6.30.2009

Melihat Usaha Pembuatan Camilan Belalang di Desa Gunungan Kecamatan Dawar Blandong







Memiliki Gizi Serta Dipercaya Meningkatkan Vitalitas Pria

Belalang kayu adalah hama yang merugikan. Tapi oleh warga Desa/Kecamatan Dawar Blandong, belalang bisa menjadi bahan lauk pauk dan camilan yang lezat. Dan yang pasti, menu belalang kayu halal dengan nilai protein yang tinggi

AIRLANGGA, Mojokerto.



Kedua kaki Antonius berjalan pelan-pelan diantara jalan-jalan setapak di arelah persawahan dekat rumahnya yang berada di Dusun Sidorame, Desa gunungan, Kecamatan Dawar Blandong. Dengan kepala yang tertunduk kebawah, kedua sorot matanya sangat jeli memperhatikan setiap helai daun padi yang mulai menguning.
Sesekali lampu sorot yang dipegang tangan kirinya didekatkan ke sawah-sawah untuk melihat apakah ada belalang diatasnya.
Setelah kedua matanya mengamati sawah-sawah, Antonius melihat seekor belalang dengan ukuran yang lumayan besar. Tangan kanannya pun dengan pelan mendekat dari arah belakang belalang tersebut. Hap.. dalam sekejap, tangan yang diayunkannya langsung memegang belalang. Belalang tadi lalu dimasukkan kedalam keranjang yang dipikulnya. ’’Butuh kejelian untuk bisa menangkap belalang ini, karena warna tubuhnya sama dengan warna daun selain itu gelapnya malam juga terkadang mempersulit pencarian,’’ tuturnya.
Sudah ada lima belas ekor belalang yang ditangpaknya malam itu. Namun Antonius terus melawan dinginnya malam untuk mencari belalang lebih banyak lagi.
Pencarian selama semalaman itu akhirnya mendapatkan banyak belalang di keranjangnya. Antonius pun pulang. Sesampainya di rumah, ia lalu menyaipak wajan di perapiannya. Sebagian bumbu-bumbu yang sudah diaduk oleh Sami, 37, istrinya langsung dimasukkan kedalam wajan. Proses pembuatan camilan belalang sangat sederhana dan menggunakan alat yang sangat tradisional. Belalang yang
berhasil ditangkap dihilangkan pada bagian sayap, dan memotong kakinya yang berduri. setelah itu di bersihkan bagian kotoran dalam tubuh
belalang hingga bersih. Lalu di cuci dengan air hingga bersih. Setelah semua proses pembersihan selesai, kemudian mulailah proses memasak belalang dilakukan.
untuk memasaknya berbagai bumbu masakan diperlukan
agar rasanya gurih dan lezat seperti cabe, bawang merah,bawang putih, kemiri dan sedikit bumbu penyedap. Proses masak melalui dua tahap, yakni tahap pertama
penggorengan tanpa bumbu hingga membutuhkan waktu lima hingga
sepuluh menit, sampai belalang mengeras dan kering. Sesudah belalang kering, kemudian digoreng dan dicampur dengan bumbu yang sudah disiapkan dengan pengapian yang
tidak terlalu besar agar tidak gosong. Proses ini membutuhkan waktu tiga hingga enam menit, setelah tercampur semua, diangkat dan siap di bungkus, dan dipasarkan.
Antonius mengakui, pekerjaan menjual belalang itu hanya sambilan. Karena, tidak setiap saat belalang bisa didapat. Biasanya, setiap tahun hanya ada satu musim. ’’Belalang itu keluar hanya sekali dalam setahun, ya seperti bulan kayak gini ini,’’ jelasnya.
Selain dibeli para tetangga, biasanya antonius menjualnya ke warung-warung dengan harga perbungkus delapan ratus rupiah. Camilan belalang selain dipasarkan di sekitarnya
juga beberapa kota di Jawa Timur seperti Gresik, Surabaya dan Mojokerto sendiri.
Ditanya hasil penjualan belalang, bapak dua anak itu mengakui tidak tentu. Semuanya tergantung dari hasil belalang yang dibawa. Bila belalang yang dijual banyak, hasilnya juga banyak. “Yang mencari belalang, saya . Kalau istri kebagian tugas menjual saja,” ujarnya.
Berapa harga belalang yang ditawarkan jika dijual hingga luar kota? Dengan malu-malu Sami mengungkapkan, setiap rentengnya dijual seharga Rp 10 ribu. Setiap reteng berisi 200 ekor belalang. ’’Setiap harinya, kita bisa dapat minimal Rp 50 ribu’’ ungkapnya.
Antonius menceritakan, ide awal pembuatan camilan belalang bermula saat antonius dan istrinya berjalan-jalan di sekitar desa mereka yang merupakan arela persawahan yang ditanami jagung dan padi. Tanpa sengaja bapak dua anak ini menangkapi belalang yang sedang banyak hinggap di padi dan jagung, lalu membawanya pulang dan memasaknya. Karena kelebihan, akhirnya ia menitipkan camilan belalang ke warung-warung tetangganya. Hasilnya warga sekitar desa banyak yang menyukianya. Antonius memulai usahanya sejak sepuluh tahun lalu tahun 1999 dengan modal awal pinjaman dari para tetangga sebesar lima puluh ribu rupiah.








Tidak ada komentar: