Tampilkan postingan dengan label cacat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cacat. Tampilkan semua postingan

10.26.2009

Kisah Suwadi yang Tergolek di Ranjang Selama 17 Tahun





Tinggal Kulit Berbalut Tulang, Wajah pun Seperti Anak Kecil

Tak ada yang bisa menolak nasib yang sudah digariskan Tuhan. Suwadi, misalnya, saat remaja sehat walafiat, tiba-tiba saja tergolek tak berdaya selama 17 tahun. Itu setelah pria berusia 36 ini mengalami kecelakaan.

AIRLANGGA, Mojoanyar


RUMAH kecil dengan tembok warna putih dan kombinasi hijau yang berada di Dusun Ngumpak, RT 1 RW 1 Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto siang kemarin nampak sepi. Tidak ada aktivitas apapun di luar rumah. Begitu juga dengan rumah yang berada di kanan kirinya.
Meski hari itu panas terik matahari begitu menyengat, namun terasa sejuk di dalam rumah yang terbuat dari perpaduan antara bambu dan tembok.
Sesosok perempuan berusia 28 tahun keluar dari dalam rumah sambil menyapa koran ini. ’’Sebentar ibu masih sembahyang, silakan duduk,’’ ujar perempuan bernama Sukayanti. Yanti, sapaan Sukayanti adalah adik dari Suwadi.
Sepuluh menit kemudian, pasangan suami istri, Sapari dan Sukaelah keluar menyapa ramah. ’’Beginilah keadaan rumah kami,’’ujar Sapari, ayah dari Suwadi.
Sapari pun mengantarkan koran ini ke sebuah kamar berukuran 4x4 meter yang berada di dekat ruang tamu. Di kamar inilah Suwadi terbaring tidak berdaya. Sebuah dipan berukuran panjang dua meter dengan alas anyaman bambu setia menemani pra berusia 37 tahun ini.
Selain menjadi tempat ’’naungan’’ Suwadi, di kamar ini juga digunakan sebagai dapur. Hal ini terlihat dari banyaknya perabotan seperti gelas, piring dan alat memasak yang disimpan di dalam kamar. Sukaelah memiliki alasan khusus menjadikan kamar anak kesayangannya sebagai dapur. Karena sehari-hari berada didapur, Sukaelah juga tidak mau berada jauh dari anaknya. Mengingat kondisi anaknya yang selalu membutuhkan perhatian dari sang ibu.
Kondisi Suwadi memang memprihatinkan. Tubuhnya nampak kurus. Bahkan pria yang mestinya sudah cukup dewasa ini sama sekali tidak nampak sebagai pria dewasa. Dia malah terkulai dengan tubuh yang kurus.
Malah dari segi fisik pria berusia 36 tahun ini nampak seperti anak-anak yang baru duduk di SD. Tubuhnya mungil. Parahnya lagi, dia hanya bisa tertidur lemas di pembaringan. Jangankan untuk berdiri, duduk dan bicara saja pria malang ini tidak mampu.
Malah ketika koran ini mampir di rumahnya dan sempat mengambil foto di kamarnya, Suwadi nampak tidak ada reaksi. Tinggi badannya sendiri hanya sekitar satu setengah meter dan beratnya pun tidak lebih dari 20 Kg.
Suwadi sendiri adalah anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Sapari, 77, dan Sukaleah, 68. ’’Kondisi saya memang seperti ini, tidak bisa berjalan. Bersalaman saja sulit,’’ ujar Suwadi dengan nada bicara yang kurang jelas. Kondisi yang menimpanya membuat Suwadi kesulitan bicara jelas.
Menurut penuturan sang ayah, Suwadi waktu usia remaja sebenarnya termasuk anak normal. Bahkan saat itu dia sudah bisa berjalan dan termasuk remaja yang periang. ’’Ya seperti anak lain selalu bermain keluar rumah dengan teman-temannya,’’ ujar pria yang sehari-hari bekerja sebagai penjual kerupuk keliling ini.
Namun musibah tidak dapat ditolak oleh Suwadi. Saat berusia 20 tahun, Suwadi mengalami kecelakaan yang menyebabkan tulang di pinggulnya patah. Padahal, sebelumnya, putri pertamanya baru saja meninggal akibat penyakit jantung. Kedua musibah ini tentu saja membuat keluarga Sapari dan Sukaelah sangat bersedih. Awalnya, sang ayah menganggap luka yang diderita Suwadi tidaklah parah.
