Guru Dituntut Sabar, Selalu Ribut dan Berlarian saat Ceramah
Banyak kegiatan yang bisa diisi selama bulan Ramadan ini. Hal tersebut juga dilakukan oleh anak-anak SDLB Seduri, Mojosari. Meskipun riuh rendah, namun anak berkebutuhan khusus (ABK) SDLB ini antusias mengikuti acara kegiatan di bulan suci.
AIRLANGGA, Mojosari
KECERIAAN sangat terasa di halaman SDLB Seduri Mojosari kemarin. Puluhan anak-anak berusia sekitar 7 hingga 12 tahun tampak rapi memakai busana muslim. Mereka tampak senang dengan pakaian yang dikenakannya karena tidak setiap hari anak-anak ini mengenakan pakaian muslim. Ada yang merasa senang sambil memamerkan kepada teman-temannya, ada pula yang masih risih saat seorang siswi mengenakan jilbab.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00. Sekitar 130 anak-anak mulai memasuki satu ruangan kelas. Di sana, mereka duduk bersila. Meski para guru menyuruh untuk tenang, namun satu dua siswa masih tampak bersenda gurau. Saat anak yang ramai didekati seorang guru, barulah suasana mulai tenang.
Saat itulah Mashudi, salah seorang pengajar mulai masuk kelas. ’’Semuanya puasa tidak? Siapa yang tidak puasa?’’ sapa Mashudi kepada anbak didiknya yang dijawab,’’Yaaa...!’’ secara serentak.
’’Kalau puasa kok masih ada yang minum di sana,’’ ujarnya sambil menunjuk ke salah soerang murid yang tampak asyik menikmati minuman susu kotak. Suasana pun semakin cair saat tawa anak-anak ini terdengar.
Mashudi mulai menyampaikan materinya tentang syarat sah puasa bagi muslim. ’’Coba tebak, apa syarat sah yang pertama,’’ tanyanya kepada anak-anak. Dengan gaya yang kocak, Mashudi mulai menjelaskan syarat sah berpuasa mulai pertama hingga akhir.
Di setiap materi yang disampaikan, selalu disampaikan dengan gaya kocak hingga dengan mudah dicerna. Suara tawa anak-anak semakin kencang terdengar saat Mashudi memasukkan tas salah seorang siswa ke dalam perutnya.
’’Kalau perempuan hamil tidak wajib berpuasa, betul tidak?’’ tanyanya sambil memeragakan perempuan yang sedang hamil. Begitu juga saat Mashudi memeragakan gaya orang mabuk. Dengan berjalan sempoyongan ke arah para murid, Mashudi memberikan pesan kalau orang yang puasa haruslah yang berakal sehat. ’’Kalau mabuk tidak boleh puasa,’’ ujarnya yang disambut tawa anak-anak.
’’Untuk menyampaikan pesan kepada murid-murid memang harus seperti itu, kalau perlu diperagakan dengan bahasa tubuh karena di sini juga ada siswa yang tunarungu,’’ terang Mashudi. Selain dengan metode pembelajaran tersebut, parea guru juga dituntut untuk sabar.
’’Mereka ini siswa yang bisa diajak komunikasi tentunya dengan cara yang berbeda dengan anak-anak lainnya,’’ ungkapnya.
Selama bulan puasa, SDLB memamg memberikan pembelajaran agama Islam intensif kepada para siswanya. Pada praktiknya, kegiatan ramadhan ini dilaksanakan selama lima hari mulai Selasa (8/9) hingga Sabtu (12/9).
Materi yang diajarkan beragam mulai baca Alquran hingga ceramah. Mashudi mengakui, anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ditangani memiliki kemampuan terbatas dalam menamatkan puasa. Namun yang menjadi target penanaman ilmu agama terhadap ABK tersebut setidaknya anak mengenal teknis puasa yang diawali dengan makan sahur dan diakhiri dengan berbuka.
’’Selain itu amalan-amalan yang harus dilakukan selama berpuasa,’’ ujarnya. Menurut Mashudi, kegiatan ini sengaja dilakukan untuk memberikan pelatihan, motivasi dan pencerahan bagi siswa SLB.
