8.10.2009

Berkunjung ke Desa Pengumpul Sampah di Trowulan





Sudah Terbiasa dengan Sampah, Jadi Usaha Turun Temurun

Bagi sebagian daerah, sampah bisa menjadi persoalan tersendiri. Bahkan, sampah juga bisa mengakibatkan konflik. Namun, di Desa Kejagan, Kecamatan Trowulan, sampah bisa menjadi sumber penghidupan mayoritas warga.

AIRLANGGA, Mojokerto



RUMAH-rumah bertingkat dengan tumpukan sampah yang tinggi terlihat jelas di sepanjang jalan menuju Desa Kejagan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Aktivitas membongkar sampah di atas truk kerapkali terlihat di sepanjang jalan menuju desa ini.
Siang itu, di salah satu rumah permanen, puluhan orang tampak terlihat sibuk membawa tumpukan karung berisi sampah-sampah kering ke atas sebuah truk. Tubuh laki-laki berbadan kekar dengan mengenakan kaos singlet berwarna putih ini tidak sedikit pun merasa lelah apalagi jijik. Padahal, mereka tahu yang diangkutnya keatas truk adalah sampah-sampah.
’’Ya dari mengangkut sampah inilah saya bisa mendapatkan uang, lumayan daripada menganggur di rumah,’’ terang Sugito, 23, pemuda desa setempat. Sugito adalah salah satu pemuda di Desa Kejagan yang bisa mencari uang dengan sampah.
Tidak jauh dari aktivitas Sugito dan teman-temannya, pasangan suami istri, Ponawi dan Sumarni tampak serius melepas tutup gelas plastik sisa air mineral. Satu per satu dengan cekatan keduanya melepas dan membersihkan gelas air mineral tersebut.
Ponawi yang sudah berusia 53 tahun ini mengaku sudah tujuh tahun mencari nafkah dengan menjual sampah-sampah plastik. ’’Kalau sampah plastik ini didatangkan dari Pasuruan, nantinya dijual lagi ke pabrik-pabrik di Surabaya ataupun di Sidoarjo,’’ terang kakek dari empat cucu ini.
Hal senada juga dikatakan oleh Sumarni. ’’Selain sampah plastik, kami juga menerima sampah sandal bahkan tulang sapi,’’ ujarnya. Nenek berusia 50 tahun ini mengaku, dia membeli sampah-sampah ini seharga Rp 2.500 per kilogram dan dijual lagi seharga Rp 4.000 per kilogram. ’’Belinya ya dari pemulung yang datang di sini, mereka juga kebanyakan warga di sekitar sini,’’ terangnya.
Aktivitas jual beli sampah memang selalu terjadi di desa yang terkenal dengan sebutan desa pengumpul sampah ini. Kebanyakan, mereka melakukan pekerjaan ini sejak turun temurun. Bahkan, ada sebagian mewarisi usaha orang tua mereka. ’’Saya membeli sampah-sampah awalnya juga dari orang tua, ya alhamdulillah bisa menjadi besar,’’ terang Utami, salah seorang pengepul.
Selain pengepul sampah, di desa ini juga ada yang disebut penambang sampah. Salah satunya adalah Imam, 29. Mendapatkan hasil yang menjanjikan dan bekerja dengan santai, tanpa ada paksaan ini, kata Imam, membuat teman-temannya sesama penambang sampah ingin bekerja hingga malam hari. Bahkan, ada juga penambang sampah yang belum menikah sampai malas untuk pulang ke rumah.
’’Semua ini karena bekerja di sini (mencari sampah) tidak ada paksaan dan target. Dan juga tidak ada jam kerja. Jadi, kapan saja kami boleh bekerja. Ini membuat saya senang kerja di sini,’’ kata Imam, pekerja yang masih bujangan.
Meski begitu, para penambang sampah tidak boleh asal-asalan bekerja. Mereka bekerja berkelompok sesuai tugasnya masing-masing. Ada yang menggali tumpukan sampah yang sudah menjadi kompos. Ada juga yang mengayak, dan ada yang bertugas memasukkan hasil ayakan ke dalam kantong plastik berisi antara 40-60 kilogram.
’’Kami delapan orang setiap kelompok dan ada penanggungjawabnya. Dari hasil kerja kelompok itu, setiap orang bisa mendapatkan 50 kantong setiap hari. Dari situ, setiap orang mendapat penghasilan Rp 50 ribu,’’ kata Ali, penambang sampah lainnya.
Sejak kapankah desa ini menjadi desa pengumpul sampah? Hariono, kepala Desa Kejagan menceritakan, aktivitas jual beli sampah di desa yang dipimpinnya sudah dilakukan sejak tahun 1960-an. ’’Awalnya ada seseorang bernama Haji Sadi yang membuka jual beli botol dan besi. Saat itu besi memang populer karena plastik belum banyak,’’ terang Hariono yang juga sebagai pengepul sampah ini.
Lambat laun, usaha Haji Sadi pun berkembang sehingga dia merekrut warga sekitar untuk dipekerjakan. Berawal dari sinilah warga mulai menggeluti usaha mengumpulkan sampah.
Menurut Hariono, dari 4800 jiwa penduduk Desa ini, hampir seluruhnya bekerja dari sampah. ’’Ada yang bekerja sebagai pencari sampah, sopir truk sampah ada juga pengepul sampah,’’ terang pengepul yang mempekerjakan sekitar 30 pekerja ini.
Hampir setiap rumah di lima dusun yakni Kejagan, Temenggungan, Muteran, Sidomulyo dan Wonoasri terdapat tumpukan sampah di depan rumah mereka. ’’Hampir warga sini memang senang bekerja, mereka dikenal mandiri meski mendapat penghasilan dari sampah. Makanya tidak ada warga sini yang tertarik menjadi PNS atau bekerja di luar desa,’’ terangnya.
Lalu berapa penghasilan rata-rata penduduk desanya? Hariono mencontohkan, untuk pekerja saja bisa mendapatkan upah minimal Rp 40 ribu per hari. ’’Jumlahnya bisa lebih besar dari itu,’’ terang pria yang sudah menjadi pengepul sejak tahun 1995 ini.
Dia menambahkan, kalau untuk pengepul bisa lebih besar lagi. ’’Kalau saya sehari bisa menghabiskan uang senilai Rp 25 juta untuk beli, sedangkan omzetnya ya sekitar Rp 27 juta. Meski kecil tapi sampahnya bisa habis setiap hari,’’ terangnya.
Dengan kerja dari sampah, Hariono mengungkapkan kalau masyarakat yang dipimpinnya bisa sejahtera. ’’Contohnya saja sewaktu ada rapat membahas dana swadaya beberapa waktu lalu, hasilnya bisa terkumpul Rp 35 juta, padahal kalau di desa lain mungkin hanya Rp 5 juta itu pun harus berdebat dulu,’’ ujarnya.
Hariono mengungkapkan, selama ini pemerintah memang kurang memperhatikan usaha yang dijalani warganya. ’’Selama ini warga meminjam dari bank yang bunganya besar, tidak ada pinjaman lunak,’’ terangnya.



1 komentar:

Anonim mengatakan...

RSI SAKINAH MOJOKERTO telp/sms : +6285648280307