4.09.2009

Perajin Kuda-Kudaan Kayu Bersaing Mainan Modern




Pesanan Meningkat, Masih Jadi Langganan Pelajar TK

Jenis permainan digital seperti playstation, nintendo ataupun game ternyata tak menggerus permainan tradisional. Permainan kuda-kudaan dari kayu misalnya, masih bertahan. Bagaimanakah perajinnya eksis bersaing?


AIRLANGGA, Mojokerto



SEORANG pria tampak serius memahat bongkahan kayu randu menggunakan palu dan alat pemahat. Sesekali kedua matanya mengamati bongkahan kayu yang hampir menyerupai bentuk kepala kuda, hanya saja tidak ada bentuk mata dan kuping.
Kedua tangannya terus memegang kayu tersebut untuk melihat apakah kayu yang dipahatnya sudah serasi antara bagian kanan dan kiri.
Di sekelilingya, puluhan kayu berbentuk kuda-kudaan yang setengah jadi terpajang. Sekitar dua meter dari situ, sepuluh kuda-kudaan beraneka warna yang sudah jadi dipasang untuk menarik pembeli.
Suman Wibowo, itulah nama lengkap perajin mainan kuda-kudaan yang terbuat dari kayu ini. Pria yang lahir 57 tahun lalu ini mengaku sudah 19 tahun menjadi perajin kuda-kudaan. ’’Saya memulai membuat kuda-kudaan ini pada tahun 1990 lalu,’’ ujar bapak satu anak dan dua cucu ini.
Sambil menyelesaikan kuda-kudaannya, Suman, panggilan akrabnya mulai menceritakan ia memulai menjadi pengrajin mainan anak ini. ’’Dulu, pada awal tahun 1990, di depan rumah ada pasar malam kebetulan pesertanya membawa mainan kuda-kudaan yang banyak, akhirnya saya membeli sebagian untuk dijual,’’ ujarnya.
Suman yang awalnya hanya ingin menjual kuda-kudaan yang dibelinya akhirnya seolah-olah mendapat inspirasi. ’’Kalau kita bisa membuat kenapa tidak dicoba,’’ ujarnya. Hanya dengan bermodalkan nekat dan keinginan yang kuat, ia pun membeli bahan mentah beruap kayu randu dari Malang. Dari situ, ia mulai melakukan eksperimen membuat mainan seperti kuda-kudaan yang dibelinya dari pasar malam.
Setelah beberapa kali melakukan percobaan, ia berhasil menciptakan mainan kuda-kudaan dengan bentuk yang sempurna.
Saat itulah ia memutuskan secara total menekuni dunia kerajinan mainan anak-anak. Merasa ada peluang yang lebih baik, Suman pun secara perlahan meninggalkan pekerjaannya sebagai petani. ’’Saya bosan menjadi petani, kalau menjadi perajin mainan seperti ini sepertinya prospeknya lebih bagus,’’ katanya.
Awalnya, barang yang ia produksi tidak banyak karena Suman mengaku masih belum berani memproduksi kuda-kudaan dalam jumlah banyak dengan alasan masih perlu perkenalan ke pasar.
Barang yang diproduksinya pun ia jajakan dengan berkeliling ke setiap TK (Taman Kanak-Kanak) di seluruh Kabupaten Mojokerto.
Rupanya tawaran produk yang dikenalkan pria asli Mojokerto ini disambut baik oleh seluruh TK di Kabupaten Mojokerto. ’’Setelah itu banyak yang datang ke rumah saya memesan kuda-kudaan,’’ ujarnya dengan sumringah. Pesanan pun setiap harinya selalu meningkat dari tiap bulannya.
Dengan dibantu menantunya, Agus Rianta, Suman mengerjakan kuda-kudaan mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.00. Suami dari Rubiah, 51, ini mengaku, setiap harinya ia bisa memproduksi tiga hingga lima buah kuda-kudaan. ’’Satu buah kuda-kudaan memakan waktu produksi hingga tiga hari karena saya hanya dibantu oleh menantu saya,’’ ujarnya.
Untuk proses pengerjaannya pun tidak lah terlalu sulit, namun hanya butuh keterampilan dan keuletan saja terutama dalam membuat bentuk kuda-kudaan. ’’Yang pertama-tama dilakukan yakni membentuk kayu randu dan kemiri menjadi bentuk kuda-kudaan, tahap awal yang dikerjakan bagian kepala dulu karena lebih rumit, caranya tentu saja dipotong mengikuti pola’’ ujarnya.
Setelah itu, kayu dengan bentuk setengah jadi dihaluskan terlebih dahulu dan didempul. ’’Setelah itu dicat, untuk pengecatan dilakukan dua kali,’’ terangnya. Setelah diberikan pewarnaan tahap awal, kuda-kudaan tersebut dijemur selama satu hari dan kemudian kembali dicat tahap akhir.
Setelah jadi, produk Suman ini setiap hari dipajang di show room kecilnya yang lokasinya sangat strategis di Jalan Raya Bangsal tepatnya di depan Pasar Sawahan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto yang juga jalur utama Mojokerto-Pasuruan.
Harga produk Suman ini sangat kompetitif, untuk kuda-kudaan yang kecil dibandrol harga Rp 110 ribu, untuk yang ukuran sedang mulai harga Rp 125 ribu sampai Rp 140 ribu dan untuk ukuran kuda-kudaan yang besar berbandrol Rp 250 ribu.
Setiap produk yang dihasilkannya, Suman mengaku mendapatkan keuntungan mencapai Rp 75 ribu. Jika dihitung, selama satu bulan, Suman mengaku bisa mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp 2,5 juta perbulannya. ’’Biaya produksi untuk satu unit kuda-kudaan mencapai Rp 85 ribu,’’ ujarnya.
Selain di Mojokerto, ia juga memasarkan produknya hingga ke Sidoarjo. ’’TK-TK di sana tertarik untuk membeli kuda-kudaan produksi saya,’’ ujarnya. Ia juga mengatakan, saat musim ajaran tahun baru, pesanan kuda-kudaan kepadanya bisa meningkat sepuluh kali lipat. ’’Saya terpaksa lembur dengan menantu saya,’’ katanya.
Suman mengaku, produksinya tidak terpengaruh dengan maraknya mainan modern yang kini digandrungi anak-anak. ’’Alhamdulillah, produksi saya tidak pernah menurun,’’ ujarnya.
Meski demikian, ia mengaku mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah untuk memajukan usaha kecilnya. ’’Kalau bisa ada tambahan modal karena saya ingin menambah pasar hingga ke luar kota seperti Lamongan, Madiun dan Jombang,’’ katanya.

1 komentar:

meily mengatakan...

kreatif...vi cara tuk pesan kuda tsb gmna???blz..