Namun Suwadi dibawa ke seorang dokter di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan atas saran teman Sapari. ’’Oleh dokter hanya disuntik. Saya tidak dijelaskan anak saya sakit apa,’’ ujarnya.
Namun rupanya penyakit yang diderita anaknya tidak kunjung sembuh. Bahkan cenderung semakin parah. Suwadi sampai tidak bisa berjalan dengan sempurna.
Karena melihat kondisi anak kesayanganya ada keganjilan, Sapari langsung mengajak buah hatinya untuk berobat ke salah satu tabib pengobatan alternatif di Jawa Tengah. ’’Saya lupa nama tabibnya. Dia praktik di Jawa Tengah,’’ ujarnya sambil mengingat-ingat.
Oleh tabib, sang anak disebutkan dalam kondisi sehat-sehat saja. Namun kenyatannya, makin lama kondisi anaknya kian parah. Malah selang beberapa bulan kedua kakinya lemas. ’’Awalnya sempat panas, kemudian lemas,’’ ujar Sukaelah menimpali pembicaraan suaminya.
Karena khawatir dengan kondisi anaknya mereka pun memutuskan untuk membawa Suwadi ke dukun pijat. ’’Kami sempat lama berobat di dukun pijat. Terkadang seminggu sekali ke sana. Pengobatan sendiri kami lakukan hampir selama satu tahun. Namun tetap tidak ada perobahan,’’ ungkap dia.
Malah, kata Sukaelah, kondisinya semakin parah. Selain lumpuh, kedua kaki dan tanganya juga lemas. Untuk bangun saja Suwadi tidak bisa. Bahkan seiring dengan waktu kesehatannya makin memburuk dan kini dia juga tidak bisa bicara.
Padahal, seluruh hartanya sudah habis setelah mengobati penyakit jantung putri pertamanya yang meninggal. ’’Tanah saya sudah dijual semua untuk mengobati putri saya yang sudah tiada,’’ ujarnya.
Sekarang, kondisinya lebih parah karena untuk duduk dan makan saja tidak mampu. Untuk itu kedua orang tuanya dengan telaten menyuapi putranya. Tidak sampai di sana. Kedua orang tuanya juga membantu saat Suwadi buang air besar dan air kecil.
’’Makan, minum dan buang air yang hanya dilakukan di dalam kamar saja,’’ ujar Sukaelah.
Lalu apa sebenarnya penyakit aneh yang menggerogoti Suwadi tersebut. Menurut Sukayanti dan kedua orang tuanya tidak tahu persis. Ini lantaran dokter dan puluhan tabib serta dukun pijat tidak pernah memberitahu penyakit yang diderita Suwadi.
Sapari sendiri sempat menanyakan kepada orang pintar tentang anaknya tersebut. Sapari sendiri kini hanya bisa pasrah. Kalau untuk kesembuhan anaknya dia pun tidak bisa berharap banyak.
Ini mengingat berbagai upaya telah dia lakukan. ’’Lima tahun saya berusaha mengobati anak saya. Sekarang saya hanya bisa pasrah saja,’’ ujarnya. Sebagai penjual kerupuk keliling yang memiliki pendapatan antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per hari, Sapari mengaku tidak bisa lagi membiayai pengobatan anaknya.
Hanya saja pihaknya berharap kepada para dermawan dan pemerintah untuk bisa memberikan bantuan untuk makan dan pengobatan anaknya sehari-hari. Anak kesayangannya ini hanya bisa makan sedikit nasi.
Sementara untuk buang air besar dan kecil dilakukan di dalam kamar. Sementara untuk mandi keduanya dimandikan oleh kedua orang tuanya. ’’Terkadang seminggu sekali baru mandi,’’ ujar Sukaelah.
’’Ya sekarang ini untuk beli lauk pauk kesulitan, terlebih sekarang ini cukup mahal,’’ ujarnya sambil berharap kalau ada dermawan yang terketuk untuk membantunya. Suwadi sebenarnya adalah remaja yang sangat aktif dan pintar.
Dia memiliki keahlian otomotif. ’’Sebelum sakit, dia bekerja di bengkel di Pasinan,’’ terang ayahnya.
Di dalam rumah yang sederhana, selain tinggal bersama orang tuanya, Suwadi juga tinggal bersama adiknya, Sukayanti bersama suaminya Mustakim. Adik Suwadi, Sunyoto juga tinggal bersamanya. Hanya saja, Sunyoto yang bekerja serabutan jarang terlihat di rumah. (yr)