Para peserta yang mengikuti kegiatan ini sekitar 130 anak. Mereka terdiri dari 4 siswa penyandang tunanetra, 39 siswa penyandang tunarungu-wicara, 74 siswa penyandang tunagrahita dan 11 siswa penyandang tundadaksa.
’’Beberapa kegiatan dalam Pondok Ramadan tahun ini dengan menghadirkan beberapa pembimbing yang memang piawai di bidangnya,’’ ujar Mashudi. Dengan penuh semangat, para siswa kemudian dibagi kedalam beberapa kelompok sesuai dengan tingkat pendidikan masing-masing untuk mengikuti sejumlah kegiatan bersama beberapa pembimbing yang sudah dipersiapkan.
Beberapa kegiatan bernuansakan Islami, mulai dari belajar salat, menghafal Alquran, sampai dengan belajar membaca Alquran dihadirkan dan wajib diikuti oleh siswa-siswa.
Meski tidak mudah, para guru berupaya menjelaskan materi-materi keagamaan kepada 130 orang siswa SLB. Materi keagamaan lebih mengedepankan kebersamaan dan kepercayaan.
Diharapkan, setelah kegiatan ini, kepercayaan diri para siswa SLB ini dapat meningkat, sehingga mereka dapat menyongsong kehidupan lebih cerah. ’’Kegiatan ini memang diperuntukkan siswa-siswa cacat netra. Kami berharap dimasa depan nanti, mereka punya sedikit bekal tentang pelajaran agama. Selain itu, kami juga ingin memberikan anak-anak pelajaran agama dengan praktik secara langsung,’’ ujar Mashudi. Dia menambahkan bahwa kegiatan serupa tahun lalu pernah digelar dan diikuti juga oleh seluruh siswa.
Meskipun diselenggarakan setiap tahun namun selalu ada yang menarik, dan mengesankan di setiap kegiatan. Pengejaran beberapa anak yang malas mengikuti kegiatan, selalu ada saja alasan yang diungkapkan.
Ada yang bersembunyi, pulang, atau berputar saja mengelilingi sekolah hingga akhirnya selesai kegiatan. Namun didalam banyak juga siswa bersemangat, dan gembira mendengarkan nasehat yang disampaikan guru, meskipun terkadang bermain atau bicara sendiri.
Mereka senang mengikuti salat berjamaah, meskipun sambil tengok kanan kiri, atau saling mendorong. Demikianlah, mengajar anak berkebutuhan khusus merupakan sebuah seni yang butuh perasaan, kasih sayang, ketrampilan, juga ilmu.
Selengkapnya...
10.26.2009
Aktivitas Ramadan Bersama Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) SDLB Mojosari
8.05.2009
MENGINTIP AKTIVITAS KOMUNITA GIRILAJA

Mengentas Pengamen Jalanan dan Tukang Kopi Jadi Musisi Kontemporer
Menjadi musisi yang kreatif, tak harus menjalani pendidikan khusus dari lembaga musik. Komunitas sederhana bernama Girilaja membuktikan jika mereka mampu menjadi seniman musik sungguhan
JARUM jam menunjukkan pukul 19.00. Sebuah warung kopi sederhana di Jalan Empunala, Gang Bhakti, Kecamatan Magersari Kota Mojokerto tampak mulai ramai. Beberapa orang terlihat sibuk menyiapkan sejumlah alat musik akustik di sebuah pekarangan kosong. Satu persatu, alat musik tertata apik di atas alas yang terbuat dari sisa papan reklame itu.
Wajah-wajah serius tapi santai yang terdiri dari beberapa pria muda, tua, setengah baya, dan seorang perempuan itu mulai menjalankan rutinitasnya setiap minggu. Masing-masing dari mereka memegang alat musik yang memang sudah menjadi teman latihannya. Sebuah syair lagu mulai dilantunkan dengan irama yang mampu membakar semangat.
Dua buah gitar, bass akustik, kendang, bongo, gamelan, cabassa, dan seperangkat gong itu menghasilkan jenis musik kontemporer yang tak lazim, namun sangat harmonis. Bait-bait lagu ciptaan mereka itu seakan lekat dengan hatinya. Suara koor yang keluar dari setiap mulut pemainnya menandakan jika para musisi ini bukan seniman biasa.
