1.07.2009

Melongok Perempuan Penghuni Warung Remang-Remang di Pinggiran Mojokerto


Ada yang Dipaksa, Ada Pula karena Suami Terkena Penyakit






Berbagai macam faktor menjadi alasan sejumlah perempuan terjerumus ke lembah hitam. Sejuta pengalaman pahit pun mereka lalui hingga memutuskan untuk bekerja sebagai pelayan nafsu para hidung belang. Hanya terdesak kebutuhan ekonomi atau ada alasan lain?

AIRLANGGA, Mojokerto



PAGI itu, sekitar pukul 09.00, cuaca cerah membuat sejumlah petugas Kankessos Kabupaten Mojokerto serta petugas satpol PP bersemangat melakukan tugas yang diberikan atasannya. Mereka akan melakukan tugas men-sweeping para perempuan nakal yang selalu menjajakan diri di jalanan.
Tiga mobil serta dua motor bergerak menyusuri jalan menanjak menyisir warung-warung yang berada di pinggir jalan Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto.
Di salah satu warung, suasana sepi sangat terasa. Warung yang diduga merupakan warung remang-remang masih terlihat tutup. Namun, di dalam warung, tampak seorang perempuan dan seorang laki-laki di sana.
Tanpa membuang waktu, petugas pun mendatangi keduanya dan menanyakan identitas mereka. Laki-laki tersebut akhirnya dilepaskan setelah petugas mencatat identitasnya.
ST, nama perempuan itu tidak dapat menunjukkan identitasnya. Perempuan berusia 31 tahun ini adalah salah satu PSK liar yang terjaring oleh petugas Kankessos. Saat ditangkap petugas, ST tak bisa berkutik. Tanpa perlawanan, ST diangkut dengan mobil petugas menuju Kankessos.
Salah satu penjaga warung mengungkapkan, ST memang memiliki suami, dan profesinya itu atas restu sang suami. Bahkan menurut sumber yang enggan disebut namanya itu, sang suami sengaja menjual istrinya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. ’’Sudah saya peringatkan, tapi dia nekat mangkal lagi,” kata seorang ibu pemilik warung yang tak mau disebut namanya.
Di kantor Kessos, perempuan bertubuh subur ini memang mengakui kalau suaminya yang menyuruh pekerjaan tersebut. ’’Saya memang tidak mau, tapi karena dipaksa, saya menurut saja,’’ katanya dengan suara lirih.
Karena cintanya dengan sang suami dan demi menafkahi kedua anaknya, ST rela bekerja sebagai perempuan penghibur. Setiap malam ia harus berdandan menor demi memangsa para pria hidung belang.
Tidak hanya memaksa, sang suami yang tidak bekerja ini bahkan mengantarkan sang istri ke warung remang-remang untuk bekerja. Setelah sampai tempat tujuan, suami yang tidak ingin disebutkan namanya itu pulang ke rumah. ’’Suami saya kembali lagi untuk menjemput saya,’’ katanya.
Seluruh penghasilannya yang didapat ST seluruhnya diberikan kepada suaminya. Tidak jelas uang tersebut dikemanakan. ’’Kadang saya diberi kadang juga tidak,’’ ujarnya.
Hidup menjadi kupu-kupu malam juga dialami oleh MM, 31. Perempuan dengan berat badan 100 kilogram ini juga terpaksa menekuni dunia malam menjadi perempuan penghibur kaum hidung belang.
Menurutnya, ia terpaksa menjadi PSK sejak tahun 2001 lalu lantaran sang suami terkena penyakit ginjal sehingga tidak dapat memberi nafkah kedua anaknya. ’’Anak saya juga kan butuh makan dan butuh sekolah,’’ katanya dengan nada berkelakar.
Sebelum menjadi PSK, MM mengaku menjalani profesi sebagai seorang satpam di sebuah pabrik sejak tahun 1996 lalu.
Pada tahun 1999, MM harus dijodohkan oleh kedua orang tuanya. ’’Karena disuruh menikah, saya ya menikah dengan suami saya sekarang,’’ katanya.
Saat akan melamar, sang suami berjanji akan memenuhi kebutuhan hidupnya. Atas dasar itulah ia berani memutuskan keluar menjadi satpam pada tahun 2001, tepat dua tahun pernikahannya.
Namun impiannya memiliki penghidupan yang mapan hanyalah impian saja. Berbagai cobaan menimpa hidupnya. Kesulitan ekonomi semakin menerpa bahtera rumah tangganya. Tidak hanya itu, sang suami mengidap penyakit ginjal yang memaksanya hanya bisa terbaring di ranjang. Biaya pengobatan pun tidak dimiliki oleh MM.
Keputusan besar akhirnya diambil olehnya. Atas dasar tawaran dari seorang teman, MM nekat memutuskan menjadi PSK di sebuah warung tepi jalan. Di sana, ia rela menjajakan tubuhnya dijamah para pria hidung belang dengan bayaran Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu. ’’Sebenarnya saya tidak punya pilihan, tapi namanya terpaksa,’’ katanya.
Sementara itu, Kepala Kankessos, Yudha Hadi memberikan pembinaan dan bantuan kepada MM dan para PSK lainnya yang terkena razia. Yudha pun menawari MM untuk berjualan gorengan dengan bantuan yang diberikannya. ’’Saya janji tidak akan menjual diri lagi,’’ katanya bersemangat.
Untuk PSK yang dijual oleh suaminya, menindaklanjuti temuannya itu, ia mengaku akan memanggil suami ST yang identitasnya masih disembunyikan. ’’Kalau memang benar si suami ini menjual istrinya, kita akan tindak. Besok, (hari ini, Red), kita akan memanggil suaminya untuk dimintai keterangan lebih lanjut,” kata Yudha.
Dia juga mengaku, dari hasil interogasi dengan ST, warga Kota Mojokerto ini memang sengaja dijual suaminya. Dia menilai, perbuatan yang dilakukan suami ST ini merupakan tindak kekerasan terhadap perempuan. ’’Menurut pengakuan ST memang demikian. Tapi, kita akan tetap tindaklanjuti. Kita tak bisa memberikan sanksi, tapi akan kita lakukan pembinaan lebih lanjut,” tukasnya.

Tidak ada komentar: