli bangunan. Semua itu dilaluinya dengan senyum, meski dengan bercucuran keringat. Istri Mulyadi, Saripah juga ikut membantu mencari tambahan penghasilan.
Beragam pekerjaan dijalani Saripah. Mulai dari pembantu rumah tangga hingga buruh penebang tebu dengan gaji yang sangat kecil. Meski harus kerja keras, Saripah iklas menjalankan pekerjaannya. ’’Yang penting anak saya bisa makan,’’ ungkapnya.
Syafil dan istrinya berharap musim kemarau cepat berlalu sehingga dia bisa kembali menggarap lahan pertanian. ’’Kalau ada garapan bisa menambah uang untuk makan dan biaya sekolah anak-anak saya,’’ ungkapnya.
Bagi sebagian petani lainnya, musim kemarau justru tidak membuat mereka merugi. Mereka adalah petani yang menanam tanaman dimusim kemarau seperti tanaman tebu. ’’Kalau musim kemarau sekarang ini tidak terlalu berpengaruh untuk tanaman tebu, buktinya sekarang baru panen dan mulai menanam lagi,’’ ungkap Sistoyo, 40, petani asal Desa Tanjung, Kecamatan Kemlagi.

Selengkapnya...