Selain kualitas musik yang dibawakan, gelar bukan ”seniman biasa” itu lantaran latarbelakang para pemainnya. Mulai dari pengamen, tukang parkir, pedagang pasar, hingga penjual kopi. Dari latarbelakang yang jauh dari nafas seniman itulah, mereka justru mampu menciptakan sebuah warna musik baru, namun tetap dalam bungkus musik kontempore. ”Dengan perangkat alat musik seperti ini memang sudah biasa. Tapi kami memiliki warna yang beda,” ungkap Erwan Affandiono, 47, salah satu anggota komunitas Girilaja yang juga sebagai pengarah musik.
Dia lantas membeber letak perbedaan musik garapannya dengan musik kontemporer lainnya. Perbedaan itu lebih mencolok dari cara memainkan gong. Lazimnya, gong merupakan alat musik dengan peran perkusi. Namun bagi Girilaja, gong itu bisa dimainkan secara utuh dan berfungsi sebagai ritem sekaligus melodis. ”Gong berjalan, itu istilah kami. Dengan gong yang selalu mengiringi perpindahan chord, menjadikan musik kami lebih indah,” kata pria 3 anak yang berprofesi menjadi penjual kopi ini.
Selain warna musik dan kualitas pemain yang bisa dibilang cukup andal, ada latarbelakang mulia dengan berdirinya komunitas Girilaja ini. Sejak berdiri tahun 1978 silam yang kini telah menelurkan generasi ke enam, komunitas ini ternyata memiliki misi khusus selain sekedar bermain musik. Di balik itu, komunitas ini mampu mengentas para pemainnya dari jeratan narkoba. Terbukti, beberapa pemain yang sebelumnya tak pernah ”sadar” itu, kini menjadi pemuda yang bersih dan kreatif.
”Dulu, mereka yang berlatarbelakang sebagai pengamen, saya tawari untuk bisa bermain musik dengan bersih. Dan itu terwujud. Kini mereka bebas dari narkoba dan justru mampu menciptakan karya-karya yang luar biasa,” ujarnya bangga, mengenang saat awal ia mendirikan komunitas ini dengan kondisi serba kekurangan peralatan. Mereka memiliki motto, ”Bermusik sampai mabuk dan bermusik tanpa mabuk”.
Akibat otak yang waras itu, kini mereka memiliki puluhan lagu hasil karya sendiri. Mereka berharap, lagu-lagu yang lebih banyak bernafas nasionalisme, sedikit kritik sosial dan cinta lingkungan itu mampu membawa perubahan ekonomi mereka. Impian itu muncul karena banyaknya kalangan yang berminat dengan lagu yang mereka buat. ”Kami ingin lebih dihargai, meski komunitas kami berasal dari kelompok pinggiran. Selain hidup bermusik, kami juga ingin mengentas ekonomi teman-teman dari lagu yang mereka buat,” harapnya.
Herman ”Doel” Effendi, Ketua komunitas Girilaja adalah sosok pemuda yang berada di garis depan nasib komunitas ini. Dengan berbagai kekurangan, ia mencoba terus menjaga eksistensi komunitas unik ini. Betapa tidak, komunitas ini bertahan dengan segala keterbatas, khususnya peralatan alat musik yang dimiliki. Seperangkat gamelan yang mereka tabuh itu, bukanlah milik sendiri. ”Itu pinjaman dari BP7. Sebelumnya, kami harus mondar-mandir pinjam alat saat latihan,” ungkap Herman.
Namun, keterbatasa moda itu justru menjadikan spirit baginya untuk membuktikan bahwa komunitas ini mampu terus berdiri dan berkarya. Tak hanya dari jalur musik, ia kerap memilih jalur lain untuk menjaga ekonomi komunitas itu. ”Kita juga membuat sejumlah souvenir yang itu bisa dijual dan untuk menghidupi komunitas ini. Kami akan tetap berkreasi meski dalam kondisi serba keterbatasan. Itu tekad kami,” pungkasnya.
Selengkapnya...
5.14.2009
Bergaul dengan Punk, Komunitas Nyentrik di Pinggir Jalan Raya
Tak Mau Diganggu, Tak Mau Mengganggu
Ngepunk. Banyak orang yang menilai bahwa komunitas yang satu ini termasuk salah satu komuitas yang urakan, berandalan dan sebagainya. Namun sebenarnya, komunitas ini tak sekadar nongkrong di pinggir jalan. Apa saja perilakunya?
AIRLANGGA, Mojokerto
SEKELOMPOK orang dengan dandanan street dan rambut mohawk berbagai warna, serta mengenakan aneka aksesoris sering kita temui di beberapa sudut jalan di Mojokerto. Menamakan diri anak punk, mereka memang tak lagi menjadi sebuah pemandangan asing di kota ini.
Saat berhenti di beberapa perempatan lampu lalu lintas terkadang mereka hadir dengan gitar dan nyanyiannya untuk mendapatkan sisa uang receh dari para pengendara kendaraan bermotor. Bagi sebagian orang kejadian itu barangkali cukup mengganggu kenyamanan.
Banyak yang beranggapan bahwa anak punk yang berpenampilan seperti itu selalu berandalan, perusuh dan selalu bikin onar. Orang yang berpandangan seperti itu terhadap anak punk yang suka nongkrong di pinggir jalan biasanya hanya memandang dari segi luar mereka atau dari dandanan yang menyeramkan.
Tak jarang masyarakat resah dan sebagian lagi menganggap dari gaya hidup mereka yang mengarah ke barat-baratan. Sebenarnya, punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan ’’kita dapat melakukan sendiri”.
Jumlah anak punk di Indonesia memang tidak banyak, tapi ketika mereka turun ke jalanan, setiap mata tertarik untuk melirik gaya rambutnya yang Mohawk dengan warna-warna terang dan mencolok. Belum lagi atribut rantai yang tergantung di saku celana, sepatu boot, kaos hitam, jaket kulit penuh badge atau peniti, serta gelang berbahan kulit dan besi seperti paku yang terdapat di sekelilingnya yang menghiasi pergelangan tangannya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari busana mereka.
Begitu juga dengan celana jeans super ketat yang dipadukan dengan baju lusuh, membuat image yang buruk terhadap anak punk yang anti sosial.
Anak punk, mereka kebanyakan di masyarakat biasanya dianggap sebagai sampah masyarakat. Tetapi yang sebenarnya, mereka sama dengan anak-anak lain yang ingin mencari kebebasan.
Di Mojokerto, tempat anak muda dengan berpakaian nyentrik ini pun banyak. Contohnya adalah perempatan Sooko, perempatan Jl Kenanten serta perempatan Jl Jayanegara. Umumnya, remaja yang rata-rata berusia belasan tahun ini berkumpul dengan sesama komunitasnya.
Seperti itulah yang sehari-hari dilakukan oleh lima pemuda punk yang kemarin sempat terjaring razia Dinas Sosial Kabupaten Mojokerto. Meski terjaring razia, kelima pemuda ini tampak tenang, seolah-olah, razia adalah hal yang biasa mereka hadapi setiap harinya.
Duduk di sebuah sudut ruangan, kelima pemuda punk beraliran street punk tampak menikmati sebatang rokok sambil bersenda gurau dengan temannya.
Memang tidak mudah mendekati kelima pemuda dengan gaya bebas mereka. Termasuk saat Radar Mojokerto berusaha melakukan wawancara. Kesan tertutup sangat kentara diperlihatkan kelimanya. Hal ini sangatlah wajar mengingat mereka hanya bergaul dengan sesama komunitasnya.
Setelah melakukan pendekatan, kelimanya akhirnya mau dilakukan wawancara. Suasana hangat pun mulai terasa saat salah satu pemuda mulai bercerita tentang kehidupan punk.
Muhammad Arif, salah satu anggota komunitas punk mengatakan, pemuda punk tidaklah memiliki tempat tinggal. ’’Kami memang selalu berpindah-pindah tempat dari satu kota ke kota yang lainnya,’’ terang pemuda berusia 19 tahun ini.
Dengan menumpang truk dan mobil pikap, anggota punk selalu berpindah dari satu kota ke kota lainnya. ’’Dalam satu kota biasanya tiga sampai lima hari, tergantung apa sudah bosan atau tidak,’’ tutur Arif.
Ia mengatakan, didalam komunitas punk yang ada hanyalah kebebasan tanpa ada perasaan tertekan. ’’Kami tidak suka mengganggu terhadap warga lainnya, ya intinya kami tidak akan membuat gara-gara, tapi kami juga tidak mau diganggu,’’ terang Arif.