Selengkapnya...

Aktivitas Ramadan Bersama Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) SDLB Mojosari





Guru Dituntut Sabar, Selalu Ribut dan Berlarian saat Ceramah

Banyak kegiatan yang bisa diisi selama bulan Ramadan ini. Hal tersebut juga dilakukan oleh anak-anak SDLB Seduri, Mojosari. Meskipun riuh rendah, namun anak berkebutuhan khusus (ABK) SDLB ini antusias mengikuti acara kegiatan di bulan suci.

AIRLANGGA, Mojosari



KECERIAAN sangat terasa di halaman SDLB Seduri Mojosari kemarin. Puluhan anak-anak berusia sekitar 7 hingga 12 tahun tampak rapi memakai busana muslim. Mereka tampak senang dengan pakaian yang dikenakannya karena tidak setiap hari anak-anak ini mengenakan pakaian muslim. Ada yang merasa senang sambil memamerkan kepada teman-temannya, ada pula yang masih risih saat seorang siswi mengenakan jilbab.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00. Sekitar 130 anak-anak mulai memasuki satu ruangan kelas. Di sana, mereka duduk bersila. Meski para guru menyuruh untuk tenang, namun satu dua siswa masih tampak bersenda gurau. Saat anak yang ramai didekati seorang guru, barulah suasana mulai tenang.
Saat itulah Mashudi, salah seorang pengajar mulai masuk kelas. ’’Semuanya puasa tidak? Siapa yang tidak puasa?’’ sapa Mashudi kepada anbak didiknya yang dijawab,’’Yaaa...!’’ secara serentak.
’’Kalau puasa kok masih ada yang minum di sana,’’ ujarnya sambil menunjuk ke salah soerang murid yang tampak asyik menikmati minuman susu kotak. Suasana pun semakin cair saat tawa anak-anak ini terdengar.
Mashudi mulai menyampaikan materinya tentang syarat sah puasa bagi muslim. ’’Coba tebak, apa syarat sah yang pertama,’’ tanyanya kepada anak-anak. Dengan gaya yang kocak, Mashudi mulai menjelaskan syarat sah berpuasa mulai pertama hingga akhir.
Di setiap materi yang disampaikan, selalu disampaikan dengan gaya kocak hingga dengan mudah dicerna. Suara tawa anak-anak semakin kencang terdengar saat Mashudi memasukkan tas salah seorang siswa ke dalam perutnya.
’’Kalau perempuan hamil tidak wajib berpuasa, betul tidak?’’ tanyanya sambil memeragakan perempuan yang sedang hamil. Begitu juga saat Mashudi memeragakan gaya orang mabuk. Dengan berjalan sempoyongan ke arah para murid, Mashudi memberikan pesan kalau orang yang puasa haruslah yang berakal sehat. ’’Kalau mabuk tidak boleh puasa,’’ ujarnya yang disambut tawa anak-anak.
’’Untuk menyampaikan pesan kepada murid-murid memang harus seperti itu, kalau perlu diperagakan dengan bahasa tubuh karena di sini juga ada siswa yang tunarungu,’’ terang Mashudi. Selain dengan metode pembelajaran tersebut, parea guru juga dituntut untuk sabar.
’’Mereka ini siswa yang bisa diajak komunikasi tentunya dengan cara yang berbeda dengan anak-anak lainnya,’’ ungkapnya.