Ia sendiri sudah dua tahun ini tinggal di jalanan sebagai anak punk. Hari-harinya dilalui dengan berpindah tempat bdari satu tempat ke tempat lain. keluarga Arif sendiri sudah mengetahui kalau ia memilih hidupnya menjadi anggota punk. ’’Awalnya mereka keberatan, tapi karena saya memang nekat, keluarga tidak bisa melarang lagi,’’ terang pemuda asal Kecamatan Manyar, Gresik ini.
Sama halnya dengan Muhammad Arif, salah satu anggota punk lainnya, Wili, 19, asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat juga mengatakan hal yang sama. Bahkan, bungsu dari dua bersaudara ini mengatakan kalau ia dan kakaknya adalah anggota komunitas punk. Ia sendiri sudah sejak lama menjadi anggota punk. ’’Keluarga saya tidak kaget lagi, karena keluarga saya memang keluarga rock n roll,’’ ujarnya yang disambut tawa keempat temannya.
Meski selalu berpakaian yang memberi kesan urakan dan tinggal di pinggir jalan, namun pemuda punk memiliki pekerjaan selain mengamen yang memang kerap kali mereka lakukan. ’’Saya sebenanrnya memiliki usaha sablon di Gresik, karena itu sudah menjadi pekerjaan saya yang tetap,’’ ujar Arif.
Selain usaha sablon yang dimiliki Arif, ketiga anggota punk lainnya yakni Ari, 20, asal Bengkulu, Ogud, 19, asal Pekalongan serta Baim, 19, asal Jambi juga memiliki usaha. Rata-rata mereka memiliki keahlian membuat tato dan piercing (tindik tubuh) bahkan potong rambut. Tentunya yang menggunakan jasa mereka adalah sesama komunitas anggota punk. ’’Tapi tak jarang di luar anggota punk menyewa jasa kami,’’ tutur Baim.
Tentang gaya hidup mereka yang selalu berpindah-pindah, ketiganya mengatakan sudah menjadi pilihan hidup mereka seperti ini. meski selalu berpindah tempat, tapi ada satu yang dirasakan sesama anggota punk. Yakni rasa kebersamaan dan kekompakan yang sulit. Dengan adanya rasa kebersamaan itu, tak jarang antarsesama anggota punk bisa saling akrab meski sebelumnya tidak bertemu.
Sedangkan kebebasan bagi anak punk adalah kebebasan untuk mengatur dan mengontrol dari dirinya sendiri. Jadi segala sesuatu muncul dari kesadaran diri sendiri untuk bertindak dan berbuat sesuatu. Biasanya jika mereka sudah berpikir seperti itu anak punk akan bekerja berdasarkan inisiatif dari diri sendiri dan tidak perlu diatur dan mengatur orang lain.
Pola pikir seperti itu akan menimbulkan sikap mandiri seseorang, yang dalam komunitas punk mereka biasa memakai filosofis dan semboyan DIY (Do It Yourself ) atau biasa diartikan ’’jadilah dirimu sendiri”.
Itulah salah satu nilai positif dari punk yang bisa diambil yaitu kebersamaan dan kemandirian dalam melakukan sesuatu. ’’Jadi kebebasan tidaklah diartikan sebagai tindakan semaunya sendiri akan tetapi kebebasan bertindak tapi juga harus bisa mengontrol diri sendiri agar tidak merugikan diri sendiri dan merusak orang lain,’’ terang Baim.
Sebagai simbol kebersamaan diantara anggotanya, komunitas punk memang rajin melakukan pertemuan di berbagai daerah seperti Kota Malang, Surabaya dan ajkarta. Pada umunya, saat melakukan pertemuan, mereka melakukan acara party dengan kegiatan musik aliran keras atau underground. Jangan ditanya bagaimana mereka bisa mendapatkan dana untuk membuat pertunjukkan musik tersebut. ’’Kalau ada acara party, seluruh anggota dengan sukarela memberikan sumbangan,’’ ujar Arif. Uang yang terkumpul pun tidak sedikit. Ini terbukti dari acara yang mereka adakan.
Selengkapnya...