Selama bulan puasa, SDLB memamg memberikan pembelajaran agama Islam intensif kepada para siswanya. Pada praktiknya, kegiatan ramadhan ini dilaksanakan selama lima hari mulai Selasa (8/9) hingga Sabtu (12/9).
Materi yang diajarkan beragam mulai baca Alquran hingga ceramah. Mashudi mengakui, anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ditangani memiliki kemampuan terbatas dalam menamatkan puasa. Namun yang menjadi target penanaman ilmu agama terhadap ABK tersebut setidaknya anak mengenal teknis puasa yang diawali dengan makan sahur dan diakhiri dengan berbuka.
’’Selain itu amalan-amalan yang harus dilakukan selama berpuasa,’’ ujarnya. Menurut Mashudi, kegiatan ini sengaja dilakukan untuk memberikan pelatihan, motivasi dan pencerahan bagi siswa SLB.
Para peserta yang mengikuti kegiatan ini sekitar 130 anak. Mereka terdiri dari 4 siswa penyandang tunanetra, 39 siswa penyandang tunarungu-wicara, 74 siswa penyandang tunagrahita dan 11 siswa penyandang tundadaksa.
’’Beberapa kegiatan dalam Pondok Ramadan tahun ini dengan menghadirkan beberapa pembimbing yang memang piawai di bidangnya,’’ ujar Mashudi. Dengan penuh semangat, para siswa kemudian dibagi kedalam beberapa kelompok sesuai dengan tingkat pendidikan masing-masing untuk mengikuti sejumlah kegiatan bersama beberapa pembimbing yang sudah dipersiapkan.
Beberapa kegiatan bernuansakan Islami, mulai dari belajar salat, menghafal Alquran, sampai dengan belajar membaca Alquran dihadirkan dan wajib diikuti oleh siswa-siswa.
Meski tidak mudah, para guru berupaya menjelaskan materi-materi keagamaan kepada 130 orang siswa SLB. Materi keagamaan lebih mengedepankan kebersamaan dan kepercayaan.
Diharapkan, setelah kegiatan ini, kepercayaan diri para siswa SLB ini dapat meningkat, sehingga mereka dapat menyongsong kehidupan lebih cerah. ’’Kegiatan ini memang diperuntukkan siswa-siswa cacat netra. Kami berharap dimasa depan nanti, mereka punya sedikit bekal tentang pelajaran agama. Selain itu, kami juga ingin memberikan anak-anak pelajaran agama dengan praktik secara langsung,’’ ujar Mashudi. Dia menambahkan bahwa kegiatan serupa tahun lalu pernah digelar dan diikuti juga oleh seluruh siswa.
Meskipun diselenggarakan setiap tahun namun selalu ada yang menarik, dan mengesankan di setiap kegiatan. Pengejaran beberapa anak yang malas mengikuti kegiatan, selalu ada saja alasan yang diungkapkan.
Ada yang bersembunyi, pulang, atau berputar saja mengelilingi sekolah hingga akhirnya selesai kegiatan. Namun didalam banyak juga siswa bersemangat, dan gembira mendengarkan nasehat yang disampaikan guru, meskipun terkadang bermain atau bicara sendiri.
Mereka senang mengikuti salat berjamaah, meskipun sambil tengok kanan kiri, atau saling mendorong. Demikianlah, mengajar anak berkebutuhan khusus merupakan sebuah seni yang butuh perasaan, kasih sayang, ketrampilan, juga ilmu.





Selengkapnya...